Thursday, January 19, 2012

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Tertua di Pontianak, Kalimantan Barat

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak atau biasa disebut
dengan Masjid Jami Pontianak (Foto dari ianimaru.com)

Sejarah kota Pontianak setali tiga uang dengan sejarah Islam di kota tersebut. Sejarah Pontianak dimulai di abad ke 18 ketika Syarif Abdurrahman Alkadrie beserta para pengikut dan keluarganya membabat hutan untuk kemudian mendirikan pemukiman baru yang kemudian berkembangan menjadi kesultanan Pontianak.

Kesultanan Pontianak adalah tempat bertahtanya Sultan Hamid II, Sultan ke delapan sekaligus Sultan terahir dari kesultanan Pontianak sebelumnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia., beliau adalah penggagas dan perancang lambang Negara kita, Garuda Pancasila. Salah satu dari simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Masjid Jami Pontianak dari arah Sungai Kapuas dengan latar depan
perahu motor yang merupakan salah satu moda transportasi di 
kota Pontianak (Foto dari vivanews.com)
Di komplek keraton tempatnya bertahta berdiri megah hingga kini sebuah masjid Jami Kesultanan Pontianak yang dibangun pertama kali oleh sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Masjid yang sekaligus menjadi awal dimulainya sejarah kota Pontianak yang setiap tahun diperingati sebagai hari lahir kota Pontianak, ibukota Propinsi Kalimantan Barat. Masjid Jami tua tersebut kini dinamai sesuai dengan namanya sebagai Masjid Sultan Abdurrahman – Pontianak.

Lokasi Masjid Sultan Abdurrahman

Masjid Sultan Abdurrahman berada di dalam lingkup Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, propinsi Kalimantan Barat. Lokasi masjid tua ini berada di kawasan pemukiman padat penduduk dengan pasar Ikan yang begitu dekat ke bangunan masjid yang menghadap ke Sungai Kapuas. Masjid Jami’ dapat di jangkau dengan menggunakan sampan dari pelabuhan Seng Hie atau dengan kendaraan darat melewati jembatan kapuas.

Koordinat geografi : -0°1'36"N   109°20'51"E


Sejarah Kota Pontianak

Sejarah kota Pontianak dimulai dari 23 Oktober 1771 bertepatan dengan tanggal 24 Rajab 1181 Hijriah ketika rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk membangun tempat tinggal dan sebuah surau sederhana. Tempat tersebut diberi nama Pontianak. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Kota Pontianak berkembang menjadi kota Perdagangan dan Pelabuhan.

Dalam bahasa Melayu, Pontianak berarti hantu kuntilanak. Dalam sejarahnya konon pada saat awal pembukaan kawasan ini untuk dijadikan kawasan pemukiman baru oleh rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie seringkali diganggu oleh hantu kuntilanak, itu sebabnya kawasan tersebut kemudian terkenal dengan nama Pontianak.

Foto dari pontianakpost
Pada hari senin tanggal 8 Sya’ban 1192H, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pertama. Kesultanannya sendiri kemudian terkenal dengan nama kesultanan Kadriah, dinisbatkan kepada namanya. Tercatat 8 Sultan pernah berkuasa di kesultanan Pontianak sejak dari Sultan pertama Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808 hingga sultan terahir atau sultan ke delapan Syarif Hamid Alkadrie. Sultan terahir ini terkenal juga dengan nama  Sultan Hamid II yang sudah disinggung di awal tulisan ini.

Letak pusat pemerintahan kesultanan Kadriah ditandai dengan berdirinya bangunan Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadriah, kawasan masjid dan istana ini sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Kota Pontianak propinsi Kalimantan Barat.

Sejarah Masjid Sultan Syarif Abdurrahman – Pontianak

Sultan Hamid II

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman ketika pertama kali membuka kawasan hutan persimpangan tiga Sungai Landak Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas tahun 1771. Tempat yang kini dikenal sebagai kota Pontianak. Sultan Syarif Abdurrahman juga membangun Istana tak jauh dari masjid ini.

Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah seorang keturunan Arab, anak Al Habib Husein, penyebar agama Islam dari Semarang (Jawa Tengah). Al Habib Husein datang ke Kerajaan Matan pada 1733 Masehi. Al Habib Husein menikah dengan putri Raja Matan (kini Kabupaten Ketapang) Sultan Kamaludin, bernama Nyai Tua, dan beliau diangkat sebagai Mufti Kerajaan. Dari pernikahan itu lahirlah Syarif Abdurrahman Alkadrie. 

