Thursday, December 9, 2010

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Rancangan masjid terapung Al-Alam Kota Kendari (foto dari kendarinews.com)

Tahun 2010 Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mencanangkan pembangunan masjid besar yang begitu prestisius dan ambisius bernama Masjid Al-Alam di kota Kendari. Sebuah komplek Masjid yang dibangun di atas pulau buatan di teluk Kendari yang akan menghabiskan dana sekitar 250 milyar rupiah dan akan selesai selama empat tahun. Masjid yang menurut mantan menteri agama Said Agil Al Munawar merupakan masjid di Tengah Laut yang Ketiga Setelah masjid di kerajaan Maroko dan Jeddah, Kerajaan Saudi Arabia.

Lokasi Pembangunan Masjid Al-Alam Kendari


Lihat Teluk Kendari di peta yang lebih besar

Masjid Al Alam direncanakan dibangun di tengah-tengah Teluk Kendari sebagai sebuah ikon ibadah ummat Islam Provinsi Sulawesi Tenggara. Masjid ini dibangun dengan kubah buka tutup secara otomatis, berbentuk teratai kuncup mekar. Masjid ini menggunakan tiga konsep kubah yakni Kubah Utama Mekar Bunga, Kubah Sekunder Geser Nabawi dan Tenda Payung. Masjid ini dirancang sedemikian rupa, tidak hanya sekadar tempat ibadah tetapi di sekelilingnya akan dibangun tempat olah raga air berkelas dunia. Total waktu yang direncanakan untuk menyelesaikan pembangunan masjid adalah empat tahun.

Pendanaan pembangunan Masjid Al-Alam

Anggaran yang disediakan guna keperluan pembangunan Mesjid Al Alam di tahun 2010 sebesar 10 Miliar murni dari APBD. Sedangkan penambahan dana selanjutnya dilihat dari keberhasilan pembangunnya. Alokasi dana 10 Miliar ini digunakan untuk pembangunan pada tahap awal dan pembangunan puluhan tiang Mesjid Al Alam.

Sejarah Pembangunan Masjid Al-Alam

Pemancangan pembangunan Mesjid Al Alam, dilakukan hari Selasa 17 Agustus 2010 dipimpin oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam.  Dalam sambutannya beliau menyebutkan bahwa jumlah dana secara keseluruhan yakni sebesar 250 Milyar. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Gubernur menghimbau kepada para dermawan dan pengusaha untuk membantu dana pembangunan Mesjid Al Alam agar tidak membebani dana dari APBD. Dalam acara pemancangan perdana pembangunan masjid tersebut turut juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Saleh Lasata, Walikota Kendari Ir Asrun, Wakil Ketua DPRD, La Pili, Muspida lainnya dan mantan Menteri Agama, Prof DR Said Agil Al Munawar.

pemancangan tiang pertama masjid Al-Alam Kota Kendari 
Pembangunan Mesjid Al Alam telah dimulai bertepatan dengan HUT RI ke-65. Tentunya pembangunan mesjid tersebut diharapkan bisa sekaligus menjadi kado terindah bagi Negara ini. Pihak DPRD Sultra akan melakukan pengawasan mengenai pembangunan Mesjid Al Alam serta alokasi dana 10 Miliar yang telah diberikan dari APBD. Pemancangan tiang perdana tangga 17 Agustus 2010 tersebut merupakan bagian dari 509 tiang yang akan ditancapkan di teluk Kendari hingga kedalaman 30 meter. Tahun 2010 dilakukan proses tender untuk pemasangan 37 tiang pancang.

Proses pemancangan tiang perdana yang dilakukan tanggal 17 Agustus 2010 tersebut menurut Gubernur Sulawesi Tenggara memiliki makna filosofi yang mendalam mulai dari tempat, waktu dan tanggal pelaksanaannya. Peletakan batu pertama memiliki nilai filosofi yang sangat dalam karena dilakukan pada dua momentum yakni, Ramadhan dan HUT Kemerdekaan. Tanggal 17 Agustus merupakan hari kemerdekaan, angka 17 merupakan jumlah rakaat sholat wajib sehari semalam, tanggal 17 Agustus bertepatan dengan 7 Ramadhan. Angka 7 sangat tekait dengan posisi Nur Alam sebagai gubernur (definitif) Sulawesi Tenggara yang ketujuh. Sebagai muslim, ketika berdoa sangat berharap agar doanya bisa tembus langit ketujuh, Ketika seseorang menunaikan ibadah haji harus melakukan sya’i sebanyak 7 kali.

