Selasa, 31 Agustus 2010

Mengenal Lebih Jauh Masjid Agung Touba, Senegal

Di sebelah Timur kota Dakkar terdapat sebuah kota yang memiliki sebuah masjid agung yang sangat besar. Seperti apa masjidnya dan siapa pendirinya? Ikuti kisahnya berikut ini.

Touba adalah sebuah kota yang terletak di Timur kota Dakkar, ibukota Senegal. Touba artinya kebahagiaan. Touba juga dapat diartikan sebagai pohon dari surga. Dinamakan begitu mungkin karena tempat ini dianggap tempat yang penuh keberkahan. Paling tidak bagi Syekh Aamadu Bámba Mbákke atau yang dikenal dengan Syekh Amadou Bamba [1853-1927]. Touba juga dikenal sebagai kota suci. Di tempat ini diharamkan beredar mimuman keras dan tembakau.

Syekh Amadou adalah seorang sufi yang sangat terkenal di Senegal. Ia juga seorang yang dihormati dan pendiri dari persaudaraan Mauride atau tarekat Mauridiyah. Beliau dikisahkan menerima petunjuk dari Allah swt dalam bentuk cahaya di bawah sebuah pohon di daerah ini pada tahun 1887. Dulunya tempat ini sangat terpencil di rimba belantara. Kepopuleran Syekh Amadou membuat banyak orang mengunjunginya. Hal ini membuat pemerintahan Perancis yang waktu itu berkuasa di tempat ini cemas, sehingga sang syekh ditangkap dan dibuang ke Gabon [1895-1902] dan Mauritania [1903-1907]. Strategi ini tidak berhasil, penahanan Syekh Amadou justru membuat para pengikutnya menjadi kian memujanya.

Syekh Amadou Bamba kemudian berniat mendirikan masjid setahun menjelang ajalnya. Masjidnya baru berdiri pada tahun 1963, 40 tahun setelah Syekh Amadou meninggal. Yang menarik, begitu masjid berdiri, kota yang tadinya sangat terpencil berkembang menjadi besar. Penduduk yang awalnya kurang dari 5.000 jiwa di tahun 1964, di tahun 2007 berkembang menjadi 529.000 orang. Banyak sekali orang dari berbagai wilayah Senegal yang berziarah ke makam sang syekh.

Masjid buatan Syekh Amadou disebut sebagai Masjid Agung Touba. Masjid ini memiliki lima menara dan tiga kubah yang sangat besar. Di tempat ini juga Syekh Amadou dimakamkan. Tinggi menara tengah masjid mencapai 87 meter. Menara ini merupakan bangunan kebanggaan rakyat Senegal yang juga dinamakan sebagai lampu jatuh [lamp fall]. Penamaan dilakukan oleh Syekh Ibrahima Fall, salah seorang syekh yang berpengaruh di kota ini.

Di dekat masjid terdapat rumah dari putra Amadouu Bamba, seorang khalifah dari persaudaraan Mauride. Selain itu di kota ini juga terdapat perpustakaan, gedung pertemuan dan pemakaman yang dikelola oleh persaudaraan Mauride yang hingga kini masih ada.

Diambil dari : alifmgz

Senin, 30 Agustus 2010

Tiga Masjid di Kutub Utara

Tiga Masjid Kutub Utara ; Sebelah kiri adalah masjid Al-Rahma dan Masjid Al-Noor, sedangkan yang disebelah kanan adalah Masjid Nurul Kamal di Russia.

Kita yang tinggal di Khatulistiwa seperti Indonesia dan Negara Asean, patut  bersyukur karena tak terlalu lelah berhadapan dengan 4 musim yang datang silih berganti. Tak perlu juga bertebal  tebal dan berlapis lapis baju demi menahan rasa dingin-nya salju yang hadir sepanjang tahun seperti saudara saudara kita sesama muslim di wilayah paling utara  bumi. Kutub Utara. Berikut tiga masjid yang letaknya paling utara di bumi.

1. Masjid Al-Noor, Tromsø, Norwegia

Masjid Al-Noor

Masjid Al-Noor adalah salah satu dari dua masjid di kota pulau Tromsø di Norwegia, salah satu masjid yang berada di lingkar kutub utara. Masjid ini sama sekali tidak berbentuk bangunan masjid seperti yang baisa kita kenal karena memang terletak di deretan gedung gedung modern yang merupakan kawasan hunian dan perkantoran di kota Tromso, Satu bagian kecil dari bangunan bangunan itu merupakan Alnor Senter dan sejak tahun 2006 dikenal sebagai Masjid Alnoor.


Kota Tromso memiliki populasi muslim 700 hingga 800 jiwa. dan kota tromso memiliki dua masjid. Masjid Alnoor dan Masjid AL-Rahma. Namun letak dari Masjid Alnoor memang lebih utara dibandingkan dengan Masjid Al-Rahma. Masjid Al-Rahma lebih dulu di didirikan di Tromso Baru kemudian menysusul masjid Al-Noor.

2. Masjid Al-Rahma, Tromsø, Norwegia

Masjid Al-Rahma

Selain Masjid Al-Noor, Kota Pulau Tromsø juga memiliki masjid lainnya yakni Masjid Al-Rahma yang hadir lebih dulu daripada Masjid Al-Noor namun lokasinya sedikit lebih ke selatan dibandingkan dengan Masid Al-Noor. Baik Masjid Al-Noor maupun Masjid Al-Rahma, dua masjid itu bangunannya tidak berupa bangunan masjid pada umumnya, namun merupakan bagian dari deretan gedung gedung modern yang merupakan kawasan hunian dan perkantoran di kota Tromso, Norwegia.



3. Masjid Nurud Kamal, Norilsk, Russia

Masjid Nurul Kamal di Norslisk, Russia

Masjid Nurud atau Nurd Kamal, merupakan bangunan masjid dalam “bentuk masjid pada umumnya” yang terletak paling utara di bumi.  Terletak di kota Norilsk, sebuah yang tidak saja dengan iklim paling extrim tapi juga merupakan kota yang masuk ke dalam 10 kota paling tercemar di Bumi.

Nurd Kamal, Mechet' / Нурд Камал, Мечеть
ул. 50 лет Октября, 2а, Norilsk, Krasnoyarskiy kray, Rusia, 663305
+7 391 942-11-49



Kota Norilsk dibangun tahun 1930 di daerah yang begitu kaya dengan kandungan tambang logam. Dan kini pabrik pabrik pengolahan logam itu setiap hari melepaskan asap tebal bercampur asam ke udara. Suhu di kota ini benar benar extrim mencapai minus 58 derajat dan senantiasa bersalju selama 250 hinga 270 hari sepanjang tahun. 250 – 270 hari dalam setahun, dengan badai salju mencapai 110-130 hari. Masjid Nurud Kamal di buka tahun 1998, dibangun oleh Mukhtad Bekmeyev, warga asli Norilsk beretnit Tatar.  Populasi Muslim di Norilsk mencapai 50,000 jiwa.

Grande Mosquée de Paris, Masjid Agung Paris

Pertama dan terbesar di Paris

Grande Mosquée de Paris atau dalam bahasa Indonesia nya menjadi Masjid Agung Paris adalah masjid pertama dan terbesar yang dibangun di Prancis sekaligus menjadi masjid terbesar ke tiga di Eropa.  Masjid yang menyimpan begitu banyak kenangan bagi Yahudi Eropa dijaman pembantaian yahudi oleh Nazi Jerman yang menyerbu ke Paris. Masjid Agung Paris menjadi tempat perlidungan utama kaum yahudi waktu itu, di masjid Agung Paris mereka tidak saja di beri perlingungan, tempat tinggal, makan, pakaian tapi sampai kepada dibuatkan akte kelahiran, surat nikah, hingga dokumen dokumen pribadi lain nya dengan mengubah data mereka menjadi “seolah olah’ muslim, agar selamat dari kejaran dan pembantaian Nazi. Masjid Agung Paris kini menjadi salah satu daya tarik kota Paris, mejadi monumen Islam di Negara itu. Islam sendiri kini menjadi agama bagi 25% penduduk Prancis.

Sejarah Masjid Agung Paris

Masjid Agung Paris didirikan setelah berakhirnya Perang Dunia pertama sebagai tanda terima kasih Prancis kepada komunitas Muslim di sana yang ikut melawan pasukan Jerman dalam sebuah pertempuran yang berlangsung di daerah perbukitan utara kota Verdun-sur-Meuse di wilayah bagian utara-timur Perancis pada 1916, dimasa perang dunia pertama.

Masjid Agung Paris dilihat dari ketinggian gedung diseberangnya

Dibangun di lokasi bekas Rumah Sakit Mercy ini seluruh pendanaannya disediakan oleh pemerintah Prancis. Peletakkan batu pertama dilakukan pada tahun 1922. Pada tanggal 15 Juli 1926, bangunan Grande Mosquée de Paris diresmikan secara simbolis oleh Presiden Prancis saat itu Gaston Doumergue.

Ahmad al-Alawi (1869-1934), seorang tokoh sufi berdarah Aljazair, ditunjuk sebagai imam shalat pertama sebagai pertanda diresmikannya masjid baru di kota Paris di hadapan Presiden Doumergue. Imam Masjid Raya Paris saat ini dijabat oleh Mufti Dalil Boubakeur, yang juga merupakan Presiden Dewan Muslim Prancis.

Alamat & Lokasi Masjid Agung Paris
La Grande Mosquee de Paris
2 Bis Place du Puits de l'Ermite
75005 Paris, France
Telephone: 1 45 35 97 33
Fax: 1 45 35 16 23



Arsitektural Masjid Agung Paris

Dibangun di atas lahan seluas satu hektar di daerah komunitas Latin (distrik kelima di Paris), Masjid Raya Paris memperlihatkan keagungan sebuah bangunan Islam yang ditunjukkan lewat desain arsitektur dan mozaik-mozaiknya. Masjid itu memperlihatkan aspek klasik dan perkembangan peradaban seni Islam. Disamping juga bentuk ajaran yang sangat toleran dan jelas dari agama dan budaya Islam.

