Thursday, February 4, 2010

Potret Kearifan Lokal Masjid Mali


Di pelosok Republik Mali (di Afrika Barat) masjid lumpur dan tanah liat lokal berukuran kecil merupakan pemandangan menakjubkan, khususnya bagi pecinta arsitektur. Mereka layaknya jaringan hidup yang tersisa dari arsitektur kuno.

Tipe arsitektur vernakuler tersebut rupanya masih jarang didokumentasikan. Meskipun banyak yang menyoroti dan mengangkat budaya Sudan, seperti UNESCO, dan beberapa pembuat film dan buku dokumenter, namun masih jarang yang menyentuh masjid-masjid lokal lumpur kecoklatan tanpa nama di desa-desa negara itu. Bahkan tidak pula turis, yang kadang melewati masjid-masjid kecil itu, sebelum melihat keindahan arsitektur masjid di Djenne dan Timbuktu.

Seorang siswa fotografi asal Eropa, Sebastian Schutyser, menemukan keindahan dan kesederhanaan masjid-masjid lumpur lokal tersebut saat melakukan perjalanan dengan sepeda keliling Sudan (kini Mali) selama 1996 hingga 1997. Mengetahui benar kurangnya dokumentasi terhadap arsitektur membumi itu, ia pun memutuskan untuk melakukan proyek fotografi mendalam.

Ia melakukan survey terhadap masjid khususnya di Delta Pedalaman Niger. Area ini merupakan pelabuhan bagi sejumlah besar masjid-masjid lokal--sekurangnya di 2.300 desa--dengan desain berbagai rupa. Menurut sejarah, area tersebut memainkan peranan penting dalam periode awal penyebaran Islam di Afrika Barat, demikan yang ditemukan oleh Sebastian dalam riset fotografinya.

Sebastian sendiri melakukan upaya keras lebih dari sekadar menambah stok perbendaharaan foto. Ia juga berusaha menangkap keaslian serta keindahan arsitektur yang dipandang sebelah mata tersebut. Dari hasil jepretannya, ia menemukan setiap masjid memiliki karakternya sendiri, ditentukan oleh morfologi dan permukaan struktur konstruksi bangunan.

Tipologi Masjid Lumpur Cerminan Kesederhanaan Lokal

Masjid-masjid di Afrika Barat merupakan deretan arsitektur masjid yang dianggap paling sesuai dan berhasil memenuhi standar arsitektur masjid yang diharapkan, terlepas dari sebagian besar tidak didirikan oleh arsitek, melainkan penduduk lokal. Di dalamnya terdapat kiblat yang ditandai oleh mihrab, menara masjid, interior dengan ruang utama  besar di batasi kolom-kolom, dan di saat yang sama, bentuk-bentuk tersebut menjadi penanda kuat era paska-Bizantium, awal kerajaan Islam.

Banyak pengama fotografer menganggap hasil karya Sebastian terlalu melebihkan dan menambah tampilan kualitas masjid sesungguhnya di sana. Terutama dari kesengajaan untuk meniadakan manusia dalam hasil jepretannya. Tapi langkah itu membuat orang lebih fokus terhadap material dan bentuk. Dua hal yang menjadikan desain masjid lokal terlihat unik, terutama sangat sesuai dengan konteks setempat, iklim gurun yang keras, dan budaya masyarakat, namun tetap mampu berfungsi seperti halnya masjid, yakni untuk bertemu dan beribadah.

Arsitektur masjid-masjid lumpur tersebut memang sangat terkait erat dengan arsitektur rakyat setempat. Materi-materi yang digunakan memiliki pertimbangan baik ekonomi dan kecocokan iklim yang luar biasa panas. Tanah liat dan lumpur dijadikan semen sekaligus plaster. Keterbatasan kayu serta harganya yang tinggi membuat penduduk menggunakan kayu palem sebagai penopang, kuda-kuda, sekaligus atap.

Dinding dibuat tebal dan menipis keatas, cara untuk mencegah ruang di dalam menjadi panas plus mendukung struktur dua lantai, serta atap. Selama siang, dinding tebal itu akan menyerap panas dari luar, sehingga menjaga interior tetap sejuk. Ketika malam, udara panas disimpan dinding merembes ke ruang menjadikan udara dalam masjid hangat meski perubahan suhu udara gurun ekstrim terjadi di luar.

Beberapa struktur yang ditemukan konstruksi-konstruksi masjid juga memiliki ventilasi atap dengan penutup keramik. Biasanya keramik penutup ini dibuat oleh kaum wanita dan dapat dipindahkan di malam hari untuk aliran udara ke dalam ruang

Kayu-kayu palem yang dijadikan penopang dalam konstruksi bangunan tidak sekedar berfungsi sebagai balok, melainkan penopang permanen bagi pekerja yang setiap tahun memlaster ulang masjid-masjid tersebut dengan lumpur kala ferstival musim panas. Kayu palem tersebut juga meminimalkan tegangan beban yang dipicu temperatur ekstrim dan perubahan drastis kelembaban udara. Ciri unik lain masjid lumpur lokal adalah menara sering kali diberi penutup ujung spiral dengan telur burung unta di atasnya, menyimbolkan kesuburan dan kemurnian.

Proyek Foto Masjid Mali

Proyek fotografi Sebastian dimulai pada 1998. Selama beberapa bulan ia berkelana dari satu desa ke desa lain dengan sepeda kayuh, dengan bantuan navigasi di atas pohon beserta peta berskala 1:200.000. Sebastian sendiri mengaku beruntung, area yang sebagian besar sulit diakses tersebut tak akan mungkin dimasuki tanpa bantuan warga setempat yang terkejut mendengar ia sedang mendokumentasikan masjid-masjid lokal milik mereka.

Dari 111 masjid yang ia jepret, ia memilih beberapa foto dan dicetak berukuran 94 x 120 cm untuk dipampang dalam pameran fotografi  Maison Europ√©enne de la Photographie di Paris.

Kemudian pada Oktober 2001 hingga Maret 2002, Sebastian melanjutkan proyeknya atas bantuan dana dari Aga Khan Trust for Culture. Selain dalam format berwarna, Sebastian sengaja selalu membidik objek juga dalam format hitam putih, sehingga ia praktis memiliki dua macam koleksi. Kini total ia memiliki 515 koleksi fotografi masjid penduduk lokal Mali.

Tujuan Sebastian membidik dalam format hitam putih ialah untuk menghasilkan atmosfir modern, dalam arsitektur kuno rakyat setempat. Ia meyakini cara itu mampu mengangkat masjid-masjid tersebut di permukaan. Ia berharap usahanya akan mendorong para pakar melakukan kajian yang sudah seharusnya dilakukan./berbagaisumber/itz



No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA