Saturday, January 8, 2011

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag, Belanda (Bagian I)

Masjid Al-Hikmah Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag, Belanda

Resminya masjid ini bernama Masjid Al-Hikmah terletak di Heeswijkpein, Moerwijk kota Den Haag, Negeri Belanda. Berdirinya Masjid Al-Hikmah memperpanjang deretan jumlah masjid di Belanda. Pada 1990 saja, jumlah masjid sudah mencapai 300 di seluruh Belanda. Masjid Al-Hikmah ini juga bukan masjid pertama yang didirikan oleh Muslim Indonesia atau muslim yang memiliki keterikatan dengan Indonesia di Belanda. Sebelumnya sudah ada Mushola Al-Ittihad di Daguerrestr No 2 Den Haag, dan Masjid Maluku An-Nur di Balk yang didirikan oleh muslim mantan pasukan KNIL di tahun 1950-an.

Dari sudut manapun kita memandang masjid Al-Hikmah yang -
dikelola PMME ini sama sekali tak berbentuk seperti masjid yang
biasa kita kenal. 
Menjadi cukup menarik karena sebelumnya di blog ini juga di postingan sebelumnya kita telah mengulas masjid Indonesia di New York City, Amerika Serikat yang memiliki nama yang sama dengan masjid Indonesia di Den Haag ini. Sama sama bernama Masjid Al-Hikmah. Masjid Al-Hikmah di Den Haag ini dikelola oleh PPME berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag. Masjid Al-Hikmah tak hanya di ramaikan oleh warga Indonesia tapi juga turut diramaikan oleh kaum muslimin dari berbagai warga negara di Den Haag termasuk dari Turki, Maroko, dan muslim Belanda, terutama di sholat jum’at dan dua sholat hari raya.

Lokasi Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Mesjid berlantai dua ini berada persis di seberang jalur trem 16 menuju Wateringen. Berikut alamat lengkap masjid ini menurut foursquare. Berkat petunjuk dari situ situ juga kutemukan lokasi masjid ini di google maps. Maklum karena situs resmi PPME sendiri tak mencantumkan peta masjid ini. (please feel free to feed back if the place i pointed is not correct)

Masjid Al-Hikmah
Heeswijkplein 170-171
btw Medlerstraat & Heeswijkplein
Den Haag, The Netherlands


Sejarah Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Masjid Bekas Gereja Immanuel. Wakaf H. Probosutedjo

Dari luar, bangunan itu tidak mirip dengan masjid umumnya. Rumah panjang bertingkat dua, tanpa kubah. Suasana masjid baru terlihat ketika masuk ke dalam. Ada mihrab dan bentangan sajadah. Masjid Al-Hikmah di Heeswijkpein, Moerwijk kota Den Haag itu awalnya adalah gereja Immanuel.

Pada akhir 1995, di saat umat Islam Indonesia berupaya keras mengumpulkan dana untuk mendirikan masjid, setelah musholah Al-Ittihad tidak dapat lagi menampung jamaah yang terus bertambah. Adalah Bapak H. Probosutedjo, pengusaha Indonesia, yang membeli gereja tersebut seharga sekitar 1.350.000 golden dan mewakafkannya atas nama kakaknya RH Haris Sutjipto, yang wafat di Leiden, Desember 1995 setelah dirawat di kota itu. 

Susana di deopan Masjid setelah Sholat Idul Fitri (foto dari Budi Adi Tirta di flickr)
Masjid itu diserahterimakan Pak Probo untuk umat Islam pada 1 Juli 1996 atau 15 Safar 1417 H. Awal mulanya masjid ini akan diberi nama Al-Ikhlas, tapi kemudian oleh Probosutedjo nama itu diubah dengan nama Al Hikmah. Pemilihan nama ini langsung disampaikan oleh Probo saat meresmikan masjid ini.

Dipilihnya bekas bangunan gereja untuk masjid ini tak lepas dari permasalahan tidak mudahnya mendirikan bangunan baru di Belanda, sementara ketika itu banyak gereja yang tidak lagi difungsikan dan dijual kepada umum. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, salah seorang pendiri PPME, masyarakat sekitar gereja lebih senang gereja itu dijadikan masjid daripada digunakan untuk kepentingan lain, diskotik misalnya. Gereja Immanuel itu kini menjadi masjid. Lantai bawah digunakan untuk pengajian dan kegiatan remaja Islam. Lantai atas untuk shalat. Pada Ramadhan, masjid Al-Hikmah dipenuhi warga Indonesia, yang diperkirakan lebih 5.000 orang.

Interior Masjid Al-Hikmah, Den Haag. Interior masjid ini memang minim dekorasi. 
di bagian ujung terlihat kaligrafi khas Aceh yang dipasang menghias masjid. (foto dari PPME)
Masjid Al-Hikmah Den Haag ini merupakan berkah sendiri bagi muslim Indonesia di Den Haag, mengingat sekarang kini tersiar kabar bahwa pemerintah Belanda sudah mengeluarkan aturan yang melarang penjualan gereja tak terpakai untuk di ubah menjadi masjid. Gereja gereja tak terpakai di arahkan untuk di alih fungsi menjadi perkantoran ataupun tempat tinggal. Lagipula bila pembelian gedung dilaksanakan saat ini, sudah pasti harganya sudah jauh melambung tinggi.

