Wednesday, February 24, 2010

Masjid-Masjid di Inggris Yang Dulunya Gereja

Di saat umat Kristen Inggris “lari” dari gereja, umat Islam ambil alih tempat mereka untuk dijadikan masjid

Hidayatullah.com–Di Peace Street 20 Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang amat berwibawa, yang lengkap dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton, terutama yang memeluk Islam, bahkan tiap pekannya, ribuan umat Islam hadir di tempat ini, guna melaksanakan shalat Jumat. Gedung itu tidak lain adalah Masjid Zakariyya.

Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu antara tahun 1965 hingga 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum memiliki tempat permanen untuk melaksanakan shalat. Untuk melakukan shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah diskotik dan tempat dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya di hari Jumat tempat itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai tempat melaksanakan shalat Jumat.

Karena jumlah jama’ah semakin bertambah, maka diperlukan tempat besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang bisa digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center. Pada tahun 1967, ada penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa dijual karena terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling dari komunitas Muslim lokal, akhirnya bangunan itu menjadi milik umat Islam. Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.

Tidak hanya Masjid Zakariyya, beberapa masjid Inggris pun memiliki kisah yang hampir sama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni sama-sama berasal dari gereja yang dijual, baik karena kehilangan pengikut, atau karena sebab lainnya. Berikut ini masjid-masjid yang dulunya merupakan gereja:

Masjid Jami’ London

Tempat ibadah ini juga dikenal dengan sebutan masjid Brick Lane, karena posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu, merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000 jama’ah. Walau demikian luas, masjid ini belum bisa menampung seluruh anggota jama’ah shalat Jumat, hingga sering kali jama’ah meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama’ah merupakan keturunan Banglades, hingga wilayah tersebut disebut Banglatow.

Masjid ini memiliki sejarah yang sangat unik dan panjang. Awalnya, bangunan yang didirikan sejak tahun 1743 ini adalah gereja Protestan. Dibangun oleh komunitas Huguenot, atau para pemeluk Protestan yang lari dari Prancis untuk menghindari kekejaman penganut Katolik. Akan tetapi, karena jama’ahnya menurun, maka gereja ini dijual.

Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, dengan cara mengajarkan Kristen dengan akar ajaran Yahudi. Tapi, program ini juga gagal. Dan bangunan diambil oleh komunitas Metodis pada tahun 1819.
Komunitas Metodis cukup lama “memegang” gereja ini. Walau demikian, pada tahun 1897, tempat ini diambil oleh komunitas Ortodok Independen dan berbagi dengan Federasi Sinagog yang menempati lantai dua.

Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, karena mereka pindah ke wilayah utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut hingga tahun 1976. Setelah itu gedung itu dibuka kembali, dengan nama barunya, Masjid Jami’ London.

Masjed Didsbury


Masjid ini terletak di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester. Gedung yang digunakan sebelumnya merupakan bekas gereja komunitas Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno, karena telah beroprasi sejak tahun 1883. Akan tetapi, pada tahun 1962 gereja ditutup, dan beralih menjadi masjid dan islamic center. Masjid ini, kini mampu menampung 100 jama’ah, dan yang bertanggung jawab sebagai imam dan khatib hingga kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.

Masjeed Brent


Terletak di Chichele Road, London NW2, dengan kapasitas 450 orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya ditambah kubah kecil berwarna hijau di beberapa bagian bangunan dan puncak menara.

New Peckham Mosque


Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya, gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.

Central Mosque Wembley

Masjid ini terletak di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley Park Station. Daerah ini memiliki komunitas Muslim besar dan banyak toko Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini sebelumnya juga merupakan bekas gereja. Walau sudah terpasang kubah di puncak

menaranya, tapi kekhasan bangunan gereja masih nampak jelas. Dengan demikian, siapa saja yang melihatnya, akan mengetahui bahwa bangunan itu dulunya adalah gereja.

Selain masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga sudah dibeli oleh Masjid Jami’ Essex dengan harga 850 ribu pound sterling. Gereja dijual, karena jama’ah berkurang, sehingga kegiatan peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja ini sudah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja akan dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend. Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.

Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, “gereja bekas” itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300 jama’ah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk berwudhu dan sebuah menara. [http://www.hidayatullah.com/]

Israel Kuasai Masjid Ibrahimi dan Bilal


Israel terus mnyasar tempat-tempat suci umat Islam dan mengklaimnya sebagai warisan peninggalan bangsa Yahudi

Hidayatullah.com--Anggota Polit Biro Hamas, Izzat Al-Rishiq, mengecam tindakan Israel yang menganeksasi Masjid Ibrahimi di Hebron dan Masjid Bilal di Bethlehem dan mengklaimnya sebagai 'Jejak Warisan Yahudi'. Al-Rishiq menegaskan bahwa hal itu merupakan bentuk lain aggresi terhadap Palestina dan tempat-tempat suci mereka.

Al-Rishiq menyeru orang-orang Palestina dan faksi-faksi yang ada untuk melawan dengan segala cara keputusan Israel tersebut. Demikian Pusat Media Informasi Timur Tengah melaporkan (23/2).

Israel berupaya membangun jejak-jejak peninggalan sejarah dan mengklaimnya sebagai warisan bangsa Yahudi, sebagai bagian dari mempertahankan eksistensi negara Yahudi Israel.

