Sunday, October 30, 2011

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Masjid Hassan II – Casablanca, Maroko dilihat dari arah samudera Atlantik (foto dari flickr)

Tentang Maroko

Maroko, Kerajaan Islam di ujung utara benua Afrika, beribukota di kota Rabat,  beseberangan dengan kerajaan Spanyol di benua Eropa bagian selatan terpisah oleh selat Gibraltar. Maroko memiliki pertalian sejarah yang sangat erat dengan Kerajaan Spanyol, Gibraltar dan keseluruhan semenanjung Iberia. Dan sejarah itu tak lepas dari nama Panglima Tariq Ibnu Ziyad, panglima perang Islam dari Maroko yang begitu melegenda, mengukir sejarah keemasan Islam menaklukkan wilayah Andalusia (meliputi Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) di tahun 711 Masehi bertepatan tahun 97 Hijriah, atas perintah dari Musa Bin Nushair, gubernur Maroko ketika itu.

Nama panglima Tariq Ibnu Ziyad diabadaikan menjadi nama gunung batu tempatnya berlabuh ketika pertama kali mendarat di benua Eropa, Jabal Tariq (Gunung Tariq), lidah orang eropa yang tak pandai menyebut Jabal Tarik, kemudian menjadikan semenanjung itu bernama Gibraltar hingga kini.

Jalan Sukarno di pusat kota Rabat - Maroko
Kerajaan Maroko juga memiliki kedekatan tersendiri dengan Indonesia, Indonesia menjadi salah satu negara yang secara aktif melalui jalur diplomasi memperjuangkan kemerdekaan Maroko dari Jajahan Prancis. Salah satu ruas jalan di Maroko diberi nama Rue Sukarno (Jalan Sukarno), sebagai bentuk penghormatan bagi Bung Karno. Nama jalan tersebut diresmikan sendiri oleh Bung Karno bersama Raja Muhammad V saat kunjungan beliau ke Maroko pada 2 Mei 1960. Sebagai bentuk persahabatan dua bangsa, di Jakarta pun kita temui ruas jalan dengan nama Jalan Casablanca.

Dalam kunjungan Bung Karno ke Maroko tersebut, Raja Muhammad V juga memberi hadiah istimewa bagi Bung Karno dan Rakyat Indonesia berupa fasilitas bebas visa bagi warga negara Indonesia yang hendak berkunjung ke Maroko. Sayangnya jarak antara Indonesia dengan Maroko yang terpisah begitu jauh membuat negeri Seribu benteng di Magribi ini tidak begitu populer bagi para pelancong Indonesia. Begitu jauhnya Maroko dari Indonesia sampai sampai keluar istilah baru untuk menyebut begitu luasnya dunia Islam dengan sebutan “dari Maroko sampai ke Merauke”. Selain dari itu di kota Kenitra - Maroko ada Masjid (Bernama) Indonesia, sebagai bentuk penghargaan Kerajaan Maroko kepada pemerintah dan rakyat Indonesia.

Presiden Soekarno bersama Raja Mohammad V di kota Rabat 2 Mei 1951 
(foto dari dederabat)
Maroko beribukota di Rabat meskipun kebanyakan orang lebih mengenal Maroko dengan kota Casablanca – nya yang merupakan kota perdagangan terbesar di Maroko. Di Casablanca berdiri sebuah bangunan masjid yang begitu istimewa karena dibangun di laut dan menjadi salah satu masjid terbesar di dunia dan masih memegang rekor sebagai masjid bermenara tertinggi di dunia, masjid tersebut adalah Masjid Hassan II.

Lokasi dan Alamat Masjid Hassan II

Boulevard Sidi Mohamed ben Abdallah, Casablanca, Maroko
Telepon : +212 22206265 ‎
Koordinat giografi : 33°3626.4N 7°3757.2W
Rute kendaraan umum : Bus No 15 dari Pl Oued al-Makhazine DH3.50


Masjid Terapung Terbesar di dunia

Masjid Hassan II berada di kota Casablanca, Maroko. Diklaim sebagai masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Dan Masjid Hassan II ini merupakan salah satu dari 48 ribu bangunan masjid di Maroko dari total penduduknya yang hanya 35 juta jiwa. Masjid Hassan II dibangun pada tahun 1986-1993 untuk memperingati ulang tahun mendiang Raja Maroko Hassan II.