Proses renovasi gereja menjadi masjid

Karena bangunan awalnya adalah sebuah gereja yang dilengkapi dengan mimbar gereja serta balkon, maka terlebih dulu dilakukan beberapa renovasi. Bahkan lantainya dulu tidak rata karena dibuat miring untuk jemaah gereja. Seperti gedung teater. Karena itulah dilakukan renovasi. Lantai dua yang kini biasa digunakan untuk salat Jumat, Tarawih, sekaligus Idulfitri, diratakan dengan cara ditutup gabus khusus. Bahkan pemanas ruangan berada di bawah lantai sehingga saat winter (musim dingin), suhu ruangan tetap hangat bagi jemaah. Selain merenovasi lantai, Masjid Al Hikmah juga berbenah agar terlihat lebih Islami sebagai tempat ibadah umat muslim.

Kaligrafi karya Ustadz Ali Mahfud di Masjid Al-Hikmah Den Haag
(foto dari dutakaligrafi)
Pendirian bangunan di Belanda memang tak mudah, jangankan untuk mendirikan bangunan baru ataupun mendirikan masjid, untuk sekedar membuat lukisan kubah disetiap jendela masjid Al-Hikmah ketika dalam renovasi untuk mengubahnya dari sebuah gereja menjadi bangunan yang layak untuk sebuah masjid, takmir masjid harus meminta izin kepada pihak pemerintah kota atau Gementee. Bahkan gambar kubah yang akan dipakai juga harus disetujui terlebih dahulu. Tidak boleh sembarangan menambah apa pun yang terlihat di luar bangunan masjid.

Selain itu, bila di kampung-kampung di Indonesia, sering terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran dari pengeras suara di surau-surau dan masjid masjid, maka di Belanda, kita tidak akan pernah mendengarnya. Masjid memang tidak diperkenankan memasang pengeras suara di luar. Pengeras suara hanya ada di dalam ruangan. Di tahun 2009, interior masjid Al-Hikmah diperindah dengan lukisan kaligrafi karya kaligrafer Indonesia KH Ali Mahfudz Suyat MA yang sengaja di datangkan ke Den Haag Belanda untuk memperindah Masjid tersebut. Beliau juga yang kemudian menjadi imam dan khatip sholat Idul Fitri di Masjid Al-Hikmah tahun 2009.

Berikut ini video sekilas Masjid Al-Hikmah Den Haag


Foto foto Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Jemaah Sholat Ied di Masjid Al-Hikmah yang membludak hingga keluar masjid

(foto dari wartakota)
Susana diluar masjid di cuaca musim gugur setelah sholat ied (detikfoto)
Sebelum Sholat Idul Fitri dilaksanakan Panitia masih melakukan penerimaan Zakat
Mal dan Zakat Fitrah (detikfoto)
Jemaah idul fitri yang membludak di dalam masjid (detikfoto)
Muslimah Indonesia di Den Haag, Belanda

Lanjutkan membaca ke bagian II

9 comments:

  1. kalau dari melived jauh tidak...trims

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naik KA ke centruum trus moerwijk...dari situ jalan kaki aja. Salam, Bambang Suprihatin, UNSRI

      Delete
  2. jarak mesjid dengan melived berapa kilo

    ReplyDelete
    Replies
    1. lumayan,, anda harus jalan kaki ke centraal stasiun dan naik tram 16 arah Wateringen kemudian turun di halte Heeswijksplein, lalu turun dari tram menyebrang ke kiri dan letakknya pas di depan halte,, tapi jangan kaget karena bangungannya tidak sperti masjid

      Delete
  3. maaf...informasi tentang komunitas remaja dan pemuda muslim di belanda bisa saya dapatkan dimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. PPME Den Haag, dan PPME Nederland untuk semua cabang cabangnya diBelanda, silahkan lihat di FB

      Delete
  4. Untuk saudara-saudara yang sedang belajar atau tinggal di Netherland harus bersabar. Saya yakin bagaimanapun sedihnya karena tidak bisa berhari raya dengan keluarga tercinta namun disana bisa berhari raya dengan sesama bangsa. Semoga Alloh memberikan saudara-saudari kebahagiaan, kesuksesan, dan keselamatan. Selamat berhari Raya.

    M. Masyhur Riady MF (Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia)

    ReplyDelete
  5. assalamualaikum. akhi Masyur. ngin sekali saya tinggal di Belanda. apa ya persyaratan untuk bisa tinggal disana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertama Asil Politik, Kedua Menikahi "seseorang" yang mempunya papsort belanda atau yang sudah punya izin tinggal permanent semacam green card di Amrik, dan atau bisa juga melakukan kontrak samen leven ( living toegether ) didepan notaris dengan "seseorang" dg kriteria diatas, Ketiga jika anda berpendidikan akademis dan melamar pekerjaan di NL a.l via internet, klo berhasil diterima, maka calon induk semang anda akan mengurus sendiri ijin kerja dan izin tinggal buat anda dan biasanya proses pengurusannya tsb akan makan waktu sekitar 6-12 bulan ! Kalo yang tidak resmi alias yang cuma pakai visa tourist terus ngendon dan selanjutnya kerja gelap srabutan disana, juga bisa, cuma jangan sampai ketipu oleh para calo tkw di Ind yg diantaranya puluhan bahkan ratusan yg jadi korban sampai kena antara 20-100 juta ! Sukses Ibu, Bapak dan saudara/i sekalian !

      Delete

Dilarang berkomentar berbau SARA