Grande Mosquée de Paris terinspirasi oleh Masjid Alhambra di Spanyol. Karenanya jika menilik lebih jauh setiap detil bangunannya sarat dengan gaya arsitektur Alhambra yang banyak mengadopsi arsitektur bangsa Moor (Maroko). Untuk mempertegas gaya Moor, pemerintah Prancis memerintahkan sejumlah seniman asal Maroko untuk mendesain Grande Mosquée de Paris. Komunitas Muslim yang bermukim di kota Paris pada masa itu merupakan para imigran asal Maroko.

Menara Masjid Agung Paris, dibangun dengan gaya menara masjid masjid Maroko, berupa menara berbentuk segi empat dengan balutan ukiran hampir diseluruh permukaan dindingnya.

Menara Masjid Agung Paris

Grande Mosquée de Paris memiliki menara setinggi 33 meter. Dari atas menara inilah suara adzan berkumandang. Berbentuk segi empat dan dilapisi keramik hijau toska mengadopsi kaidah mazhab Maliki. Pada keramik-keramik tersebut dapat dilihat kerumitan tatahan dinding yang berwarna abu-abu. Di dalam bangunan menara terdapat tangga menuju bagian puncak menara.

Untuk menuju ke dalam kompleks Masjid Raya Paris, pengunjung harus melalui pintu gerbang utama. Setelah melewati pintu gerbang ini, pengunjung akan melihat sebuah lapangan yang cukup luas yang dikenal dengan nama La Cour dHonneur. Di tengah-tengah lapangan  terdapat sebuah sumur.

Dan, tidak jauh dari sumur tersebut terdapat sebuah bangunan yang pada masa awal berdirinya masjid ini merupakan tempat pemandian umum (hammam) bagi orang-orang Muslim Maroko. Keberadaan bangunan hammam ini merupakan salah satu ciri khas dari kompleks bangunan masjid pada masa kejayaan Islam.

Taman di Masjid Agung Paris

La Cour dHonneur

La Cour dHonneur yang merupakan sebuah halaman luas yang juga difungsikan sebagai ruang pertemuan utama. Untuk menuju La Cour dHonneur ini, pengunjung harus melewati pintu besar yang terbuat dari kayu oak yang bertatahkan perunggu dengan mozaik yang terbuat dari kayu ekaliptus dan hiasan koral. La Cour dHonneur  dilengkapi dengan taman bergaya Spanyol-Maroko bercorak Andalusia, lengkap dengan teras-teras yang dilapisi marmer hitam, kolam berikut air mancurnya, beranda, dan beberapa keran air yang sewaktu-waktu akan menyemprotkan air di antara bunga-bunga yang tumbuh di halaman.

Di bagian kiri, terdapat sebuah ruang pertemuan utama yang diapit oleh dua paviliun. biasanya digunakan untuk berbagai macam pertemuan dan tempat kuliah bahasa Arab. Bangunan ini juga mencakup ruang-ruang perkantoran dan perpustakaan yang dikhususkan untuk Lembaga Agama Islam.

Seperti masjid masjid lainnya, di masjid inipun semua ruang akan dipakai jemaah sebagai tempat sholat pada pelaksanaan sholat jum'at. . . . 

Patio

Di sebelah kanan ruang pertemuan utama, terdapat sebuah tembok besar berwarna putih menaungi pintu masuk utama ke sebuah ruang terbuka (patio) yang menuju ruang shalat. Melalui pintu ini, kita dapat melihat sebuah ruangan yang luas dengan sebuah peri-style yang dikelilingi oleh pilar-pilar bergaya Spanyol-Maroko yang menjulang tinggi,- seperti yang terdapat pada bangunan Alhambra. Bagian lantai dari ruangan ini merupakan plesteran yang bahannya campuran dari marmer dan batu kapur.

Pintu masuk utama ke patio berseni Maroko. Hiasan dari batu berukiran memperlihatkan corak kaligrafi yang banyak digunakan sebagai tulisan pada abad ke-13. Bagian atap pintu terbuat dari kayu pohon cedar yang diukir oleh seniman Maroko. Daun pintunya terbuat dari kayu pohon walnut yang sama persis seperti bangunan-bangunan pertama berarsitektur Islam abad ke-14.

Megah dan Mewah

Selasar

Di bagian dalam patio ini, terdapat sebuah selasar yang mengelilingi sebuah taman yang kerindangan pepohonannya mampu mengajak pengunjung untuk bermeditasi. Sebuah air mancur dan vas marmer raksasa dengan keran untuk berwudhu terdapat di bagian dalam ini. Pengunjung juga akan melewati beberapa tangga marmer, dekorasi tembok, dan lukisan sederhana yang terlihat kontras dengan arsitektur Arab klasik.

Pintu yang menghubungkan bagian dalam dengan bagian luar patio ini terbuat dari kayu pohon ek yang dipahat dengan pola mozaik terukir di atasnya. Potongan-potongan mozaik ini disesuaikan dengan sempurna sehingga menghasilkan perpaduan warna yang memikat (merah maran dan hijau giok), bintang-bintang merah, serta dua dekorasi melintang paralel.

Detil ornamen masjid Agung Paris

Dekorasi pertama menunjukkan karakter potongan Arab di atas plakat berwarna senja yang didatangkan khusus dari Cina. Plakat tersebut berbentuk lingkaran penuh dan tampak bersinar. Dekorasi ini dipadukan dengan puisi karya seniman Tunisia, Jalaleddine En-Nakache.