Sebagai pembanding, Italia yang merupakan negara Katholik berpenduduk 60 juta jiwa hanya memiliki 26 ribu tempat ibadah. Perbandingannya adalah disediakan 1 masjid bagi setiap 730 orang di Maroko. sedangkan di Italia satu tempat ibadah diperuntukkan bagi 2400 orang.

Masjid Hassan II dibangun menjorok ke samudra Atlantaik membuatnya terlihat seakan akan berada di tengah laut layaknya sebuah masjid yang benar benar terapung. Tak salah bila kemudian masjid ini mendapat julukan sebagai masjid terapung terbesar di dunia. Masjid megah ini kini menjadi penanda kota Casablanca. Dari arah Samudera Atlantik bangunan masjid ini mendominasi pemandangan kota Casablanca.

Masjid Hassan II dengan Plataran luasnya yang mengkilap (Foto dari Flickr)
Masjid dengan menara tertinggi di dunia

Dirancang oleh seorang arsitek Prancis Michel Pinseau dan dibangun oleh Bouygues. Masjid ini berdiri megah dan terlihat begitu anggun dari Samudera Atlantaik. Dengan lantai kaca yang dapat menampung hingga 25 ribu jemaah. Ditambah lagi dengan pelataran yang mampu menampung 80 ribu jemaah. Tak hanya itu masjid ini juga dilengkapi dengan menara khas tradisional Maroko setinggi 210 meter (689 ft), menjadikan menara masjid sebagai menara masjid tertinggi di dunia. Menaranya yang begitu tinggi ini terlihat hampir dari segala sudut kota Casablanca baik siang ataupun malam hari dengan sistem pencahayaannya yang menggunakan tata lampu sinar laser.

Penggunaan Teknologi Tinggi

Teknologi tinggi di aplikasikan di masjid megah ini dengan memanfaatkan teknologi cahaya laser untuk pencahayaan dan memberikan keindahan tersendiri dimalam hari, penggunaan pemanas lantai untuk mengontrol temperatur ruangan masjid melalui lantainya ketika suhu dingin, penggunaan pintu elektrik, rancangan atap yang bisa di buka tutup dengan teknologi mutakhir dan beberapa bagian lantai masjid menggunakan kaca tebal sehingga memungkinkan jemaah melihat samudera Atlantik yang menyapu bebatuan di bawah masjid.

gemerlapnya interior masjid Hassan II
Selain itu masjid ini juga secara keseluruhan berukuran sangat besar dengan dekorasi interior ruang sholat yang mengagumkan, dengan ukiran tangan para pengukir yang memang profesional di bidangnya ditambah dengan dekorasi hasil cetakan semen. Sebuah tim besar para maestro pengukir di pekerjakan khusus menangani proyek pembangunan masjid ini. Bahan bahan terpilih berupa kayu kayu cedar dari kawasan Atlas, batu pualam dari pegunungan Agadir dan batuan granit dari Tafroute.

Lebih dari 6000 seniman maroko dipekerjakan pada proyek pembangunan masjid ini sejak dari awal pembangunannya. Dengan biaya proyek mencapai setengah milyar dolar dan sebagian besar dari dana pembangunan tersebut merupakan sumbangan dari rakyat Maroko sendiri. Masjid ini kini menjadi sebuah bangunan yang sangat membanggakan bagi warga Maroko terutama warga kota Casablanca.

bagian yang terang benderang di lantai
masjid tersebut adalah lantai kaca tembus
pandang ke dasar laut di bawah masjid
(Foto dari Flickr)
Terbuka bagi pengunjung non muslim

Masjid Hassan II menjadi masjid modern paling baru yang membuka diri bagi kunjungan dari kalangan non muslim dengan beberapa persyaratan yang harus dipatuhi termasuk untuk menggunakan pakaian sopan, harus ditemani oleh pemandu untuk dapat masuk ke dalam area masjid dan tentu saja harus melepas alas kaki.