Dalam pidatonya di depan kabinet, sebagaimana termuat di sebuah situs sejarah di Galilae Ahad (21/2), Netanyahu mengatakan bahwa kedua situs tersebut telah dimasukkannya ke dalam daftar 'Jejak Warisan Yahudi'. "Eksistensi kita di sini, tidak hanya bergantung kepada kekuatan militer dan ekonomi, serta teknologi yang kita miliki," kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. "Negara Yahudi Israel, pertama dan paling utama berakar pada warisan emosional dan nasional kita."

Sekitar 150 situs sejarah dimasukkan ke dalam daftar, termasuk di antaranya Tel Hai, lokasi pertempuran legendaris tahun 1920 antara Yahudi yang pertama kali menjejakkan kaki untuk mendirikan negara Israel, dengan orang Arab yang merupakan penduduk asli setempat. Dan tentu saja daftar paling teratas adalah Masjid Al-Aqsa.

Jurubicara Otorita Palestina, Ghassan Khatib, mengutuk keputusan tersebut dan menegaskan bahwa tindakan Israel hanya membawa konflik Palestina-Israel ke arah yang lebih buruk."Kami yakin pelanggaran ini sangat berbahaya, karena akan menambahkan unsur agama dalam konflik yang telah ada," kata Ghassan.

Tentunya Israel yang terkenal licik mengelak dari semua kecaman yang ditujukan pada mereka. Mark Regev, juru bicara Netanyahu mengatakan bahwa penetapan 'Jejak Warisan Yahudi' bukan dimaksudkan untuk membuat batas wilayah negara."Tujuan dari daftar itu adalah hanya untuk menandai situs-situs yang memiliki arti sangat penting bagi orang-orang Yahudi," kata Regev.

Ahad malam lalu dikabarkan sekitar 50 pemukim Yahudi menyerbu kota Yerikho di lembah Sungai Yordan. Mereka ingin menguasai sebuah tempat yang diklaim sebagai lokasi sinagog kuno.

Hari Ahad pula Arieh Eldad, seorang anggota parlemen dari partai garis keras Persatuan Nasional, melakukan tur ke Hebron."Tidak ada warisan Israel tanpa kitab suci, tidak ada Zionis tanpa kitab suci," katanya kepada Radio Israel. "Ini adalah tempat kelahiran asli dari bangsa Yahudi. Semuanya berawal dari sini," kata Eldad.

Fakta ini seharusnya cukup menjadi bukti untuk menyangkal pendapat orang-orang yang menganggap bahwa konflik Palestina-Israel adalah konflik biasa, sekedar masalah perebutan tanah. [hidayatullah.com]

Monday, February 8, 2010

Masjid Aceh di Pulau Pinang - Malaysia


Masjid Aceh di Pulau Pinang - Malaysia

Di Pulau Pinang, Negara bagian Malaysia, ada sebuah kampong Aceh atau Lebuh Aceh dengan masjid Lebuh Aceh sebagai land marknya. Sesuai namanya, kampung dan masjid ini memang didirikan oleh orang Aceh.

peta lokasi masjid Aceh di Pulau Pinang - Malaysia
Adalah Tengku Syed Hussain Al-Aidid, saudagar kaya dari Aceh keturunan Hadramaut juga kerabat kerajaan Aceh datang ke Pulau Pinang pada tahun 1792. disana beliau mendirikan sebuah perkampungan Islam. Kala itu pulau pinang memang baru dibuka oleh Kapten Sir Francis Light di penghujung abad ke 18.

makam Tengku Syed Hussain Al-Aidid
Dengan kekayaan yang dimilikinya Tengku Syed Hussain Al-Aidid membina kawasan pemukiman dan perdagangan di kampung yang baru dibangun tersebut dan juga mendirikan sebuah masjid berikut madrasah Al-qur’an yang kini terkenal dengan masjid Lebuh Aceh ataupun juga disebut dengan Masjid Acheen.

Masjid Aceh dari arah lebuh canon
Masyatakat Aceh cukup berjaya di Penang tidak terbatas hanya pada masa Tengku Syed Al-Idid tetapi selepas kematian beliau pada pertengahan abad ke 19, perkampungan ini terus berkembang maju dan telah mencapai kegemilangannya hingga akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20.Teuku Nyak Putih, ayahanda seniman legendaris melayu P. Ramlee-pun adalah satu diantara banyak orang Aceh yang sukses di Penang.

Berikut rekaman keindahan masjid Lebuh Aceh 
koleksi detik.com dan penangtraveltips

Interior Masjid Aceh di Pulau Pinang
sama seperti di Indonesia dilarang pakai alas kaki, dilarang tidur -
di dalam masjid. Mau tidur ya dirumah aja.
Fasad bangunan dan menara masjid ini masih asli
Menara Masjid Aceh di Pulau Pinang, Sangat khas
Pintu utama masjid Aceh di Pulau Pinang

Friday, February 5, 2010

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas


Masjid Tua Patimburak, Kokas, Kabupaten Fak Fak, Papua Barat.