Pahatan yang ada memperlihatkan bagaimana pandangan dan kepekaan dari seniman-seniman tersebut. Pilihan bahan-bahan dan warna yang dihasilkan mampu menciptakan suatu harmonisasi yang enak untuk dilihat. Pengunjung juga bisa menilai ketelitian mereka dari 7 ribu potongan tegel yang terbuat dari batu kapur dan disusun meter per meter membentuk pola mozaik.

Ruang sholat

Bagian lain dari kompleks Masjid Raya Paris yang tidak boleh dilewatkan adalah ruangan shalat. Untuk menuju ruang shalat, harus melalui sebuah pintu yang terbuat dari puluhan potongan kayu yang sudah dipahat. Ruangan shalat ini dihiasi dengan jendela-jendela berteralis. Pada bagian depan, tampak sebuah dekorasi rapi bertuliskan mihrab yang menjadi arah kiblat. Di bagian tengah ruangan yang luas itu, tampak beberapa tiang yang menopang kubah dari kayu cedar yang merupakan hasil pahatan tangan. Tiang-tiang tersebut membentuk formasi segi delapan.

Ruang Sholat Masjid Agung Paris

Di dalam ruang shalat ini, terdapat dua buah mimbar untuk tempat imam berkhotbah di hari Jumat atau hari raya Islam. Mimbar pertama yang terbuat dari kayu berkualitas bagus merupakan pemberian Raja Fuad I dari Mesir. Mimbar yang lain adalah hasil pemberian Raja Son Altesse Lamine Bey dari Tunisia. Ini merupakan mimbar terbaik dari masjid di kerajaannya.

Ketika memasuki ruangan shalat, para pengunjung akan melihat hamparan karpet yang indah berukuran 7,64x4,37 meter. Karpet tersebut merupakan pemberian Raja Iran, Shah Reza Pahlevi. Dibuat di Djanchaghan, karpet ini merupakan karya seni Persia. (updated 10/10/16)***

Referensi

bataviase.co.id - Grande Mosquee de Paris
en.wikivedia - Grande Mosquée de Paris  
placeinfrance.com - La Grande Mosquee de Paris

Kamis, 26 Agustus 2010

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten Dengan Menara nya yang terkenal
dan kini dijadikan Ikon Propinsi Banten
MASJID Agung Banten, Masjid yang dirancang oleh 3 arsitek dari latar belakang yang berbeda. Yang Pertama adalah Raden Sepat, Arsitek Majapahit yang telah berjasa merancang Masjid Agung Demak, Masjid Agung Ciptarasa Cirebon dan Masjid Agung Banten ini. Arsitek kedua adalah arsitek China bernama Cek Ban Su ambil bagian dalam merancang masjid ini dan memberikan pengaruh kuat pada bentuk atap masjid bersusun 5 mirip layaknya pagoda China. Karena jasanya dalam membangun masjid itu Cek Ban Su memperoleh gelar Pangeran Adiguna. Lalu arsitek ketiga adalah Hendrik Lucaz Cardeel, arsitek Belanda yang kabur dari Batavia menuju Banten di masa pemerintahan Sultan Haji tahun 1620, dalam status mualaf dia merancang menara masjid serta bangunan tiyamah di komplek masjid agung Banten. Karena jasanya tersebut, Cardeel kemudian mendapat gelar Pangeran Wiraguna.

Atap mahkota masjid
yang mirip Pagoda
Dibandingkan dengan masjid tua di jawa lain nya termasuk masjid masjid Tua yang telah ada di Nusantara waktu itu, Masjid Agung Banten memiliki dua perbedaan yang sangat menyolok : Pertama, menara masjid berbentuk mercusuar di sebelah timur masjid, belum pernah ada menara seperti itu di Jawa, bahkan di Nusantara. Karena menara bukanlah tradisi yang melengkapi masjid di Jawa pada masa awal.

Kedua : Secara tradisi, makam pendiri masjid pada kompleks masjid tua di pulau Jawa diletakkan di sisi barat, namun di masjid Agung Banten diletakkan di sisi utara. Di sebelah barat Masjid Agung Banten terdapat makam Syarif Husein, penasehat Maualana Hasanuddin.  Tata letak ini juga terdapat di beberapa masjid bersejarah di wilayah lain Banten, seperti di Masjid Kasunyatan yang dibangun oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Hasanuddin. Makam Maulana Yusuf tidak bertempat di sebelah barat masjid tapi disana justru dimakamkan gurunya, Syekh Madani. Sedangkan Maulana Yusuf sendiri dimakamkan di tengah sawah.

LOKASI MASJID AGUNG BANTEN

Masjid Agung Banten terletak di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Propinsi Banten. Sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Pengunjung dapat menuju lokasi dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum.  Dari terminal Terminal Pakupatan, Serang menggunakan bis jurusan Banten Lama atau mencarter mobil angkutan kota menuju lokasi selama lebih kurang setengah jam.
  


SEJARAH MASJID AGUNG BANTEN

Masjid Agung Banten dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Banten yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon. Menjadikan Masjid Agung Banten Menjadi salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia.