Pemandu wisata di masjid ini menggunakan beberapa bahasa pengantar selain bahasa Arab juga menggunakan basa Prancis, Inggris, Jerman dan Spanyol. Pengunjung non muslim juga diperkenankan untuk berkunjung hingga ke ruang sholat utama, ruang wudhu dan hammam (kolam pemandian di lantai dasar masjid). Meskipun masjid ini dapat dicapai dengan berjalan kaki selama ± 20 menit dari stasiun kereta Casa Port, namun beberapa laporan lebih menyarankan warga asing untuk menggunakan taksi dari pusat kota atau bis umum No 15 dari kawasan Pl Oued al-Makhazine.

Video Masjid Hassan II Casablanca



Foto foto Masjid Hassan II Casablanca - Maroko

Foto udara masjid Hassan II (foto dari skyscrapercity)
Foto dari en.wikipedia
Foto dari en.wikipedia
dari arah Samudera Atlantik (Foto dari en.wikipedia)
Malam hari di Masjid Hassan II (Foto dari en.wikipedia)
Masjid Hassan II dengan latar Casablanca di latar depan
dan samudera Atlantik di latar belakang


Referensi

guyanafriends.com – hassan II mosque : marocco
lonelyplanet.com – hassan ii mosque
jelajah-maroko.blogspot.com – info visa
jelajah-maroko.blogspot.com – rabat my country
marocco.com – hassan mosque
en.wikipedia – hassan II mosque
gomorocco.com – hassan II mosque

----------------------------------------ooOOOoo------------------------------------------
Baca juga


Saturday, October 29, 2011

Masjid Agung Sumenep, Pulau Madura – Jawa Timur

Gerbang Masjid Agung Sumenep - Madura (freetimeindonesia )

Masjid Agung Sumenep, dulunya disebut masjid Jami’ Sumenep, berada di tengah tengah kota Sumenep, menghadap ke taman Kota, dengan gerbang besar yang unik, pintu kayu kuno, berdiri kokoh menghadap matahari terbit. Masjid yang sudah berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh, menjalankan fungsingya dengan baik dan menjadi salah satu penanda kota Sumenep.

Tentang Sumenep - Madura

Sumenep merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur, Lokasinya berada di ujung timur pulau Madura. Kabupaten Sumenep memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dan populasi ±1 juta jiwa. Beribukota kota di Kota Sumenep. Kabupaten Sumenep selain terdiri wilayah daratan di pulau Madura juga terdiri dari berbagai pulau di Laut Jawa, keseluruhan pulaunya berjumlah 126 pulau.

klik untuk memperbesar
Sejarah Sumenep dimulai sejak dilantiknya Arya Wiraraja sebagai Adipati pertama Kadipaten Sumenep dibawah kekuasaan Kertanagara dari kerajaan Singosari pada tanggal 31 Oktober 1269. Arya Wiraraja merupakan sosok dibalik jatuh bangunnya beberapa kerajaan di tanah jawa termasuk Singosari, Gelang Gelang, Kediri dan Sumenep sebelum kemudian mendirikan kerajaan Majapahit bersama dengan Raden Wijaya.

Sejak dilantiknya Arya Wiraraja sebagai adipati pertama Sumenep, ada 35 Adipati yang telah memimpin kerajaan Sumenep. Dan di era NKRI  ini telah dipimpin oleh 14 Bupati yang pernah memerintah Kabupaten Sumenep. Tanggal 31 Oktober kemudian diperingati setiap tahun sebagai hari jadi kabupaten Sumenep.  Kenali Kabupaten Sumenep lebih jauh melalui situs resmi nya di http://www.sumenep.go.id/ dan di situs pariwisata Sumenep di http://www.eastjava.com/tourism/sumenep/index.html

Islam di Sumenep

Merujuk kepada mediamadura.wordpress.com, penyebar  agama Islam di Sumenep adalah Syayyid Ahmadul Baidhawi atau yang dikenal dengan Pangeran Katandur sekitar pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan atau sekitar tahun 1550-an. Jauh sebelumnya atau sekitar tahun 1400-an ada juga ulama penyebar agama Islam yang bernama Raden Bindara Dwiryopodho dikenal dengan nama Sunan Paddusan, namun menurut cerita para pengamat sejarah masih ada penyiar agama Islam yang lebih awal di Sumenep, yakni sekitar pemerintahan Panembahan Joharsari  (Adipati Sumenep kelima, memerintah 1319-1331). Masih menurut sumber yang sama, Panebahan Joharsari merupakan Raja Sumenep pertama yang memeluk Islam. (lihat bagan hubungan antara Pangeran Katandur dengan Adipati Sumenep).

