Jumat, 26 November 2010

Warisan Majapahit di Masjid Masjid Nusantara

Pasir Konci, Cikarang Selatan
Majapahit, Salah satu kerajaan besar yang menjadi cerminan kejayaan bangsa ini di masa lalu, tak hanya meninggalkan kisah kejayaan tapi juga meninggalkan warisan yang turut mewarnai arsitektural masjid asli Indonesia serta negeri serantau.

Di era awal berdirinya kesultanan Demak pasukan Majapahit dibawah pimpinan Raden Sepat menyerbu kesultanan baru itu, penyerbuan yang tak berjaya, pasukan Raden Sepat tak berdaya menghadapi Demak. Raden Sepat beserta seluruh anggota pasukan kemudian malah berikrar bakti kepada Raden Fatah, Sultan Demak.

Raden Sepat ternyata tak hanya seorang panglima pasukan tapi juga perencana bangunan yang handal. Beliau yang kemudian di amanahi untuk merancang Masjid Agung Demak yang terkenal dengan legenda Soko Tatal nya itu. Arsitektural bangunan Majapahit beliau aplikasikan kepada bangunan Masjid Agung Demak (1477M). Dengan rancangan atap joglo atau berbentuk Limas bersusun tiga. Dengan empat soko guru penyangga masjid, dan salah satu dari empat sokoguru itu yang kemudian dikenal dengan sokotatal. Atap bersusun tiga tersebut kemudian dijadikan sebagai perlambang jati diri muslim : Iman, Islam dan Ikhsan.

Raden Sepat tak hanya merancang Masjid Agung Demak (1477M) tapi dua masjid tertua di pulau Jawa berikut nya pun tak lepas dari sentuhan sang arsitek dari era Majapahit ini, Masjid Agung Kesepuhan Cirebon (1478M) dan Masjid Agung Banten (1552) juga merupakan rancangan dari Raden Sepat, tak mengherankan bila rancangan awal Masjid Agung Kesepuhan Cirebon dan Masjid Agung Banten tak jauh berbeda dengan Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak secara utuh kemudian di tiru oleh para tokoh masyarakat dan Ulama kesultanan Banjar (Kalimantan Selatan) saat mereka membangun Masjid Jami’ Martapura (1897 M), utusan dari Kesultanan Banjar sengaja datang ke Demak untuk melihat Masjid Agung Demak dan membuat maket masjid tersebut lengkap dengan skala demi keperluan pembangunan masjid Jami’ kesultanan Banjar. Masjid Jami’ Martapura yang asli kini sudah berganti menjadi sebuah masjid yang begitu megah dan modern bernama Masjid Agung Al-Karomah Martapura.

Bentuk masjid beratap Joglo seperti ini tak hanya ditemui pada masjid masjid yang dibangun setelah era Masjid Agung Demak, tapi pada masjid masjid yang dibangun sebelum Masjid Agung Demak berdiri pun sudah memakai struktur demikian. Seperti contoh pada masjid tertua di Indonesia Masjid Saka Tunggal (1288) di Banyumas yang menggunakan atap joglo bertiang tunggal, itu sebabnya disebut masjid saka tunggal. Lebih jauh ke timur kita akan temukan bentuk yang sama pada Masjid Wapauwe (1414) Masjid tua Maluku Tengah.

Kita akan menemukan pola yang sama pada masjid masjid tua Indonesia diberbagai daerah seperti contoh, Masjid Sultan Suriansyah (1526) di Banjarmasih Kalimantan Selatan, Masjid Al-Hilal Katangka (1603) di kampung halaman nya Shekh Yusuf di Kabupaten Gowa, Sulsel. Dan Masjid Tua Palopo(1604) peninggalan Kesultanan Luwu di Kota Palopo, SuIawesi Selatan. Masih ada lagi Masjid Djami Keraton Landak (1895) di Kabupaten Landak, Kalimantan barat serta Masjid Agung Air Mata - Kupang (1806). Arsitektural masjid dengan atap joglo atau bentuk limas ini menyebar di seluruh tanah air dari pulau sumatera di barat hingga ke wilayah timur Indonesia.

Yang lebih menarik kemudian bahwa arsitektural  masjid asli Nusantara ini juga dipakai di masjid masjid tua di negeri serantau, seperti contohnya adalah dua masjid tua di Kota Malaka, Malaysia yakni Masjid Kampung Keling Malaka, Malaysia (1748M) dan Masjid Kampung Hulu Malaka, Malaysia (1728M). 

Tak hanya masjid masjid tua yang menggunakan rancangan masjid warisan kejayaan Majapahit itu. Arsitektur Masjid dengan atap Joglo bersusun tiga ini seperti sudah menjadi ciri khusus masjid khas Indonesia. Bila anda masih ingat dengan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, yayasan yang didirikan oleh Alm. Pak Harto semasa masih berkuasa, setiap masjid yang dibangun dengan dana dari yayasan ini selalu menggunakan atap limasan (joglo) bersusun tiga dengan 4 sokoguru pada masjid masjid yang dibangun.

Masjid masjid megah yang di beberapa kota tanah air yang didirikan di abad ini pun tak sedikit yang masih mengadopsi arsitektur tradisional asli Indonesia ini, meski dengan sentuhan modern dan berteknologi terkini, beberapa juga dibangun tanpa 4 sokoguru. Seperti contoh Masjid Raya Batam yang dibangun tahun 1997 dan bagian bangunan perluasan Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II di kota Palembang, Sumatera Selatan yang menggunakan struktur atap limas untuk tetap memberikan harmonisasi dengan atap limas bersusun tiga pada bangunan masjid asli yang masih terjaga dengan baik di bagian paling depan dari keseluruhan komplek Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II.

Indonesia, Negeri kita yang begitu besar ini tak hanya memiliki wilayah yang luas, kekayaan budaya dan tradisi, sejarah kebesaran masa lalu dan setumpuk kekayaan lain nya. Tapi juga memiliki arsitektur yang khas bagi bangunan Masjid asli Indonesia. Cukup membanggakan Bukan ?. Alhamdulillah.

wassalam

1 komentar:

Dilarang berkomentar berbau SARA