ARSITEKTUR MASJID AGUNG BANTEN

Masjid memiliki pintu masuk berjumlah enam buah menggambarkan rukun iman. Pintu masuk sengaja dibuat pendek untuk memaksa pengunjung merunduk sebagai simbol ketundukan kepada sang pencipta. Tiang masjid terdiri dari 24 buah sebagai simbol waktu yang ditetapkan Tuhan, yakni 24 jam.

Atap
Masjid Agung Banten sejak awalnya beratap tumpuk lima, namun pada abad ke-17 pernah diubah menjadi tiga. Hal demikian dimungkinkan karena dua atap teratas sebenarnya hanya atap tambahan yang ditopang tiang pusat yang bila dihilangkan tidak mengganggu konstruksi di bawahnya. Dua tumpukan atap paling atas itu tampak lebih berfungsi sebagai mahkota dibanding sebagai atap penutup ruang bagian dalam bangunan.

Menara
Elemen menarik lainnya adalah menara segi delapan di sebelah timur masjid, sebagaimana di uraikan di awal tulisan ini.  Menara berkonstruksi batu bata setinggi kurang lebih 24 meter ini dulunya berfungsi sebagai menara pandang/ pengamat ke lepas pantai dan juga digunakan untuk menyimpan senjata dan amunisi pasukan Banten. Semua berita Belanda tentang Banten hampir selalu menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau.

Menara Masjid Agung Banten
Pengunjung dapat mencapai ujung menara, dengan melewati 83 anak tangga dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara, pengunjung dapat melihat pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km.

Menara berbentuk segi delapan itu mengingatkan pada bentuk mercusuar, khususnya mercu Belanda. Mercusuar buatan Belanda lainnya yang memiliki kemiripan dengan menara Masjid Agung Banten adalah Mercusuar di Anyer sebelah barat Serang dari abad ke-19. Bentuk tersebut lazim ditemukan di Negeri Belanda, seperti segi delapan, pintu lengkung bagian atas, konstruksi tangga melingkar seperti spiral, dan kepalanya memiliki dua tingkat.

Tiyamah
Di sisi selatan masjid terdapat bangunan bertingkat bergaya rumah Belanda kontemporer yang disebut tiyamah (paviliun) rancangan Hendrik Lucasz Cardeel (pangeran Wiraguna). Dulunya menjadi tempat pertemuan penting. Saat ini, bangunan dua tingkat dan masing-masing memiliki tiga ruang besar tersebut difungsikan sebagai museum benda peninggalan, khususnya alat perang. Langgam Eropa sangat jelas pada bangunan itu, terutama pada jendela besar di tingkat atas. Jendela itu dimaksudkan memasukkan sebanyak mungkin cahaya dan udara.

Umpak Batu
Elemen unik lainnya dari masjid agung Banten adalah adanya umpak dari batu andesit berbentuk labu berukuran besar dan beragam pada setiap dasar tiang masjid. Yang berukuran paling besar dengan garis labu yang paling banyak adalah umpak pada empat tiang saka guru di tengah-tengah ruang shalat. Ukuran umpak besar ini tidak akan kita temui di sepanjang Pulau Jawa, kecuali di bekas reruntuhan salah satu masjid Kasultanan Mataram di Plered, Yogyakarta.

Mimbar Khutbah Jum’at
Mimbar Khotbah Jum'at
Terdapat mimbar Tempat khotbah yang besar dan antik penuh hiasan dan warna wakaf Nyai Haji Irad Jonjang Serang pada tanggal 23 Syawal 1323 Hijriyah (1903 M) sebagaimana tertulis dalam huruf Arab gundul pada penampil lengkung bagian atas muka mimbar. Berbeda dari mimbarnya yang menarik perhatian, mihrabnya (tempat imam memimpin shalat) yang berbentuk ceruk justru sangat kecil, sempit dan sederhana. Ini sangat berbeda dari mihrab yang berkembang pada masjid di belahan dunia lain.

Pendopo
Pendopo dan kolam untuk wudu di sebelah timur melengkapi karakteristik masjid Jawa umumnya. Tiang pendopo yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf itu juga menggunakan umpak batu labu dengan bentuk bangunan dan teknik konstruksi tradisional Jawa.

Jam Matahari
Pada bagian depan masjid terdapat alat pengukur waktu shalat yang berbentuk lingkaran, dengan bagian atas berbentuk seperti kubah. Ada bagian atas kubahnya ditancapkan kawat berbentuk lidi. Melalui bayangan dari kawat itulah dapat diketahui kapan waktu shalat tiba.

TRADISI DI MASJID AGUNG BANTEN

Jumlah peziarah ke Masjid Agung Banten mencapai puncaknya pada bulan Syawal, Haji, Maulud, Rajab dan Ruwah. Sementara setiap hari Kamis, Jumat dan Minggu juga menjadi hari pilihan bagi para peziarah untuk mengunjungi Masjid Banten. Ada juga waktu yang paling ramai yaitu malam Jum’at ketika malam 14 bulan purnama. “Mereka percaya malam Jumat tanggal 14 bulan purnama adalah waktu di mana para auliya’ berkumpul dan bermusyawarah sehingga dikeramatkan, dan bila berziarah pada tanggal itu doanya mustajabah.