Bila anda berkesempatan berkunjung ke distrik Kokas kabuten Fakfak, Provinsi Papua Barat, jangan lupa mampir ke Masjid Tua Patimburak. Masjid kecil, tua nan indah dari masa lalu menandai hadirnya Islam di tanah papua sejak tahun 1700 yang lalu.

Distrik kokas, terkenal dengan objek wisata lukisan di tebing bebatuan terjal. Oleh masyarakat setempat, tebing bebatuan terjal ini biasa disebut Tapurarang. peninggalan sejak zaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras. Masih ada objek menarik yang  lain yaitu sisa-sisa peninggalan Perang Dunia ke-II yang terdapat di kota ini. Kota yang dijadikan basis pertahanan tentara Jepang melawan sekutu di periode 1942/1945. Bangunan goa atau benteng Jepang yang terdapat di pusat kota Kokas. Menjadi saksi bisu peristiwa sejarah itu.


Meski belum ada literatur yang melukiskan asal usul kehadiran kaum Muslim di Fakfak. Tetapi, kenyataan, hampir 60 persen warga Fakfak dan sekitarnya menganut agama Islam. Menjadikan Fak Fak sebagai kabupaten dengan pemeluk Islam terbesar di Papua Barat. Tak hanya warga pendatang, tetapi penduduk asli dengan warna kulit hitam dan rambut keriting sudah sejak ratusan tahun silam menganut agama Islam. Mesjid Patimburak yang didirikan tahun 1700-an adalah bukti sejarah Islam di Fakfak. 

Tokoh muslim Fakfak, Syamsu ZA Tukuwain, mengatakan, kehadiran Islam di Fakfak bukan impor dari luar Papua. "Mesjid tertua di daerah ini adalah masjid Patimburak sekitar 100 km dari Fakfak. Mesjid ini dibangun persis di bibir pantai Kampung Patimburak dengan mengambil arsitektur seperti kebanyakan bangunan tua di Eropa," kata Tukuwain.

Kaum Muslim di Fakfak datang dari masa kesultanan Tidore dan Ternate yang berkuasa pada tahun 1200-1400. Masjid Tua Patimburak yang berlokasi di Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Masjid ini menjadi bukti sejarah syiar Islam sesungguhnya telah menyentuh tanah Papua beratus tahun lampau. Bangunan masjid seluas tak lebih dari 100 meter persegi ini didirikan pada 1870 oleh Imam Abuhari Kilian.

Jika bertandang ke masjid tua ini, terselip atmosfer religi yang menyembul di antara belantara. Masjid ini berada di kampung yang dihuni tak lebih dari 36 kepala keluarga. Kesederhanaan terasa menyatu antara masjid dan kehidupan masyarakatnya. 

Masjid Patimburak yang telah beberapa kali direnovasi ini memiliki keunikan pada arsitekturnya. Perpaduan bentuk masjid dan gereja terlihat jelas. Ini menunjukkan toleransi sudah tumbuh lama di Kokas. Empat pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid masih menggunakan material yang asli.

Penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad ke-15, Kesultanan Tidore mulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk agama Islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama Islam mulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore termasuk Kokas.

Pada masa penjajahan, masjid ini pernah diterjang bom tentara Jepang. Hingga kini, kejadian tersebut menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid.

Untuk mencapai lokasi Masjid Tua Patimburak, Anda sebelumnya harus menempuh perjalanan darat dari Fakfak ke Kokas. Tersedia angkutan luar kota dari terminal kota Fakfak. Sekitar dua jam, menyusur jalanan berkelok dan segarnya udara pegunungan bisa dinikmati. Tiba di Kota Kokas, perjalanan menuju Kampung Patimburak harus dilanjutkan menggunakan longboat sewaan sekitar satu jam. Pulau-pulau karang menawan menjadi pemandangan yang tersaji.

Menurut cerita turun temurun masjid tersebut dibangun dimasa Raja Wertuer I bernama kecil Semempe. Saat itu, tahun 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah kepercayaannya.

Maka ia membuat sayembara: misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu. 

Masjid lah yang berdiri pertama kali Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian menjadi imam juga, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat di bahunya. Masjid itu kini masih berdiri megah di pinggir teluk Kokas, dan masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya.

Dari berbagai sumber, photo photo dari citizentimage.kompas

----------------------ooOOOoo---------------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya



Thursday, February 4, 2010

Potret Kearifan Lokal Masjid Mali


Di pelosok Republik Mali (di Afrika Barat) masjid lumpur dan tanah liat lokal berukuran kecil merupakan pemandangan menakjubkan, khususnya bagi pecinta arsitektur. Mereka layaknya jaringan hidup yang tersisa dari arsitektur kuno.

Tipe arsitektur vernakuler tersebut rupanya masih jarang didokumentasikan. Meskipun banyak yang menyoroti dan mengangkat budaya Sudan, seperti UNESCO, dan beberapa pembuat film dan buku dokumenter, namun masih jarang yang menyentuh masjid-masjid lokal lumpur kecoklatan tanpa nama di desa-desa negara itu. Bahkan tidak pula turis, yang kadang melewati masjid-masjid kecil itu, sebelum melihat keindahan arsitektur masjid di Djenne dan Timbuktu.