Dalam perkembangannya, kemudian terjadi perselisihan antara Sultan dengan al-Habib Husein. Akhirnya, al-Habib memutuskan untuk meninggalkan Kerajaan Matan, pindah ke Kerajaan Mempawah dan bermukim di kerajaan tersebut hingga ia meninggal dunia. Setelah al-Habib Husein meninggal dunia, posisinya digantikan oleh anaknya. Syarif Abdurrahman. Akan tetapi, Syarif Abdurrahman kemudian memutuskan pergi dari Mempawah dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam.


Foto dari panoramio

Syarif Abdurrahman melakukan perjalanan dari Mempawah dengan menyusuri sungai Kapuas. Ikut dalam rombongannya sejumlah orang yang menumpang 14 perahu. Rombongan Abdurrahman sampai di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak pada 23 Oktober 1771. Kemudian membuka dan menebas hutan di dekat muara itu untuk dijadikan daerah permukiman baru, termasuk bangunan Masjid dan Istana dan membentuk Kesultanan Pontianak. 


Masjid yang dibangun aslinya beratap rumbia dan konstruksinya dari kayu. Ketika Syarif Abdurrahman meninggal pada 1808 Masehi kekuasaanya diteruskan sementara waktu oleh adiknya yang bernama Syarif Kasim karena putera Syarif Abdurrahman yang bernama Syarif Usman masih kanak-kanak ketika ayahnya meninggal dunia. Setelah Syarif Usman dewasa, dia menggantikan pamannya sebagai Sultan Pontianak pada tahun 1822 sampai dengan 1855 Masehi. Pembangunan masjid kemudian dilanjutkan Syarif Usman, dan dinamakan sebagai Masjid Abdurrahman, sebagai penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa ayahnya.

Sejak masjid ini didirikan, selain berfungsi sebagai pusat ibadah, juga digunakan sebagai basis penyebaran Agama Islam di kawasan tersebut. Beberapa ulama terkenal yang pernah mengajarkan Agama Islam di masjid ini di antaranya Muhammad al-Kadri, Habib Abdullah Zawawi, Syekh Zawawi, Syekh Madani, H Ismail Jabbar dan H Ismail Kelantan.

Arsitektural Masjid Sultan Syarif Abdurrahman – Pontianak

Subuh di Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman (foto dari panoramio)
Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman berdenah segi empat berukuran 33,27 meter x 27,74 meter, dikelilingi oleh selasar melingkar berpagar dapat menampung sekitar 1.500 jamaah salat sekaligus. Bagian dalam masjid terdiri dari 26 shaf, setiap shaf dapat menampung sekitar 50 jemaah ditambah dengan area selasarnya. 

Masjid akan penuh terisi jamaah salat, saat waktu salat Jumat dan tarawih Ramadan. Bangunan masjid dari kayu bulian ini dibangun seperti layaknya bangunan bangunan masyarakat sekitar yang berupa rumah panggung. Tiang kayu masjid ini tadinya langsung bersentuhan dengan tanah namun kini sudah di cor setinggi 50 sentimeter di atas permukaan dan 50 sentimeter ke dalam tanah untuk mencegah pelapukan


Sholat Ied di Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman (antara)
Masjid Sultan Syarif Abdurrahman hampir keseluruhan bangunan menggunakan kayu bulian, warna kuning mendominasi dinding kayu masjid ini sementara plafonnya dicat dengan warna hijau. Warna kuning melambangkan keagungan sedangkan warna hijau melambangkan warna kenabian atau ke-Islaman. Atap masjid bertumpuk empat ditutup lembaran lembaran kayu bulian berukuran lebih besar dari atap sirap biasa. Antara atap paling bawah dan kedua, terdapat celah yang digunakan untuk jendela. Jendela tersebut mengelilingi seluruh celah tersebut, sehingga ruang dalam cukup mendapat cahaya pada siang hari.

Di atas atap kedua, terdapat teras yang cukup luas berbentuk segi empat panjang, di setiap sudutnya terdapat gardu. Karena ada empat sudut, maka terdapat juga empat gardu. Menurut sebagian warga setempat, gardu tersebut dulu digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan. Namun, ada pula yang menginterpretasikannya sebagai simbol dari empat sahabat Nabi Muhammad yang menjadi Khulafa’ al-Rasyidin yakni Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Hattab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib

Nice view from kapuas river 
Teras di atas lapisan atap kedua ini mengelilingi sebuah unit bangunan yang juga berdenah segi empat. Di atas unit ini terdapat atap lapis ketiga. Di atas atap lapis ketiga terdapat lagi unit kecil seperti gardu, berfungsi sebagai menara. Atap menara ini bersisi empat dengan dudur yang membentuk penampang huruf S. Sehingga secara keseluruhan menara ini berbentuk seperti lonceng.