Masjid Agung Sumenep tahun 1890-1917 (id.wikipedia)
Namun bila merunut perjalanan Islam di Sumenep, ada jeda waktu cukup lama antara masa pemerintahan Panebahan Joharsari (Adipati Sumenep ke lima, 1319-1331) hingga berdirinya masjid Laju di masa pemerintahan Pangeran Anggadipa (Adipati Sumenep ke 21, 1626-1644 M). apakah di kurun waktu tersebut belum ada masjid ? atau pelaksanaan ibadah sholat berjamaah dilaksanakan di kraton ?. Wallohua’lam bisshawab.

Masjid Agung Sumenep - Madura

Berdiri menghadap alun alun kota Sumenep Masjid Agung Sumenep yang dulunya disebut masjid Jami, menjadi salah satu penanda kota Sumenep. Usianya yang sudah ratusan tahun namun masih berdiri megah menjadikannya sebagai salah satu warisan sejarah masa lalu sekaligus memberikan kebanggaan tersendiri bagi warga Sumenep.

Secara administrative Masjid Agung Sumenep masuk dalam desa Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur. Masjid ini seluas 100m x 100m dilengkapi dengan bangunan sekretariat, bangunan pesanggrahan kiri dan kanan, bangunan toilet dan tempat wudhu serta tempat parkir.


View Masjid Agung Sumenep in a larger map

Sejarah Masjid Agung Sumenep - Madura

Masjid Agung Sumenep dibangun setelah selesainya pembangunan Kraton Sumenep, pembangunan masjid ini digagas oleh Adipati Sumenep ke 31, Pangeran Natakusuma I alias Panembahan Somala (berkuasa tahun 1762-1811 M). Adipati yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma ini, sengaja mendirikan masjid yang lebih besar, untuk menampung jemaah yang semakin bertambah. Bangunan masjid yang ada saat itu dikenal dengan nama Masjid Laju, dibangun oleh adipati Sumenep ke 21 Pangeran Anggadipa (berkuasa tahun 1626-1644 M) sudah tak lagi memadai kapasitasnya untuk menampung jemaah.

Pembangunan masjid Agung Sumenep di arsiteki oleh Lauw Piango, arsitek yang sama yang menangani pembangunan kraton Sumenep. Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan satu dari enam orang China yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya perang yang disebut ‘Huru-hara Tionghwa’ (1740 M). proses pembangunan masjid dimulai tahun 1198 H (1779M) dan keseluruhan proses pembangunannya selesai pada tahun 1206H (1787M). Terhadap masjid ini Pangeran Natakusuma berwasiat yang ditulis pada tahun 1806 M, bunyinya sebagai berikut;

“Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di negeri/keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”

Atap bersusun pada Masjid Agung Sumenep (eastjava.com)
Arsitektural Masjid Agung Sumenep - Madura

Arsitektural masjid Agung Sumenep sepertinya memang sengaja dirancang oleh Arsiteknya waktu itu dengan menggabungkan berbagai unsur budaya. Arsiteknya yang ber-etnis Tionghoa turut menorehkan unsur budaya China pada seni bina bangunan masjid ini. Seni Arab, Persia, Jawa, India dan China menjadi satu kesatuan utuh pada bangunan masjid Agung Sumenep ini.

Bangunan utama masjid di tutup dengan atap limas bersusun. Atap limas bersusun atau berundak, susunan atap seperti ini selain merupakan ciri khas bangunan di tanah jawa yang menggunakan atap joglo tapi juga merupakan bentuk atap yang banyak dipakai pada bangunan klenteng yang biasa menggunakan atap bersusun. Di ujung tertinggi atap bangunan dipasang mastaka berbentuk tiga bulatan.