Seorang siswa fotografi asal Eropa, Sebastian Schutyser, menemukan keindahan dan kesederhanaan masjid-masjid lumpur lokal tersebut saat melakukan perjalanan dengan sepeda keliling Sudan (kini Mali) selama 1996 hingga 1997. Mengetahui benar kurangnya dokumentasi terhadap arsitektur membumi itu, ia pun memutuskan untuk melakukan proyek fotografi mendalam.

Ia melakukan survey terhadap masjid khususnya di Delta Pedalaman Niger. Area ini merupakan pelabuhan bagi sejumlah besar masjid-masjid lokal--sekurangnya di 2.300 desa--dengan desain berbagai rupa. Menurut sejarah, area tersebut memainkan peranan penting dalam periode awal penyebaran Islam di Afrika Barat, demikan yang ditemukan oleh Sebastian dalam riset fotografinya.

Sebastian sendiri melakukan upaya keras lebih dari sekadar menambah stok perbendaharaan foto. Ia juga berusaha menangkap keaslian serta keindahan arsitektur yang dipandang sebelah mata tersebut. Dari hasil jepretannya, ia menemukan setiap masjid memiliki karakternya sendiri, ditentukan oleh morfologi dan permukaan struktur konstruksi bangunan.

Tipologi Masjid Lumpur Cerminan Kesederhanaan Lokal

Masjid-masjid di Afrika Barat merupakan deretan arsitektur masjid yang dianggap paling sesuai dan berhasil memenuhi standar arsitektur masjid yang diharapkan, terlepas dari sebagian besar tidak didirikan oleh arsitek, melainkan penduduk lokal. Di dalamnya terdapat kiblat yang ditandai oleh mihrab, menara masjid, interior dengan ruang utama  besar di batasi kolom-kolom, dan di saat yang sama, bentuk-bentuk tersebut menjadi penanda kuat era paska-Bizantium, awal kerajaan Islam.

Banyak pengama fotografer menganggap hasil karya Sebastian terlalu melebihkan dan menambah tampilan kualitas masjid sesungguhnya di sana. Terutama dari kesengajaan untuk meniadakan manusia dalam hasil jepretannya. Tapi langkah itu membuat orang lebih fokus terhadap material dan bentuk. Dua hal yang menjadikan desain masjid lokal terlihat unik, terutama sangat sesuai dengan konteks setempat, iklim gurun yang keras, dan budaya masyarakat, namun tetap mampu berfungsi seperti halnya masjid, yakni untuk bertemu dan beribadah.

Arsitektur masjid-masjid lumpur tersebut memang sangat terkait erat dengan arsitektur rakyat setempat. Materi-materi yang digunakan memiliki pertimbangan baik ekonomi dan kecocokan iklim yang luar biasa panas. Tanah liat dan lumpur dijadikan semen sekaligus plaster. Keterbatasan kayu serta harganya yang tinggi membuat penduduk menggunakan kayu palem sebagai penopang, kuda-kuda, sekaligus atap.

Dinding dibuat tebal dan menipis keatas, cara untuk mencegah ruang di dalam menjadi panas plus mendukung struktur dua lantai, serta atap. Selama siang, dinding tebal itu akan menyerap panas dari luar, sehingga menjaga interior tetap sejuk. Ketika malam, udara panas disimpan dinding merembes ke ruang menjadikan udara dalam masjid hangat meski perubahan suhu udara gurun ekstrim terjadi di luar.

Beberapa struktur yang ditemukan konstruksi-konstruksi masjid juga memiliki ventilasi atap dengan penutup keramik. Biasanya keramik penutup ini dibuat oleh kaum wanita dan dapat dipindahkan di malam hari untuk aliran udara ke dalam ruang

Kayu-kayu palem yang dijadikan penopang dalam konstruksi bangunan tidak sekedar berfungsi sebagai balok, melainkan penopang permanen bagi pekerja yang setiap tahun memlaster ulang masjid-masjid tersebut dengan lumpur kala ferstival musim panas. Kayu palem tersebut juga meminimalkan tegangan beban yang dipicu temperatur ekstrim dan perubahan drastis kelembaban udara. Ciri unik lain masjid lumpur lokal adalah menara sering kali diberi penutup ujung spiral dengan telur burung unta di atasnya, menyimbolkan kesuburan dan kemurnian.

Proyek Foto Masjid Mali

Proyek fotografi Sebastian dimulai pada 1998. Selama beberapa bulan ia berkelana dari satu desa ke desa lain dengan sepeda kayuh, dengan bantuan navigasi di atas pohon beserta peta berskala 1:200.000. Sebastian sendiri mengaku beruntung, area yang sebagian besar sulit diakses tersebut tak akan mungkin dimasuki tanpa bantuan warga setempat yang terkejut mendengar ia sedang mendokumentasikan masjid-masjid lokal milik mereka.

Dari 111 masjid yang ia jepret, ia memilih beberapa foto dan dicetak berukuran 94 x 120 cm untuk dipampang dalam pameran fotografi  Maison EuropĂ©enne de la Photographie di Paris.

Kemudian pada Oktober 2001 hingga Maret 2002, Sebastian melanjutkan proyeknya atas bantuan dana dari Aga Khan Trust for Culture. Selain dalam format berwarna, Sebastian sengaja selalu membidik objek juga dalam format hitam putih, sehingga ia praktis memiliki dua macam koleksi. Kini total ia memiliki 515 koleksi fotografi masjid penduduk lokal Mali.