WISATA ZIARAH

Pemakaman tua di sisi Utara Masjid Agung Banten
Di serambi kiri masjid ini (disebelah utara) terdapat makam Sultan Maulana Hasanuddin dengan permaisurinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nashr Abdul Kahhar (Sultan Haji). Sementara di serambi kanan (sebelah Selatan), terdapat makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul Abidin, Sultan Abdul Fattah, Pangeran Aria, Sultan Mukhyi, Sultan Abdul Mufakhir, Sultan Zainul Arifin, Sultan Zainul Asikin, Sultan Syarifuddin, Ratu Salamah, Ratu Latifah, dan Ratu Masmudah. Di sebelah barat Masjid Agung Banten terdapat makam Syarif Husein, penasehat Maualana Hasanuddin.    
 

Video Streaming Masjid Agung Banten

 

Belum tersedia video streaming Masjid Agung Banten di youtube. Namun dapat menikmati suasana Masjid Agung Banten dari link berikut ini Masjid Agung Banten Simbol Penyebaran Islam dan disini : Melonggok Mercu Suar Masjid Agung Banten.

REFERENSI

* Masjid Agung Banten Lama Nafas Sejarah dan Budaya

Selasa, 24 Agustus 2010

Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak Ketika dibangun oleh Raden Fatah 
bersama para wali  masjid ini tidak dilengkapi dengan menara.

Masjid Agung Demak salah satu tertua di Indonesia. Terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Dipercaya sebagai tempat berkumpulnya Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, Sultan pertama dari Kesultanan Demak, pada sekitar abad ke-15 Masehi. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam sultan Kesultanan Demak dan para abdinya.

Lokasi Masjid Agung Demak

Masjid  Agung Demak terletak di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah,  Indonesia. berjarak + 26 km dari Kota Semarang, + 25 km dari Kabupaten Kudus, dan + 35 km dari Kabupaten Jepara.

Di dalam Poto tua di atas terlihat
masjid Agung Demak Aslinya tanpa Menara.
dan masjid tersebut masih sama
bentuknya hingga kini.
Masjid  Agung Demak berada di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Secara  umum, pembangunan kota-kota di Pulau Jawa banyak kemiripannya, yaitu suatu  satu-kesatuan antara bangunan masjid, keraton, dan alun-alun yang berada  di tengahnya. Pembangunan model ini diawali oleh Dinasti Demak Bintoro. Diperkirakan, bekas Keraton Demak ini berada di sebelah selatan Masjid Agung  dan alun-alun.

 

Arsitektur


Masjid Agung Demak mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah Saru dari 4 tiang ini konon berasal dari serpihan-serpihan kayu yang disatukan oleh Sunan Kalijaga, sehingga dinamai 'saka tatal'. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau pangeran Sabrang Lor),sultan Demak ke-2 (1518-1521) pada tahun 1520. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan.

Soko Majapahit 
Tiang ini berjumlah delapan buah terletak di serambi masjid. Benda purbakala hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi ini diberikan kepada Raden Fattah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M.

Pawestren
Merupakan bangunan yang khusus dibuat untuk sholat jama’ah wanita. Dibuat menggunakan konstruksi kayu jati, dengan bentuk atap limasan berupa sirap ( genteng dari kayu ) kayu jati. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, di mana 4 diantaranya berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai yang membujur ke kiblat berukuran 15 x 7,30 m. Pawestren ini dibuat pada zaman K.R.M.A.Arya Purbaningrat, tercermin dari bentuk dan motif ukiran Maksurah atau Kholwat yang menerakan tahun 1866 M.

Surya Majapahit 
Merupakan gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa Majapahit. Para ahli purbakala menafsirkan gambar ini sebagai lambang Kerajaan Majapahit. Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka, atau 1479 M.

Maksurah
Merupakan artefak bangunan berukir peninggalan masa lampau yang memiliki nilai estetika unik dan indah. Karya seni ini mendominasi keindahan ruang dalam masjid. Artefak Maksurah didalamnya berukirkan tulisan arab yang intinya memulyakan ke-Esa-an Tuhan Allah SWT. Prasasti di dalam Maksurah menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M, di mana saat itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.

Pintu Bledheg
Pintu yang konon diyakini mampu menangkal petir ini merupakan ciptaan Ki Ageng Selo pada zaman Wali. Peninggalan ini merupakan prasasti “Condro Sengkolo” yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Mihrab 
atau tempat pengimaman, didalamnya terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti“Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M (hasil perumusan Ijtihad). Di depan Mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah. Benda arkeolog ini dikenal dengan sebutan Dampar Kencono warisan dari Majapahit.

Dampar Kencana 
Benda arkeologi ini merupakan peninggalan Majapahit abad XV, sebagai hadiah untuk Raden Fattah Sultan Demak I dari ayahanda Prabu Brawijaya ke V Raden Kertabumi.