Mihrab dan mimbar ganda Masjid Agung Sumenep (ahmadramadlan)
Gerbang utama yang dibangun di masjid ini banyak di pakai di bangunan bangunan penting negeri China dan India, di dua negeri itu bangunan gerbang tidak semata mata sebagai pintu masuk utama tapi juga merupakan pos penjagaan. Bangunan ini cukup besar dan megah, dengan ruangan di atasnya, bisa jadi pada jamannya ruang ini merupakan tempat menyimpan beduk dan kentongan serta tempat muazin mengumandangkan azan. Sehingga wajar bila kemudian ruang di atas gerbang ini yang difungsikan layaknya menara. Gerbang masjid Agung Sumenep ini benar benar menyita perhatian karena bentuknya yang begitu besar dan megah. Jangan lupa bahwa masjid masjid awal di tanah air memang tidak dilengkapi dengan menara.

Ukiran jawa dalam pengaruh berbagai budaya menghiasai 10 jendela dan 9 pintu besarnya. Bila diperhatikan dengan seksama, ukiran ukiran yang ada di pintu utama masjid ini sangat kental pengarus budaya China, dengan penggunaan warna warna cerah. Ukiran dengan nada yang serupa akan banyak di jumpai di daerah Palembang yang seni arsitekturalnya juga dipengaruhi cukup kuat oleh budaya China. Disamping pintu depan mesjid sumenep terdapat jam duduk ukuran besar bermerk Jonghans, diatas pintu tersebut terdapat prasasti beraksara arab dan jawa.

13 pilar di dalam bangunan utama Masjid Agung Sumenep (freetimeindonesia)
Sentuhan budaya China terasa lebih kental pada mihrab masjid. Uniknya masjid ini memiliki dua mimbar disisi kiri dan kanan mihrabnya. Hiasan keramik porselen warna biru cerah dengan corak floral mendominasi dua mimbar dan mihrab di masjid ini. Dilihat dari coraknya kemungkinan besar keramik porselen tersebut di import dari daratan China. Bangunan bersusun dengan puncak bagian atas menjulang tinggi mengingatkan bentuk-bentuk candi yang menjadi warisan masyarakat Jawa. Kubah berbentuk tajuk juga merupakan kekayaan alami pada desain masyarakat Jawa.

Sekitar tahun 90-an masjid ini mengalami pengembangan, dengan renovasi pada pelataran depan, kanan dan kirinya, dengan sama sekali tidak mengubah bangunan aslinya.  Didalam mesjid terdapat 13 pilar yang begitu besar yang mengartikan rukun solat. Bagian luar terdapat 20 pilar. Dan 2 tempat khotbah yang begitu indah dan diatas tempat Khotbah tersebut terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak. Awalnya pedang tersebut terdapat 2 buah namun salah satunya hilang dan tidak pernah kembali.

Video Masjid Agung Sumenep - Madura


Foto Masjid Agung Sumenep - Madura

Bangunan Asli dan tambahan terlihat jelas dari sisi ini (flickr)
Masjid Agung Sumenep
Tiang tiang utama dari 13 tiang utama di Masjid Agung Sumenep (Panoramio)
Mimbar dan Mihrab Masjid Agung Sumenep (eastjava.com)
ukiran floral di Masjid Agung Sumenep (eastjava.com)
Jendela besar berukir di Masjid Agung Sumenep (eastjava.com)

Referensi

Bagianjawatimur.blogspot.com – masjid jami sumenep madura
lya-ordinarygirl.blogspot.com – mesjid agung sumenep
andiferdiyanto.blogspot.com – mesjid-jamik-atau-masjid-gung-sumenep
id.wikipedia – kabupaten sumenep
situs resmi pemkab sumenep - http://www.sumenep.go.id/

Monday, October 17, 2011

Masjid Jami’ Cheraman, Masjid Pertama di India


Masjid Cheraman (foto dari cheramanmosque)
Saksi Peristiwa Bulan Terbelah Menjadi Dua

Bila anda ketikkan kata kunci “moon split” atau “bulan terbelah” di kolom pencarian internet, anda akan disuguhi begitu banyak artikel berikut foto tentang bulan yang pernah terbelah. Foto paling populer yang akan muncul adalah foto hitam putih permukaan bulan hasil jepretan lembaga antariksa nasional Amerika yang menunjukkan guratan bulan atau lunar rille. Foto yang oleh begitu banyak penulis di internet kemudian dikaitkan dengan salah satu Mukjizat Rosullullah S.A.W. yang mampu membelah bulan menjadi dua sebagaimana dijelaskan dalam hadist. (salah satu ulasan cukup menarik tentang ini dapat di baca disini)

Namun artikel ini tidak untuk membahas tentang lunar rille, tapi tentang sebuah masjid tua di India yang namanya diambil dari salah satu Raja India pertama yang (menurut hikayat) masuk Islam setelah menjadi saksi dari salah satu mukjizat Rosulullah tersebut. Atau setidaknya cerita tentang mukjizat Rosulullah tersebutlah yang menjadi sebab musabab beliau masuk Islam. Mukjizat itu juga yang menjadi permulaan masuk dan berkembangnya Islam di India hingga hari ini.