Tujuan Sebastian membidik dalam format hitam putih ialah untuk menghasilkan atmosfir modern, dalam arsitektur kuno rakyat setempat. Ia meyakini cara itu mampu mengangkat masjid-masjid tersebut di permukaan. Ia berharap usahanya akan mendorong para pakar melakukan kajian yang sudah seharusnya dilakukan./berbagaisumber/itz



Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat


Masjid Menara Kudus (foto dari panoramio)

Masjid Menara Kudus punya gapura yang bentuknya berbeda dengan bangunan masjid pada umumnya di Indonesia. Gapura dan bangunan menara terbuat dari tumpukan batu merah yang menyisakan daya pikat.


Pada bulan Ramadhan, masjid kuno tersebut masih tetap menarik. Bukan saja bagi wisatawan manca negara, tetapi juga para peziarah domestik banyak berdatangan ke tempat tersebut. Banyak wisatawan lokal yang nampak khusuk membaca Alquran di sisi gapura yang berada di dalam masjid. Sengaja mendekati gapura tersebut dengan maksud agar lebih khusuk ketika berdoa. Gapura yang berada dalam masjid tersebut tetap kokoh seperti bentuk aslinya yang kaya nilai historis.

Pada Ramadhan, Masjid Menara Kudus ramai dikunjungi umat Muslim dari berbagai penjuru tanah air. Tak terkecuali para pedagang pun memanfaatkan momentum bulan suci itu untuk meraih keuntungan sambil menjajakan dagangannya di seputar kawasan masjid bersejarah tersebut.

Banyak di antara peziarah memanfaatkan Ramadhan ini selain untuk beritikaf, juga menziarahi makam Sunan Kudus yang lokasinya di sisi barat masjid tersebut. Usai membaca Alquran dan berdoa, para peziarah mengambil wudhu di kolam bagian luar kompleks makam yang terkenal dengan air sejuknya.

Lokasi Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Masjid ini kini menjadi salah satu tempat bersejarah penting bagi umat Islam di Jawa.


Lihat Masjid Menara Kudus di peta yang lebih besar

Menurut sejarahnya, masjid tersebut berdiri pada 956 Hijriah atau 1549 Masehi dengan nama Masjid Al-Aqsa. Tempat itu dinamakan sama dengan salah satu masjid di Palestina yang kini tetap menjadi perhatian internasional itu.

Menurut kajian historis, adalah Ja`far Sodiq (kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus) yang pernah membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis di Palestina untuk batu pertama pendirian masjid yang kemudian diberi nama masjid Al-Aqsa di Kudus itu.

Belakangan justru masjid tersebut populer dengan panggilan Menara Kudus. Hal ini lantaran merujuk pada menara candi di sisi timur yang memakai arsitektur bercorak Hindu Majapahit.

Ketika Islam masuk ke Nusantara, menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, memang dengan bijak para penyebar Islam menghargai tradisi leluhur yang dijumpai sambil memperkenalkan ajaran Al Quran. Sehingga, antara agama dan budaya setempat saling menopang dan saling mengisi. Agama tak berkembang tanpa wadah budaya dan budaya akan hilang arah dan ruh tanpa bimbingan agama.

Keunikan bentuk masjid ini memang sulit dilupakan. Pasalnya, bentuk ini tak ada yang menyamai di seluruh dunia. Bentuk arsitekturalnya khas dan mempesona. Menurut salah seorang pengunjung, untuk menghormati pemeluk agama Hindu, warga yang bermukim di Kudus tidak menyembelih binatang sapi, mengingat binatang tersebut dalam Hindu dihormati bagi pemeluknya. Mereka taat dan masih memegang wasiat Sunan Kudus.

Menurut sebuah laman, yang ditulis Bambang Setia Budi, bangunan menara Kudus mempunyai ketinggian 18 meter, berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar. Seluruh bangunan menggambarkan budaya khas Jawa-Hindu.

Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.

Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk.

Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.

Hubungan historis

Karena usianya, Masjid Menara Kudus menjadi perhatian para peneliti dan pelancong manca negara. Dalam berbagai laman ditemukan cerita bahwa masjid ini selain masih mempunyai kaitan historis dengan penganut Hindu masa Majapahit, juga punya hubungan historis dengan bangsa lainnya di dunia.

Suprapto, salah seorang pemerhati masjid ini menyebutkan lewat sebuah laman bahwa para ahli sejarah, peneliti, arkeolog, dan penulis buku sejarah kepurbakalaan, umumnya terfokus pada sejarah dan keunikan bentuk bangunannya saja.

Ternyata, kata dia, pernak-pernik Masjid Menara, terutama keramiknya, justru tak kalah menariknya dengan bangunan masjid. Lantas ia menceritakan temuan dua arkeolog asal Jepang, Sakai Takashi dan Takimoto Tadashi, yang meneliti dan menelusuri asal mula berbagai keramik di Masjid Menara tersebut. Hasilnya, dua di antara sekian banyak keramik yang menjadi semacam hiasan di Masjid Menara adalah buatan pabrik keramik di Vietnam abad ke-14 hingga ke-15.

Pabrik itu sudah cukup lama hilang dari peredaran. Sebaliknya, keramik buatan China masih terus berproduksi hingga sekarang. Salah satu penyebabnya, kualitas keramik buatan China lebih bagus.