Soko Tatal / Soko Guru 
Soko Guru yang tetap di jaga keasliannya
yang berjumlah 4 ini merupakan tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga. Masing-masing soko guru memiliki tinggi 1630 cm. Formasi tata letak empat soko guru dipancangkan pada empat penjuru mata angin. Yang berada di barat laut didirikan Sunan Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara buatan Sunan Ampel, dan yang berdiri di timur laut karya Sunan Kalijaga. Masyarakat Demak menamakan tiang buatan Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.

Situs Kolam Wudlu .
Situs ini dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga sekarang situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi.

Menara
Bangunan sebagai tempat adzan ini didirikan dengan konstruksi baja. Pemilihan konstruksi baja sekaligus menjawab tuntutan modernisasi abad XX. Pembangunan menara diprakarsai para ulama, seperti KH.Abdurrohman (Penghulu Masjid Agung Demak), R.Danoewijoto, H.Moh Taslim, H.Aboebakar, dan H.Moechsin .

Komplek Pemakaman
Komplek Makam Raden Fatah
komplek makam sultan-sultan Demak dan  para abdinya, yang terbagi atas empat bagian: 

(1) Makam Kasepuhan, yang terdiri atas 18 makam, antara  lain makam Sultan Demak I (Raden Fatah) beserta istri-istri dan putra-putranya,  yaitu Sultan Demak II (Raden Pati Unus) dan Pangeran Sedo Lepen (Raden  Surowiyoto), serta makam putra Raden Fatah, Adipati Terung (Raden Husain).
(2) Makam Kanoman, yang terdiri atas 24 makam, antara lain makam Sultan Demak III (Raden Trenggono), makam istrinya, dan makam  putranya, Sunan Prawoto (Raden Hariyo Bagus Mukmin). 

(3) Makam di sebelah barat Lasepuhan dan Kaneman, yang terdiri atas makam Pangeran Arya Penangsang, Pangeran Jipang, Pangeran Arya  Jenar, Pangeran Jaran Panoleh. 

(4) Makam lainnya, seperti makam Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Benowo, dan Singo Yudo.

Sejarah

Masjid Agung Demak masih Kokoh Hingga kini
Raden Fatah membangun Masjid Agung Demak di tahun 1401 Saka atau 1477M, atau dua tahun setelah beliau mendirikan Kesultanan Demak dengan bantuan dari para wali di tahun 1475M. Beliau mendirikan Masjid Agung Demak di Lokasi bangunan Pondok Pesantren  Glagahwangi, tempat dimana Raden Fatah menghabiskan masa kecilnya di bawah asuhan Sunan Ampel.

Jauh sebelum pendirian Masjid Agung Demak oleh Raden Fatah,  di lokasi tersebut sebelumnya merupakan bangunan Pondok pesantren Glagahwangi di bawah asuhan Sunan Ampel Yang di dirikan tahun 1466, selain berfungsi sebagai pesantren juga sebagai Masjid.

Pendirian Masjid Agung Demak oleh Raden Fatah bersama para Wali di catat dalam prasasti bergambar bulus yang merupakan merupakan Condro Sengkolo Memet, dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1 ( satu ), kaki 4 berarti angka 4 ( empat ), badan bulus berarti angka 0 ( nol ), ekor bulus berarti angka 1 ( satu ). Bisa disimpulkan, Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka atau 1477 Masehi

Tiga tingkatan atap masjid
melambangkan Iman, Islam dan ikhsan
Pada tahun 1477, masjid ini dibangun  kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Pada tahun 1478, ketika  Raden Fatah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid ini direnovasi dengan penambahan  tiga trap. Raden Fatah bersama Walisongo memimpin proses pembangunan masjid ini  dengan dibantu masyarakat sekitar.

Para wali saling membagi tugasnya masing-masing. Secara umum, para wali menggarap soko guru yang menjadi tiang  utama penyangga masjid. Namun, ada empat wali yang secara khusus memimpin pembuatan  soko guru lainnya, yaitu: Sunan Bonang memimpin membuat soko guru di bagian  barat laut; Sunan Kalijaga membuat soko guru di bagian timur laut; Sunan Ampel  membuat soko guru di bagian tenggara; dan Sunan Gunungjati membuat soko guru di  sebelah barat daya.

Tradisi Grebeg Besar Demak

Adalah prosesi di lingkungan Masjid Agung Demak setiap tanggal 10 Dzulhijah dalam rangkaian memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Di masa Wali songo dulu prosesi itu dijadikan sarana upaya penyebarluasaan agama Islam. Sampai saati ini kegiatan tersebut masih tetap berlangsung, bahkan ditumbuh kembangkan. Berikut urutan acara grebeg besar di Masjid Agung Demak.

Ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak & Sunan Kalijaga
Grebeg Besar Demak diawali dengan pelaksanaan ziarah oleh Bupati, Muspida dan segenap pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Demak, masing-masing beserta istri/suami, ke makam Sultan-Sultan Demak dilingkungan Masjid agung Demak dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Kegiatan ziarah tersebut dilaksanakan pada jam 16.00 WIB; kurang lebih 10 (sepuluh) hari menjelang tanggal 10 Dzulhijah.