Masjid Cheraman tahun 1958 (foto dari cheramanmosque) 
Raja India itu bernama Raja Cheraman perumal atau Chakrawati Farmas atau Rama Varma Kulashekhara dan setelah memeluk Islam berganti nama menjadi Tajudin. Nama beliau kemudian di abadikan oleh para sahabat nya menjadi nama masjid yang pertama kali dibangun di anak benua India, masjid yang masih berdiri dan digunakan hingga kini oleh muslim India. Masyarakat setempat menyebut masjid itu dengan nama Cheraman Juma Masjid. Masjid tua yang dibangun oleh Malik Bin Dinar di tahun 629M, memenuhi permintaan terahir sang raja sebelum beliau wafat, di perjalanan pulang dari Mekah Almukarromah ke India.

Lokasi dan Alamat Masjid Cheraman

Masjid Jami’ Cheraman berada di desa Methala, kota Kodungallur, provinsi Kerala, India. Lokasi masjid ini berada sekitar 2 kilometer dari pusat kota Kodungallur. Lebih kurang 20 kilometer stasiun kereta Irinjalakuda. 

Nomor Telepon  : +91 480 2803170



Sejarah Masjid Cheraman

Sejak zaman kuno hubungan dagang antara Arab dan Anak Benua India sudah terjalin dengan baik. Bahkan sebelum Islam menyentuh India. Pedadang pedangan Arab mengunjungi wilayah Malabar, yang merupakan titik hubung utama antara asia selatan dan asia tenggara.

Plakat pembangunan masjid (foto dari flickr)
Islam masuk ke India dibawa oleh para pedagang dari tanah Arab, yang tiba di India untuk berdagang sekaligus mensyiarkan Islam. Beberapa orang India yang tinggal di wilayah pantai Kerala kemudian menerima Islam sebagi agama mereka. Adalah Raja Rama Varma Kulashekhara atau Cheraman perumal atau Chakrawati Farmas disebut sebut  sebagai orang India pertama yang memeluk Islam.

Diceritakan bahwa Rama Varma Kulashekhara yang kemudian menjadi penguasa di Chera, pada suatu malam sedang menikmati indahnya bulan purnama bersama permaisuri di lantai atas istananya tiba tiba terheran heran dengan kejadian terbelah dua-nya bulan purnama yang sedang dilihatnya. Kejadian luar biasa tersebut begitu menggodanya hingga berusaha mencari tahu apa gerangan yang sedang terjadi. Sampai kemudian beliau mendapat informasi dari pedagang pedagang Muslim Arab bahwa kejadian tersebut adalah salah satu dari Mukjizat Nabi Muhammad S.A.W. Rosul utusan Allah yang membawa Islam sebagai agama terahir. Segera setelah tahu akan hal itu beliau berangkat ke Mekah.

Rama Varma Kulashekhara melafalkan dua kalimat syahadah dibimbing oleh Rosullullah, disaksikan oleh sahabat Rosul, Abu Bakar Sidik. Rama Varma Kulashekhara atau Chakrawati Farmas kemudian berganti nama menjadi Tajudin. Kisah masuk Islamnya Cheraman perumal ini terekam dalam manuskrip tua di perpustakaan India dengan nomor referensi dalam hurup arab 2607, 152-173 yang kemudian di kutip oleh penulis M. Hamidullah dalam bukunya Muhammad Rasullah.

Mimbar dan Mihrab Masjid Cheraman (foto dari cheramanmosque)
Dalam perjalanannya kembali ke India beliau wafat di Salalah di wilayah kesultanan Oman. Menjelang wafatnya beliau memberikan mandat kepada beberapa sahabat arab-nya untuk meneruskan perjalanan ke kerajaan nya di India dan mensyiarkan Islam disana. Almarhum Rama Varma Kulashekhara atau Cheraman perumal atau Chakrawati Farmas atau Tajudin kemudian dimakamkan di Salalah, Oman, Makam beliau ramai diziarahi hingga kini dan dikenal sebagai “makamnya Raja India”.