Untuk akses keluar masuk masjid, tersedia tiga pintu utama yang tingginya sekitar 3 meter. Satu pintu posisinya di bagian depan, satu di  sisi kiri dan satu lagi di sisi kanan. Selain itu, di antara pintu-pintu besar tersebut, masih ada lagi 20 pintu lain dengan ukuran yang sedikit lebih kecil (tinggi lebih kurang 2 meter). 

Semua pintu di masjid ini memiliki dua daun yang membuka keluar. Bahan utamanya dari kayu belian dan kaca warna-warni yang berbentuk kotak-kotak besar. Uniknya, fungsi pintu ternyata juga sebagai jendela. Model pintu masjid ini sama dengan rumah model lama. Bentuk dan ukuran pintunya sama dengan jendela. Hanya saja di empat pintu bagian depan, sengaja dipasangi papan pagar sehingga bentuknya tampak lebih kecil dan seperti jendela zaman sekarang.

Sholat Ied di Masjid Jami Sultan Abdurrahman (antara)

Di dalam masjid berdiri kokoh enam sokoguru dari kayu bulian (kayu Ulin atau kayu besi) dengan diameter yang cukup besar menopang struktur atap masjid. Enam pilar ini juga melambangkan 6 rukun iman. Selain sokoguru bundar tersebut masih ada lagi pilar pilar berbentuk segi empat menjulang ke langit langit masjid. Pilar segi empat ini juga berukuran diatas rata rata dibandingkan dengan pilar pilar kayu yang biasa dipakai dirumah rumah penduduk.

Mihrab masjid ini berdenah segi enam melambangkan rukun Islam yang enam. Bentuk mihrab ini mirip dengan mihrab Masjid Tanah Grogot, Kalimantan Timur dan di dalam mihrab terdapat sebuah mimbar warna kuning mengkilap dengan ukiran-ukiran yang indah berwarna emas. Di atas mimbar ini terdapat inskripsi huruf Arab yang menyatakan bahwa Sultan Syarif Usman membangunnya pada hari Selasa Bulan Muharram tahun 1237H. Sultan Syarif Usman (1819-1855) atau Sultan ke-3 Pontianak tercatat sebagai sultan yang pertama kali meletakkan pondasi masjid ini sekitar tahun 1821 M/1237 H menggantikan bangunan bangunan masjid kecil (mushola) yang dibangun ayahandanya Sultan Syarif Abdurrahman.


Rasanya sulit menemukan pemandangan seperti ini ditempat lain 
tapi ini adalah jemaah sholat Ied di Masjid Jami Pontianak (antara)

Arsitektur dan bentuk dari masjid ini hampir semuanya masih asli. Pengurus masjid memang sengaja mempertahankan keaslian bangunan yang bernilai sejarah tinggi ini. Mengingat Masjid ini adalah ikon budaya sekaligus saksi perkembangan Kota Pontianak dari waktu ke waktu. Upaya mempertahankan keaslian bangunan juga merupakan titah dari Almarhum Sultan Hamid II

Sekitar tahun 1960-an, pernah ada upaya untuk mengubah arsitektur dan bentuk asli masjid. Waktu itu, sempat dibangun dua buah menara tambahan di pojok masjid yang tingginya kira-kira 25 meter. Pondasi pun ingin diubah. Ketika itu, Sultan Hamid II (1945-1978) datang dari luar kota dan beliau tidak senang melihatnya. Beliau memerintahkan supaya bangunan baru itu dibongkar dan bentuknya dikembalikan lagi ke semula. Padahal menara itu sudah 90 persen jadi. Sejak saat itulah, upaya-upaya untuk mengubah bentuk atau arsitektur masjid ini tidak lagi pernah dilakukan hingga kini.

Di depan masjid terdapat lapangan yang cukup luas, menyerupai alun-alun di tanah Jawa, beberapa puluh meter di sebelah selatan dari masjid, terdapat Istana Sultan Kraton Kadriyah. Aspek tata letak masjid-istana dan alun-alun ini seperti ini menunjukkan adanya pengaruh dari tradisi kesultanan di tanah Jawa.