Masjid terapung Pertama    

Mantan Menteri Agama Said Agil Al Munawar yang memberikan tauziah sebelum pencanangan, berulang kali menyampaikan bahwa setiap orang yang menyumbang pembangunan masjid dengan ikhlas, akan mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT. Dan menurut beliau baru ada dua masjid yang berada di tengah laut. Yakni Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko, dan masjid terapung di Laut Merah, Jeddah. Kedua masjid tersebut sekarang selain menjadi tempat beribadah, juga menjadi pusat kunjungan para wisatawan. Dan masih menurut beliau kalau masjid Al Alam ini sudah rampung, ini akan lebih indah karena letaknya betul-betul di tengah laut. Beliau juga mengatakan bahwa masjid tersebut nantinya akan menjadi monumen di Kawasan Indonesia Timur, dan menjadi tujuan wisata religi.

Masjid terapung Jeddah, Saudi Arabia (flickr)
Menurut catatan penulis, sebenarnya sudah ada setidaknya empat masjid yang posisinya “terapung” dalam artian dibangun di laut, selain dua masjid yang disebutkan oleh Pak Said Agil, sudah ada Masjid Terapung Selat Malaka di wilayah Malaka, Malaysia. Bahkan Masjid Raya Al-Munawaroh Ternate di provinsi Maluku Utara juga sebagian besar bangunan masjidnya dibangun di laut. Namun demikian, benar seperti yang beliau katakan bahwa masjid Al-Alam adalah masjid pertama yang dibangun “benar benar di tengah laut”.
 
menurut kepala dinas Pekerjaan Uumum Sulawesi Tenggara, Ir Dody P Djalante MTP secara teknis, salah satu poin penting dalam pembangunan masjid Al Alam ini, selain sebagai sarana beribadah, pembangunan masjid juga untuk rekonstruksi kawasan teluk. Saat ini diperkirakan sebanyak 20 juta meter kubik sedimentasi menutupi teluk Kendari. Sedimentasi tersebut ketebalannya diperkirakan mencapai dua meter. Dengan membangun masjid Al Alam dan sarana publik lainnya yang disinkronkan dengan jembatan Bahteramas, masyarakat akan lebih merasa memiliki teluk Kendari.

Data Teknis Masjid Al-Alam Kota Kendari

Kawasan bangunan masjid tersebut dirancang seluas 12.692 meter persegi dan terdiri dari tiga bangunan yakni bangunan utama, bangunan plaza tertutup dan plaza terbuka. Bangunan utama terdiri dari lantai basemen, lantai satu yang berfungsi sebagai ruang shalat seluas 2.540 meter persegi, dan lantai dua yang juga difungsikan sebagai ruang shalat seluas 1.762 meter persegi. Total luas ruang shalatnya 4.302 meter persegi, diperkirakan dapat menampung 6000 jamaah sekaligus. Kubahnya menggunakan model teratai kuncup mekar.

Bangunan kedua adalah bangunan plaza tertutup yang terdiri dari lantai basemen dan plaza berukuran 30x30 meter. Bangunan plaza tertutup akan menggunakan kubah model geser. Bangunan terakhir adalah plaza terbuka yang berfungsi sama dengan plaza tertutup. Hanya atap model payung masjid Madinah saja yang membedakannya. Setiap tiang pancang dilengkapi dengan anoda pencegah korosi yang dapat bertahan selama 30 tahun. Untuk 509 tiang pancang yang digunakan menelan anggaran paling banyak. Dari total anggaran Rp 250 miliar, tiang pancang menelan Rp 130 miliar.

Penolakan Masyarakat

Masjid Terapung di Selat Malaka, Malaysia
Proses pembangunan masjid terapung kota Kendari ini mendapat penolakan dari beberapa elemen masyarakat Kendari diantaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Garuda Cabang Kendari, Sulawesi Tenggara. HMI berpendapat rencana pembangunan masjid di Teluk Kendari yang diberi Mesjid Al’Alam itu  dianggap hanya merupakan program yang sifatnya simbolik, yang dikhawatirkan hanya akan meninggalkan kesan sesaat apalagi bukan yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat Sultra. dana pembangunan masjid yang mencapai Rp 250 miliar itu lebih baik digunakan untuk kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti pemberdayaan masyarakat miskin. Sementara Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam, menganggap penolakan masyarakat tersebut karena adanya provokator.

1 comment:

Dilarang berkomentar berbau SARA