Namun, bukan semata-mata masalah kualitas yang ditelusuri Sakai dan Takimoto, melainkan berhubungan dengan agama dan peradaban. Warga Vietnam secara umum beragama Hindu dan Buddha. Sedangkan Sunan Kudus, pendiri Masjid Menara, adalah salah satu Wali Songo di Indonesia.

Berdasarkan hasil penelusuran sementara mereka di sejumlah tempat bersejarah dan makam Wali Songo, keramik asal Vietnam pada saat itu paling banyak ditemukan. Ini sungguh menarik untuk ditelusuri.

Dua buah keramik buatan Vietnam di masjid tersebut, satu di antaranya menempel di atas "pintu" bagian utara. Bentuknya segi empat, dengan warna dasar putih, di bagian tengah berwarna sedikit kebiruan dengan motif bunga. Ini usianya paling tua, yaitu awal abad ke-14 atau sekitar tahun 1450.

Keramik satunya lagi menempel di "pintu" sebelah selatan, dengan bentuk lebih besar, lebih menarik, dan lebih didominasi warna biru dengan motif bunga. Umurnya lebih muda, yaitu sekitar menjelang atau awal abad ke-15. Keramik ini bermotif bunga yang "berbau" Vietnam dan bentuknya "berbau" Islam.

Motif dan bentuk semacam ini bisa ditemukan di Istambul. (Kpl/ICH)


Wednesday, February 3, 2010

Lautze, Masjid Ruko dengan Ornamen Klenteng


Jakarta - Jam menunjukkan pukul 10.30 pagi, suasana Pasar baru tampak lengang tak seperti biasanya. toko-toko baru beberapa ada yang menjajakan dagangannya. sebagai pusat perdagangan, Pasar Baru menyimpan pusat syiar Islam di kalangan masyarakat etnis Tionghoa. Ruko-ruko yang bergelimpangan dengan keuntungan yang menjanjikan, menjadikan Pasar Baru menjadi pusat bisnis perbelanjaan yang ada di Jakarta.

Namun di balik monumen-monumen keduniawian itu, persisnya di belakang Metro Pasar Baru ternyata masih tersisipkan sebuah domain spiritualitas. Namanya Masjid Lautze. Jangan bayangkan sebuah masjid gaya Arab atau Demak lengkap dengan menaranya. Masjid Lautze, bentuk fisiknya adalah sebuah ruko.

Sesuai dengan namanya, masjid ini terletak di Jalan Lautze 87 – 89, Jakarta. Saat awal berdirinya tahun 1991, masjid ini sekadar mengontrak ruko. Baru setelah tahun 1994, ruko itu dimiliki sendiri setelah sebelumnya dihibahkan oleh Wapres saat itu, BJ Habibie yang membelinya melalui PT Abdi Bangsa.

Pengelolaannya dilakukan oleh Yayasan Abdul Karim OEI. Nama ini mengambil nama tokoh msulim tionghoa yang juga pedagang sukses dan aktif dalam pergerakan nasional. Tahun 1995, yayasan kemudian membeli ruko di sebelahnya yang akhirnya disatukan dengan masjid lama. 

Sebagai tempat peribadatan muslim, Masjid Lautze memiliki ciri tersendiri. Ornamen-ornamen khas Cina yang menjadi kebudayaan asal pemeluknya tampak dominan dalam interiornya. Lihat saja pintu masjid, konsep pintunya serupa dengan pintu yang ada di klenteng atau vihara.
Bagian depan bangunan mesjid pun terkesan sangat oriental. Sementara di belakang mimbar, terdapat tergantung sepasang kaligrafi Arab ala Shu Fa atau kaligrafi Tionghoa asli buatan Beijing. untuk penyanggah masjid, tiang masjid berdiri dengan kokoh berwarna hijau serta 6 buah kipas angin untuk menyejukkan masjid.

Corak ornamen yang tak jauh beda dengan klenteng memang disengaja. “Masjid ini memiliki ornamen warna merah sesuai dengan etnis Tionghoa, maka masyarakat Cina tidak canggung untuk datang ke masjid ini.” tutur Hj. Anna Kirbrandiana, Sekretariat Yayasan Haji Karim OEI ditemui detikcom.

Masjid ini terdiri dari empat lantai. Lantai 1 & 2 pada mesjid dipergunakan sebagai tempat shalat khususnya shalat Jumat, untuk lantai 3 terdapat beberapa ruangan sebagai tempat sekretariat yayasan, serta tempat konsultasi agama serta bimbingan masuk Islam dan terdapat beberapa foto pendiri yayasan. sedangkan untuk lantai 4 dipergunakan sebagai ruang serba guna. ruang ini difungsikan pada saat bulan puasa seperti halnya buka puasa bersama, serta sebagai ruang tata cara pernikahan serta resepsi pernikahan.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Lautze  memang dipergunakan sebagai Pusat Informasi Islam khusus etnis Tionghoa. Saat ini, Masjid Lautze memiliki 3 cabang yakni, Tangerang, Bandung, dan Cirebon.