Segera setelah itu kelompok muslim Arab dibawah pimpinan Malik Bin Deenar dan Malik bin Habib tiba di Kerala utara, dan membangun Masjid Jami Cheraman di Kodungalloor, tahun pembangunan masjid ini diperkirakan sekitar tahun 629M. Menjadikannya sebagai masjid pertama di India, dan menjadi masjid kedua yang digunakan untuk ibadah sholat Jum’at setelah Masjid Nabi di Madinah Al-Munawaroh.

Menurut sumber di outlookindia, meski tak ada sepotongpun prasasti yang menerangkan tahun pembangunan masjid ini, namun hasil uji karbon terhadap kusen asli masjid ini membuktikan bahwa usia masjid ini memang sudah lebih dari seribu tahun.

Lampu antik di Masjid Cheraman (foto dari cheramanmosque) 
Masjid kuno ini memiliki sebuah lampu minyak yang sudah sangat tua dan dipercaya sudah berumur lebih dari seribu tahun namun masih berfungsi dengan baik dan tetap menyala hingga kini. Pengunjung dari berbagai kalangan termasuk pengunjung non Islam pun diperkenankan berkunjung dan menambahkan minyak di lampu ini sebagai sebuah pemberian. Masjid ini menjadi salah satu dari sedikit masjid yang memperkenankan pemeluk lintas agama untuk berkunjung. Beberapa tahun terahir masjid ini bahkan juga dipakai untuk upacara vidyarambham sebuah ritual hindu untuk menandai permulaan belajar bagi kanak kanak.

Arsitektur

Masjid Jami’ Cheraman dibangun dengan gaya tradisional Hindu, menggunakan lampu minyak berbahan kuningan. Mimbar berukir masjid ini dibuat dari kayu mawar, tempat khatib menyampaikan khutbah di hari Jum’at. Sementara sebatang balok marmer di dalam masjid ini dipercaya dibawa langsung dari Mekah.

Bangunan yang kini berdiri merupakan hasil renovasi terahir tahun 1984, bentuk bangunan lama bertahan hingga tahun 1958 seperti dalam photo dalam bentuk bangunan sederhana dengan denah yang serupa dengan bangunan saat ini. interior bangunan asli masih dipertahankan keasliannya hingga kini termasuk lampu antik, mimbar dan mihrab masjid hingga kusen jendela dan pintu serta beberapa pernik pernik lainnya.


Kunjungan Presiden Abdul Kalam ke masjid Cheraman
(foto dari 
cheramanmosque) <
Pengurus Masjid

Kepengurusan masjid dipilih dalam periode dua tahun sekali. Jemaah masjid ini tercatat sekitar 1500 kepala keluarga atau sekitar 10ribu jiwa. Pemilihan kepengurusan masjid ini diselenggarakan oleh jemah dewasa untuk memilih diantara para jemaah yang terpercaya untuk menjadi pengurus masjid.

Kunjungan dari berbagai pihak

Masjid Cheraman ini telah lama menarik perhatian tokoh tokoh masyarakat India termasuk Presiden India yang pernah berkunjung ke masjid ini. Presiden India ke 12 Abdul Kalam pernah menyempatkan diri berkunjung ke masjid ini pada tanggal 29 Juli 2005. Demikian juga dengan beberapa pejabat pejabat pemerintah India.

Video Masjid Jami’ Cheraman


Foto foto masjid Jami’ Cheraman

Masjid Cheraman 1958 (foto dari cheramanmosque) 
Interior Masjid Cheraman (foto dari Dari en.wikipedia)
Masjid Cheraman (foto dari Dari en.wikipedia)
Referensi

en.wikipedia – Ceraman Juma Masjid
keralatourismblogs - Cheraman Juma Masjid
kerala-travel - Cheraman Juma Masjid
outlookindia - Pliny Was Here
sites.google.com – chakravatifarmas
1malabari,net – the first masjid in india
situs resmi masjid cheraman - http://www.cheramanmosque.com