Foto Foto Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman


Masjid Jami Pontianak dipersimpangan sungai (Foto dari desaasri)
Senja di masjid Jami Sultan Abdurrahman Pontianak (skyscrapercity)
Menyembul diantara rumah rumah penduduk kampung Beting 
Jemaah sholat Ied di Masjid Jami Sultan Abdurrahman(skyscrapercity)

Masjid Jami Pontianak (panoramio)
Masjid Jami Pontianak dipandang dari jembatan Kapuas (panoramio)

Referensi

Thursday, January 12, 2012

Masjid Raya Darussalam Samarinda – Kaltim

Masjid Raya Darussalam Samarinda, Kalimantan Timur. dilihat dari arah
Sungai Mahakam (foto forumbebas)

Berdiri megah di tepian sungai Mahakam, Masjid Raya Darussalam menghadirkan nuansa Turki Usmani di pusat kota Samarinda ibukota propinsi Kalimantan Timur. Masjid bergaya Turki Usmani (Otoman) dapat dengan mudah dikenali dari bentuk menara nya yang dibuat seramping dan setinggi mungkin. Menara dalam bentuk ini memang memberikan kesan yang jauh berbeda bila dibandingkan dengan masjid bergaya Arabi seperti pada Masjid Islamic Center Samarinda yang juga berlokasi ditepian sungai Mahakam dan terpaut tak terlalu jauh jaraknya dari masjid ini.

kubah utama Masjid Raya Darussalam
(foto dari panoramio)
Masjid Raya Darrusalam adalah masjid terbesar kedua di Samarinda dan di provinsi Kalimantan Timur setelah Masjid Islamic Center Samarinda. Masjid Raya Darussalam dari kejauhan-pun langsung dapat dikenali dengan empat menara tinggginya yang dibangun di ke-empat penjuru bangunan utama masjid ditambah dengan kubah besar warna hijau di atap tengah masjid dan di apit oleh beberapa kubah berukuran kecil.

Lokasi Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Masjid Raya Darussalam berada di di kelurahan Pasar Pagi, Kecamatan Samarinda Ilir, kota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Kelurahan Pasar Pagi merupakan salah satu pusat keramaian kota Samarinda.  Pasar pagi yang menjadi nama kelurahan ini benar benar bangunan pasar pagi yang letaknya hanya terpisah satu blok bangunan dari Masjid Raya Samarinda.

Koordinat geografi : -0°30'11"N   117°8'51"E


Lihat Masjid Raya Darussalam Samarinda di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Raya Samarinda

Bangunan awal masjid Raya Darussalam dibangun oleh para saudagar Bugis dan Banjar yang tinggal di Samarinda sekitar tahun 1925. Lokasinya saat itu berada di tepian sungai Mahakam diatas lahan berukuran 25 meter x 25 meter. Sejak dibangun pertama kali telah mengalami beberapa kali perbaikan diantaranya tahun 1953 dan 1967 meski tanpa merubah ciri khasnya. Sejak pertama kali dibangun masjid ini sebagai masjid Jami’ (masjid yang dipakai untuk sholat Jum’at selain sholat lima waktu lainnya).

Seiring dengan kemajuan Kota Samarinda yang semakin pesat dibutuhkan bangunan masjid yang lebih besar dengan lahan yang lebih luas, maka lokasi masjidpun bergeser ke Jalan Yos Sudarso dengan lahan seluas sekitar 15 ribu meter persegi. Bangunan masjid yang kini berdiri adalah hasil pembangunan tahun 1990-an, diresmikan penggunaannya oleh Dr. H. Tarmizi Taher - Menteri Agama RI, pada tanggal 21 Rabi'ul Akhir 1418H bertepatan dengan tanggal 25 Agustus 1997M. Masjid berkonstruksi  beton  ini berlantai tiga dan dapar menampung sekitar 14.000 jemaah. Di  lingkungan masjid ini dilengkapi taman, kolam dan perpustakaan.

Masjid Raya Darussalam Samarinda dari arah Jalan Gajah Mada yang
membentang di depan masjid ini (foto skyscrapercity)
Di bulan September tahun 2010 sempat ada wacana untuk mengubah Masjid Raya Darussalam menjadi Masjid Agung. Wacana tersebut dikemukakan Kanwil Kemenag Kaltim, dasarnya adalah Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 394 tahun 2004 tentang penetapan status masjid wilayah. Di sana disebutkan, di satu propinsi, harus ada masjid yang disebut masjid raya. Sementara tingkat kabupaten/kota bernama masjid agung.

Wacana tersebut langsung mendapat penolakan dari Wali Kota Samarinda Achmad Amins, penolakan dari walikota ini di dukung oleh tokoh masyarakat Samarinda termasuk dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) sebagaimana disampaikan oleh sekretaris DMI Samarinda, HM Yusuf Mugenie. Penolakan tersebut didasarkan pada alasan sejarah dan demi menghormati para pendiri masjid Raya Darussalam, ditambah lagi fakta bahwa nama Masjid Raya sudah melekat di hati masyarakat Samarinda dan Kaltim.