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu


Masjid Sang Ciptarasa, Cirebon (foto dari ciptarasa.cerbon.net)

Masjid itu terlihat kukuh. Pagar tembok setebal 40 cm dan setinggi 1,5 m mengelilingi rapat-rapat. Warna merah bata yang memulas sekujur tembok membuat makin berwibawa saja. Ya, pagar itu merupakan bagian dari Masjid Keraton Kasepuhan Cirebon, Masjid Sang Ciptarasa. Di dalam pagar yang menyerupai benteng itu, berdiri kukuh masjid yang berdiri sejak tahun 1478 lampau.

Masjid itu didirikan seiring dengan berdirinya Keraton Kasepuhan. Tak heran jarak antara masjid dan keraton hanya terpisah oleh alun-alun kecil seukuran lapangan bola. Menurut sejumlah pengusur masjid, keaslian masjid masih terjaga. Atap menggunakan genteng warna hitam tanah. Sementara dinding masjid menggunakan bata merah setebal 40 cm.

"Bangunan lama masjid hanya di bagian dalam ukuran 20x20 m," kata Salehudin (57), salah satu pengurus masjid Kasepuhan kepada detikcom, Selasa (9/9/2008). Sulit diterima bila bagian inti masjid merupkan tempat ibadah. Sebab, kokohnya dinding lebih menyiratkan benteng kecil tempat persembunyian.

Untuk memasukinya, hanya ada satu pintu utama yang berukuran normal. Selebihnya, pintu samping kiri dan kanan sangat mungil, hanya berukuran 1  m x 80 cm. Sehingga, perlu merunduk untuk memasuki bagian inti masjid. "Saat penjajah kolonial masih bercokol, masjid ini memang sempat menjadi salah satu persembunyian," imbuh Salehudin.

Ada berbagai versi mengenai awal dibangunnya masjid ini. Di antaranya, menurut catatan Keraton Kasepuhan, yang mengacu pada candrasengkala, masjid tersebut dibangun pada "waspada panembahe yuganing ratu". Kalimat ini bermakna  2241, alias 1422 Saka, sezaman dengan 1500 Masehi. Menurut Kretabhumi, dibangun pada 1489 Masehi. Pemimpin proyeknya Sunan Kalijaga. Ia melibatkan 500 tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit.

Sunan Kalijaga tidak sendiri, ia dibantu Raden Sepat, arsitek dari Majapahit. Sepat adalah tawanan perang Demak-Majapahit, yang diboyong Sunan Gunung Jati, salah satu senopati Demak. Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar. Luasnya 400 meter persegi. Tempat pengimaman menghadap ke barat, miring 30 derajat arah barat laut. Arah ini diyakini warga sekitar masjid tepat menuju Masjidil Haram, Mekkah.

Masjid terbagi lima ruang, yaitu ruang utama, tiga serambi, dan ruang belakang. Ruang utama adalah bangunan masjid yang asli. Lantainya dari terakota tanah atau tembikar, berukuran 30 x 30 sentimeter. Serambi bagian selatan disebut bangsal prabayaksa, dalam bahasa Jawa kuno berarti ruang pertemuan.

Kini, setelah berabad-abad ditinggalkan sang pendiri, aura kebasaran masa lalu masih tercium kental. Kombinasi antara arsitektur masa lalu, pulasan warna yang berkarakter dan tata wilayah yang khas menunjukan daerah itu sebagai pusat  kota pada masa lalu. Selebihnya, masjid di Jl Jagasatru tersebut sangat sejuk, teduh dan cocok untuk mendekatkan diri pada ilahi.