• Pasar Malam Rakyat di Tembiring Jogo Indah
Untuk meramaikan perayaan Grebeg Besar di lapangan Tembiring Jogo Indah digelar pasar malam rakyat yang dimulai kurang lebih 10 (sepuluh) hari sebelum hari raya Idul Adha dan dibuka oleh Bupati Demak setelah ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak dan Sunan Kalijaga. Pasar malam tersebut dipenuhi dengan berbagai macam dagangan, mulai dari barang barang kebutuhan sehari-hari sampai dengan mainan anak, hasil kerajinan, makanan/minuman, permainan anak-anak dan juga panggung pertunjukkan /hiburan.

• Selamatan Tumpeng Sanga
Arak arakan tumpeng sanga
Selamatan Tumpeng Sanga dilaksanakan pada malam hari menjelang hari raya Idul Adha bertempat di Masjid Agung Demak. Sebelumnya kesembilan tumpeng tersebut dibawa dari Pendopo Kabupaten Demak dengan diiringi ulama, para santri, beserta Muspida dan tamu undangan lainnya menuju ke Masjid Agung Demak. Tumpeng yang berjumlah sembilan tersebut melambangkan Wali Sanga. Selamatan ini dilaksanakan dengan harapan agar seluruh masyarakat Demak diberikan berkah keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat dari Allah SWT.

Acara selamatan diawali dengan pengajian umum diteruskan dengan pembacaan doa. Sesudah itu kepada para pengunjung dibagikan nasi bungkus. Pembagian nasi bungkus tersebut dimaksudkan agar para pengunjung tidak berebut tumpeng sanga. Sejak beberapa tahun terakhir tumpeng sanga tidak diberikan lagi kepada para pengunjung dan sebagai gantinya dibagikan nasi bungkus tersebut.

Pada saat yang sama di Kadilangu juga dilaksanakan kegiatan serupa, yaitu Selamatan Ancakan, selamatan tersebut bertujuan untuk memohon berkah kepada Allah SWT agar sesepuh dan seluruh anggota Panitia penjamasan dapat melaksanakan tugas dengan lancar tanpa halangan suatu apapun juga serta untuk menghormati dan menjamu para tamu yang bersilaturahmi dengan sesepuh.

• Slolat Ied
Pada tanggal 10 Dzulhijah Masjid Agung dipadati oleh umat Islam yang akan melaksanakan Sholat Ied, pada saat-saat seperti ini Masjid Agung Demak sudah tidak dapat lagi menampung para jamaah, karena penuh sesak dan melebar ke jalan raya, bahkan sebagian melaksanakan sholat di alun-alun. Pada kesempatan tersebut Bupati Demak beserta Muspida melaksanakan sholat di Masjid Agung Demak dan dilajutkan dengan penyerahan hewan qurban dari Bupati Demak kepada panitia.

• Penjamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga
Para Sesepuh bersiap membersihkan
pusaka Sunan Kalijaga
Setelah selesai Sholat Ied. Di makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga. Kedua pusaka tersebut adalah Kutang Ontokusuma dan Keris Kyai Crubuk. Konon Kutang Ontokusumo adalah berujud ageman yang dikiaskan pegangan santri yang dipakai sunan kalijaga setiap kali berdakwah.

Penjamasan pusaka-pusaka tersebut didasari oleh wasiat sunan kalijaga sebagai berikut ”agemanku, besuk yen aku wis dikeparengake sowan engkang Maha Kuwaos, salehna neng duwur peturonku. Kajaba kuwi sawise uku kukut, agemanku jamas ana.” Dengan dilaksanakan penjamasan tersebut, diharapkan umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mawas diri/mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada allah SWT.

Prosesi penjamasan tersebut diawali dari Pendopo Kabupaten Demak, dimana sebelumnya dipentaskan pagelaran tari Bedhoyo Tunggal Jiwo. Melambangkan “Manunggale kawula lan gusti”, yang dibawakan oleh 9 (sembilan) remaja putri. Dalam perjalanan ke Kadilangu minyak jamas dikawal oleh bhayangkara kerajaan Demak Bintoro “Prajurit Patangpuluhan” dan diiringi kesenian tradisional Demak. Bersamaan dengan itu Bupati beserta rombongan menuju Kadilangu dengan mengendarai kereta berkuda.

Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga dilaksanakan oleh petugas dibawah pimpinan Sesepuh Kadilangu di dalam cungkup gedong makam Sunan Sunan Kalijaga. Sesepuh dan ahli waris percaya, bahwa ajaran agama Islam dari Rasulullah Muhammad SAW dan disebar luaskan oleh Sunan Kalijaga adalah benar.

Oleh karena itu penjamasan dilakukan dengan mata tertutup. Hal tersebut mengandung makna, bahwa penjamas tidak melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat dengan mata hati. Artinya ahli waris sudah bertekad bulat untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan agama Islam dengan sepenuh hati. Dengan selesainya penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga tersebut, maka berakhir pulalah rangkaian acara Grebeg Besar Demak.



Referensi

demakkab.go.id – masjid agung demak
oktavianiheni.blogspot.com – masjid agung demak : bangunan lintas jaman tak terlupakan
wisatasemarang.wordpress.com - Masjid Agung Demak
indotoplist.com – museum masjid agung demak
potlot-adventure.com - Riwayat Masjid Demak
g-excess.com – sejarah dan keistimewaan masjid demak