Dua Masjid Megah di tepian sungai Mahakam, di latar depan adalah -
Masjid Raya Darussalam Samarinda sedangkan Masjid di belakangnya
adalah Masjid Islamic Center Samarinda, keduanya tampak begitu indah
di gelap malam kota Samarinda (foto skyscrapercity)

Arsitektural Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Turki Usmani atau dalam lidah orang Eropa yang tak pandai menyebut Usmani berubah menjadi Otoman, mewariskan seni bina bangunan masjid dengan gayanya sendiri ditandai dengan beberapa ciri utama diantaranya adalah bentuk menara seperti yang sudah sedikit disinggung di awal, menara masjid bergaya Usmani ditandai dengan bentuk bundar, ramping, tinggi menjulang dengan puncak menara yang meruncing dan tak pernah absen lambang bulan sabit di ujung tertinggi menara.

Di Masjid Raya Darussalam Samarinda empat menara masjid diletakkan di empat penjuru bangunan utama masjid. Warna putih mendominasi bangunan menara. Sedikit keunikan pada kubah utama Masjid Raya Darussalam ini, kubah utama berukuran besar itu diapit oleh delapan kubah berukuran lebih kecil yang menempel pada kubah utama. Empat kubah lebih kecil juga menghias ke empat penjuru atap masjid ini. Ornamen khas Kalimantan menghias sisi luar masing masing kubah memberi keistimewaan tersendiri bagi masjid ini.

Masjid Raya Darussalam dipandang dari menara utama Masjid Islamic -
Center Samarinda (kompasiana)
Masjid Raya Samarinda dilengkapi dengan Beranda dengan bukaan besar berlengkung, sana seperti beranda keseluruhan jendela masjid ini juga dilengkapi dengan ornamen lengkungan. Masuk ke dalam masjid, akan dijumpai ruang sholat yang lega tanpa tiang tiang penyanggah struktur atap di tengah masjid. Ruang sholat Masjid Raya Samarinda dilengkapi dengan lantai mezanin. Secara keseluruhan Masjid Raya Samarinda mampu menampung jemaah hingga empat belas ribu jemaah sekaligus.

Warna hijau mendominasi warna karpet sejadah di ruang sholat, warna yang senada dengan warna plafon (langit langit) masjid. Seperti kebanyakan masjid masjid lainnya, dinding sisi mihrab masjid Raya Darussalam Samarinda juga dilapis dengan bahan bewarna lebih gelap dibandingkan sisi dinding yang lain. Dan tak ketinggalan juga lampu lampu gantung di pasang dilangit langit masjid turut memperindah masjid ini.

Fasad masjid Raya Darussalam Samarinda (foto dari skyscrapercity)

Aktivitas Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Walaupun Masjid Islamic Center Samarinda telah rampung dibangun, tetapi masyarakat samarinda masih tetap menyukai beribadah di Masjid Raya. Karena dari segi letak masih dekat dengan lingkungan pemukiman. Masjid ini pun pernah mengukir sejarah. Pada bulan Ramadhan 2006, Presiden SBY bersama Ibu Ani Yudhoyono pernah singgah ke ke Masjid Raya Darussalam untuk melaksanakan sholat Tarawih berjamaah bersama masyarakat Kaltim dipimpin imam K.H.Ramly.

Di dua hari raya Masjid Raya Darussalam ini dipadari ribuan jamaah dari berbagai penjuru kota Samarinda seperti yang terjadi pada sholat hari raya idulfitri pada Rabu 31 Agustus 2011 lalu. Pada kesempatan tersebut turut hadir Walikota Samarinda Syaharie Jaang dan Wakil Walikota Nusyirwan Ismail serta para ulama dan tokoh masyarakat diantara ribuan jemaah lainnya.

Foto Foto Masjid Raya Darussalam Samarinda

Masjid Raya Darussalam dengan kubahnya yang sudah diperindah dengan
ornamen khas Kalimantan
Interior Masjid Raya Darussalam Samarinda (foto halamanrohmad)
pemandangan malam yang begitu indah di tepian sungai Mahakam
dengan dominasi kubah dan menara masjid Raya Darussalam
(foto dari herryimagery)
Menjelang malam di Masjid Raya Darussalam Samarinda (skyscrapercity)
Presiden SBY di Masjid Raya Darussalam Samarinda (presidensby)
Referensi

kaltimpost.co.id - jangan ubah masjid raya

----------------------------------ooOOOoo----------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Lainnya

Masjid Raya Makasar – Sulawesi Selatan
Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara


Wednesday, January 11, 2012

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda - Kaltim

Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda (foto ratihkusumawanti)