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia


Ambon - Seperti halnya sejumlah wilayah lain di Indonesia yang menyimpan sejarah peradaban agama-agama dunia, Provinsi Seribu Pulau, Maluku juga menyimpan peninggalan sejarah Islam yang masih ada dan tidak lekat dimakan zaman. Di utara Pulau Ambon, tepatnya di
Negeri (desa) Kaitetu Kecamatan, Leihitu Kabupaten, Maluku Tengah, berdiri Masjid Tua Wapauwe. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun tahun 1414 Masehi. Masih berdiri kokoh dan menjadi bukti sejarah Islam masa lampau.
Untuk mencapai Negeri Kaitetu dimana Masjid Tua Wapauwe berada, dari pusat Kota Ambon kita bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Sepanjang perjalanan kita bisa
menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yang terkadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkih dan pala hijau menyejukkan mata. 
Sebelum mencapai Kaitetu, kita terlebih dahulu bertemu Negeri Hitu, yang terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Sebuah ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita memasuki Hitu. Pada ruas jalan tersebut kita disuguhi panorama pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa dan bakau. Dari situ juga, kita dapat melihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang.
Tiba di simpang empat Hitu, kita harus membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Baru setelah kita menempuh 12 kilometer perjalanan dari situ, kita akan menemukan Negeri Kaitetu.
KONSTRUKSI PELEPAH SAGU
Masjid yang masih dipertahankan dalam arsitektur aslinya ini, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Letaknya di antara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia tersebut, masih berfungsi dengan baik sebagai tempat ber-shalat Jumat maupun shalat lima waktu, kendati sudah ada masjid baru di desa itu. 
Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Typologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.
Hal lainnya yang bernilai sejarah dari masjid tersebut yakni tersimpan dengan baiknya Mushaf Alquran yang konon termasuk tertua di Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.
Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil kedua orang ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 dan 1995.
Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya adalah: Kitab Barzanzi atau syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan) serta manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun. 
Kesemuanya peninggalan sejarah tadi, saat ini merupakan pusaka Marga Hatuwe yang masih tersimpan dengan baik di rumah pusaka Hatuwe yang dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak antara rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe hanya 50 meter.
RENOVASI
Masjid ini direnovasi pertama kali oleh pendirinya, Jamilu pada tahun 1464, tanpa merubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami dua kali pemindahan, bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan ini mengalami renovasi kedua kali pada tahun 1895 dengan penambahan serambi di depan atau bagian timur masjid. 
Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959, atap masjid mulai menggunakan semen PC yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah itu terjadi dua kali renovasi besar-besaran, yaitu pada Desember 1990-Januari 1991 dengan pergantian 12 buah tiang sebagai kolom penunjang dan balok penopang atap. Pada tahun 1993 dilakukan pergantian balok penadah kasau dan bumbungan, dengan tidak mengganti empat buah tiang sebagai kolom utama. 
Pada tahun 1997, atap masjid yang semula menggunakan seng diganti dengan bahan (semula) dari nipah. Atap nipah diganti setiap lima tahun sekali. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tetap asli karena tidak merubah bentuk inti masjid sama sekali. Sehingga, dapat dikatakan bahwa masjid ini sebagai masjid tertua di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga kini. Maret 2008 lalu, Masjid ini direnovasi kembali. Struktur atap yang terbuat dari pelepah sagu diganti yang baru.
WARISAN SEJARAH
Bukan suatu kebetulan, Masjid Wapauwe berada di daerah yang mengandung banyak peninggalan purbakala. Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, di tepi jalan raya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda. Kini gereja itu telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon tahun 1999 lalu. Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua "New Amsterdam". Benteng peninggalan Belanda yang mulanya adalah loji Portugis. Benteng New Amsterdam terletak di bibir pantai ini dan menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).
"Masjid ini memiliki nilai historis arkeologis yang penting. Didalamnya terpancar budaya masa lalu sehingga perlu kita lestarikan," kata Pejabat Negeri Kaitetu, Yamin Lumaela, di rumah Raja Negeri Kaitetu. Lumalea berharap, keberadaan Masjid Wapauwe beserta beberapa peninggalan sejarah Islam lainnya yang sudah tua, bisa menjadi salah satu wilayah atau daerah tujuan wisata di Kepulauan Maluku.
"Sebelum kerusuhan banyak wisatawan yang datang kemari. Kondisinya berubah saat konflik. Sekarang pengunjungnya sangat kurang," ungkapnya. Berdirinya Masjid Wapauwe di Negeri Kaitetu tidak terlepas dari hikayat perjalanan para mubaligh Islam yang datang dari Timur Tengah membawa ciri khas kebudayaannya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat yang mendiami bagian utara Pulau Ambon, yakni jazirah Hitu yang dikenal dengan sebutan Tanah Hitu. Ciri khas ini kemudian melahirkan satu peradaban yang bernuansa Islam dan masih bertahan dilingkungan masyarakat setempat hingga saat ini seperti, budaya kesenian (hadrat), perkawinan, dan khitanan.
Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk mengembangkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab. 
Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis di tahun 1512. Sebelum pecah Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 kilometer sebelah timur Wawane. Kondisi tempat pertama masjid ini berada yakni di Lereng Gunung Wawane, dan sekarang ini sudah menyerupai kuburan.
Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan dimana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.
Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.
PINDAH SECARA GAIB
Menurut cerita rakyat setempat, dikisahkan ketika masyarakat Tehala, Atetu dan Nukuhaly turun ke pesisir pantai dan bergabung menjadi negeri Kaitetu, Masjid Wapauwe masih berada di dataran Tehala. Namun pada suatu pagi, ketika masyarakat bangun dari tidurnya masjid secara gaib telah berada di tengah-tengah pemukiman penduduk di tanah Teon Samaiha, lengkap dengan segala kelengkapannya. "Menurut kepercayaan kami (masyarakat Kaitetu, red) masjid ini berpindah secara gaib. Karena menurut cerita orang tua-tua kami, saat masyarakat bangun pagi ternyata masjid sudah ada," kata Ain Nukuhaly, warga Kaitetu. Sementara itu, kondisi Mushaf Nur Cahya beserta manuskrip tua lainnya tampak terawat meskipun sudah mengalami sedikit kerusakan seperti berlobang kecil, sebagian seratnya terbuka dan tinta yang pecah akibat udara lembab. 
Menurut Rahman Hatuwe, ahli waris Mushaf Nur Cahya, kerusakan tersebut akibat faktor kertasnya yang sudah tua, debu, kelembaban udara serta insek (hewan) kertas. Dia menambahkan, pihaknya pernah mendapat obat serbuk (tidak disebutkan namanya) untuk menjaga keawetan manuskrip-manuskrip tua ini, hanya saja obat tersebut sudah habis.
"Alquran Nur Cahya ini masih jelas, dan waktu-waktu tertentu saya masih sering membaca (ayat-ayat suci Alquran dari Mushaf ini, red) seperti pada waktu Ramadan sekarang ini," kata Rahman yang adalah keturunan VIII Imam Muhammad Arikulapessy.