Kota Samarinda ibukota propinsi Kalimantan Timur, salah satu kota kaya minyak bumi dengan kemajuan yang cukup pesat. Di kota ini berdiri megah Stadion Utama Palaran yang hingga kini masih tercatat sebagai stadion sepakbola termewah di tanah air. Kota ini juga memiliki Islamic Center Samarinda yang menjadi salah satu Islamic Center termegah dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Kota Samarinda dibelah oleh sungai Mahakam yang merupakan sungai terbesar di propinsi Kalimantan Timur. Dulunya kota Samarinda hanya terdiri dari 3 kecamatan yang namanya disandarkan pada letak kecamatan kecamatan tersebut terhadap sungai Mahakam, masing masing  adalah Samarinda UluSamarinda Ilir dan Samarinda Seberang. Saat ini kedua sisi kota Samarinda dihubungkan dengan dua jembatan yang sudah berfungsi yaitu Jembatan Mahakam (Mahkota I) dan Jembatan Mahakam Ulu, ditambah satu lagi jembatan yang sedang dalam proyek pengerjaan adalah jembatan Mahkota II yang nantinya akan menghubungkan kecamatan Sambutan dan Palaran.

di usia yang sudah melampaui 120 tahun, masjid Shirothal Mustaqim
Samarinda masih terlihat kokoh dan tampak ringkih bagai usianya
(foto skyscrapercity)

Di Samarinda Seberang ada sebuah kampung yang bernama “Kampung Mesjid”. Kata “Mesjid” pada nama kampung ini memang merujuk pada sebuah masjid yang sudah berdiri ditengah kampung tersebut sejak abad ke 19. Masjid tersebut merupakan masjid tertua di kota Samarinda dibangun pada tahun 1881 dengan nama Masjid Jami’ dan sejak tahun 1960 namanya berganti menjadi Masjid Shirothal Mustaqim.

Lokasi Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda

Masjid Shirotal Mustaqim terletak di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan MasjidKecamatan Samarinda SeberangKota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapainya dari pusat kota Samarinda, harus menyeberangi sungai Mahakam melalui Jembatan Mahakam.


Lihat Masjid Shirathal Mustaqim - Samarinda di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda

Kota Samarinda dipercayai didirikan oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa setelah Kerajaan Gowa dikalahkan oleh Belanda sekitar abad 16. Sebagian pejuang Bugis yang menentang Belanda memilih untuk berhijrah ke daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutai kala itu. Kedatangan mereka ini disambut baik oleh Raja Kutai yang ditunjukkan dengan pemberian lokasi pemukiman di sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan.

Dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh. Orang-orang Bugis Wajo mulai menetap di lokasi tersebut pada bulan Januari 1668. Lama kelamaan kawasan ini berkembang dan dikenal dengan sebutan Samarinda, yang berasal dari kata “sama rendah” yang dimaksudkan untuk menunjukkan persamaan hak dan kedudukan masyarakatnya.

foto tua menara masjid
shirothal mustaqim
(foto dari wiki)
Sekitar tahun 1880, datang seorang pedagang muslim dari PontianakKalimantan Barat bernama Said Abdurachman bin Assegaf ke Kerajaan Kutai untuk berdagang sembari menyiarkan Agama Islam, ia memilih kawasan Samarinda Seberang sebagai tempat tinggalnya. Hal itu ditanggapi dengan baik oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman. Melihat ketekunan dan ketaatan Said Abdurachman dalam menjalaankan syariat agama Islam, sultan mengizinkan Said Abdurachman tinggal di kawasan Samarinda Seberang dan memberinya gelar sebagai Pengeran Bendahara.

Sebagai tokoh masyarakat, Said Abdurachman mengemban tugas dan tanggungjawab yang besar. Berawal dari keprihatianannya terhadap kondisi masyarakat kala itu yang masih suka berjudi (disiang hari judi sabung ayam, malam hari judi dadu) dan memyembah berhala, beliau tergerak hati untuk membangun sebuah masjid yang lokasinya di pusat kegiatan tersebut dengan harapan dapat menghentikan kegiatan maksiat dan sesat tersebut.

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1881M dengan pemancangan 4 tiang utama (soko guru). Ke em[at soko guru tersebut merupakan sumbangan dari tokoh adat kala itu, 1 tiang utama dari Kapitan Jaya didatangkan dari loa Haur (Gunung Lipan), 1 tiang utama dari Pengeran Bendahara didatangkan dari Gunung Dondang, Samboja, 1 tiang utama dari Petta Loloncang di datangkan dari Gunung Salo Tireng (Sungai Tiram) dan 1 tiang utama lainnya dari didatangkan dari Suangai Karang. Pemancangan empat sokoguru ini memiliki cerita sendiri yang melegenda hingga kini ditengah masyarakat Samarinda.

Pembangunan masjid ini memakan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya sampai sepuluh tahun. Pada tanggal 27 Rajab 1311 Hijriyah (1891M), pembangunan masjid akhirnya rampung dan diresmikan oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman yang sekaligus di daulat menjadi imam sholat untuk pertama kalinya yang diselenggarakan di Masjid Shirothal Mustaqim. Kawasan tempat masjid ini berada pun kemudian berubah total menjadi kawasan yang relijius bahkan kampung letak masjid ini berada kemudian dikenal dengan nama Kampung Mesjid, sedangkan ruas jalan di depan masjid ini dinamai dengan nama Jalan Pangeran Bendahara yang merupakan gelar dari Said Abdurachman bin Assegaf, sebagai bentuk penghargaan atas jasa jasanya.

Paduan arsitektural dua bangunan yang dibangun terpisah dua puluh tahun
Masjid Shirothal Mustaqim dan Menaranya, sama sama dari kayu Ulin masih
kokoh hingga kini setelah lebih dari seratus tahun (foto dari khanan28)
Semaraknya syiar Islam di Masjid Shirothal Mustaqim ini telah menarik perhatian seorang Saudagar kaya Belanda yang bernama Henry Dasen untuk memeluk Islam pada tahun 1901. Setelah ber-Islam beliau turut menyumbangkan hartanya untuk masjid dengan mendanai pembangunan sebuah menara tempat muazin mengumandangkan azan di masjid ini. Menara ini juga masih berdiri kokoh hingga kini.

Masjid ini kini menjadi salah satu tempat wisata religi pavorit di kota Samarinda. Ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. Bahkan menurut penuturan pengurus masjid Shirothal Mustaqim, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menyempatkan diri singgah ke masjid ini untuk Salat Subuh bersama dengan warga Samarinda Seberang dalam sebuah lawatannya ke Samarinda.

Penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia tahun 2003
Di bulan September 2003, Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda ini meraih anugerah sebagai peserta terbaik ke-dua di Festival Masjid Masjid Bersejarah Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Masjid Indonesia. Selain itu, Masjid Shirothal Mustaqim termasuk sebagai bangunan cagar budaya di kota Samarinda yang dilindungi UU No 5 tahun 1992.

Renovasi dan Perbaikan Masjid Shirothal Mustaqim

Masjid Shirothal Mustaqim pernah menjalani perbaikan perbaikan ringan dan penambahan fasilitas penunjang. Berturut pembangunan masjid dilakukan tahun 1970, 1989 dan terahir tahun 2001 oleh Wali Kota Samarinda Achmad Amins, tanpa merubah bentuk tapi menambah fasilitas prasarana masjid misalkan tempat wudhu, rumah kaum, perpustakaan, sekretariat Irma dan taman masjid.

teras dan dinding masjid Shirothal Mustaqim, suasana hangat dan dan
bersahaja (foto dari skyscrapercity)
Perubahan Nama Masjid Shirothal Mustaqim

Pada bulan Desember 2011, Ishak Ismail, Humas Masjid Sirathal Mustaqim mengungkapkan kepada publik bahwa hasil penelusuran yang dilakukan didapatkan bukti bahwa masjid Shirothal Mustaqim pada awalnya berdirinya hingga tahun 1960 bernama Masjid Jami. Nama Shirotal Mustaqim mulai disandang masjid ini sejak tahun 1960 setelah datangnya ulama dari Banjarmasin bernama KH Samuri Arsyad yang aktif mengajar di masjid ini. Perubahan nama masjid itu diawali beberapa musyawarah yang dilakukan KH Samsuri Arsyad bersama beberapa tokoh warga dan imam masjid. Setelah meminta petunjuk pada Allah SWT, akhirnya masjid itu berubah nama menjadi Masjid Shirothal Mustaqim hingga saat ini.

Legenda Sokoguru Masjid Shiratal Mustaqim

Sebagaimana di ungkapkan oleh Imam Masjid Shiratal Mustaqim, H Zainuddin Abdullah, Masjid Shiratal Mustaqim dibangun dengan cara bergotong royong, namun pada saat itu warga yang bergotong royong menghadapi masalah pada saat akan mendirikan empat tiang utama bangunan masjid. Ukuran tiang yang cukup  besar sepanjang ± 7 meter dari kayu ulin sangat sulit untuk didirikan sampai kemudian warga menyerah untuk mendirikan empat tiang besar tersebut.

Masjid Shirothal Mustaqim dipandang dari arah Sungai Mahakam
(foto dari kaltimpost)
Hingga akhirnya datang seorang nenek dengan menggunakan jubah putih ke hadapan mereka. Siapa dia tak ada yang tahu. Namun ia berpesan kepada Pengeran Bendahara dan sejumlah pengikutnya. Disebutkan, ia akan membantu mendirikan 4 tiang utama tersebut dengan syarat tak ada satu wargapun yang melihat prosesi pendiriannya. Keesokan harinya, sejumlah warga tertegun melihat 4 tiang utama sudah berdiri tegak. Bahkan saat warga mencoba mencari sosok seorang nenek tersebut, mereka tak kunjung menemukannya. Sehingga warga tak ada yang tahu pasti siapa dia.

Arsitektural Masjid Shiratal Mustaqim

Areal Masjid Shiratal Mustaqim seluas 2.028 M2 dengan luas bangunannya 718.32m2 terdiri dari ruang utama 418,18 M2, Ruang serambi depan 125,56 M2, dan Ruang serambi kanan kiri 174,58 M2. Dibangun menggunakan bahan kayu Ulin, membuatnya begitu antik. Kayu ulin memang kayu dengan kualitas terbaik selain keras, kuat dan anti rayap kayu ini juga sangat tahan terhadap cuaca. Wajar bila bangunan masjid ini masih berdiri kokoh hingga kini meski sudah berumur 120 tahun lebih.

halaman masjid Shirothal Mustaqim yang kini sudah diperindah dengan
taman (foto dari suaraikadi)
Masjid Shirothal Mustaqim dibangun dalam arsitektural khas Indonesia, berdenah segi empat, dengan atap limas bersusun di topang empat sokoguru masing masing berdiameter lebih kurang 60cm di tengah ruang masjid. Pembeda utama masjid Shirothal Mustaqim dengan masjid masjid tua Indonesia lainnya adalah susunan atapnya yang terdiri dari 4 susun. Kebanyakan masjid masjid tua di tanah air terdiri dari 3 susun saja.

Di tiap sisi bangunan utama dilengkapi dengan serambi dan disetiap sisi serambi di lengkapi dengan pagar (railing) yang juga dibuat dari kayu ulin. Mihrab masjid ini dibuat tersendiri dengan atap yang berbentuk sama dengan atap bangunan utama. Menara masjid yang dibangun 20 tahun setelah masjid berdiri memang memiliki sedikit perbedaan arsitektural dari bangunan utama masjid, meski dibangun dengan bahan kayu yang sama. Keseluruhan Jendela pada bangunan masjid ini berbentuk segi empat dengan dua daun jendela begitupula dengan pintu pintunya, namun pada bangunan menara tidak menggunakan bentuk segi empat tapi menggunakan pola lengkungan pada setiap bukaannya.

Menara Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda (foto dari bybay)
Menara masjid Shirothal Mustaqim setinggi 21 meter dengan empat lantai masing masing lantai dilengkapi dengan balkoni terbuka. Bentuk puncak atap menara ini yang sangat unik dan menarik karena sangat berbeda dengan bentuk puncak puncak menara masjid tua lainnya yang ada di Indonesia, ditambah lagi dengan bahan bangunanannya yang menggunakan kayu besi juga menjadikannya begitu istimewa.

Aktifitas Masjid Shiratal Mustaqiem

Dalam perkembangannya Masjid Shirothal Mustaqim pun dilengkapi dengan sarana pendidikan. Pada tahun 1956 didirikan Madrasah Dinul Islamiyah (MDI) lalu dilanjutkan dengan pembangunan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di tahun 1972 dan pembangunan perpustakaan masjid. Kegiatan keagamaan di masjid ini begitu semarak dari siang hingga malam hari mulai dari taklim ba’da maghrib hingga pengajaran baca Al Qur’an.

Hal unik lain yang bisa ditemui di Masjid yang sudah berumur lebih dari 127 tahun ini adalah pembuatan bubur pecak (bubur khas Bugis) yang terbuat dari rempah-rempah dan santan kelapa yang dihidangkan setiap bulan suci sebagai menu untuk berbuka puasa bagi para musafir dan masyarakat sekitar. Sedikitnya 250 porsi bubur disediakan setiap hari selama bulan Ramadhan. Adanya tradisi Bugis di masjid ini tentu saja tak lepas dari peran masyarakat keturunan Bugis yang memang telah menempati kawasan Samarinda Seberang sejak masa kesultanan Kutai sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini.

Foto Foto Masjid Shirothal Mustaqim – Samarinda

sisi mihrab masjid Shirothal Mustaqim (foto dari wisatakaltimsamarinda)
Masjid Shirothal Mustaqim dari sisi timur (foto dari panoramio)
foto dari sky scrapercity
foto dari skyscrapercity
Referensi

suaraikadi.blogspot.com - masjid-shirathal-mustaqiem-samarinda

--------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya