Kamis, 04 Februari 2010

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu


Masjid Sang Ciptarasa, Cirebon (foto dari ciptarasa.cerbon.net)

Masjid itu terlihat kukuh. Pagar tembok setebal 40 cm dan setinggi 1,5 m mengelilingi rapat-rapat. Warna merah bata yang memulas sekujur tembok membuat makin berwibawa saja. Ya, pagar itu merupakan bagian dari Masjid Keraton Kasepuhan Cirebon, Masjid Sang Ciptarasa. Di dalam pagar yang menyerupai benteng itu, berdiri kukuh masjid yang berdiri sejak tahun 1478 lampau.

Masjid itu didirikan seiring dengan berdirinya Keraton Kasepuhan. Tak heran jarak antara masjid dan keraton hanya terpisah oleh alun-alun kecil seukuran lapangan bola. Menurut sejumlah pengusur masjid, keaslian masjid masih terjaga. Atap menggunakan genteng warna hitam tanah. Sementara dinding masjid menggunakan bata merah setebal 40 cm.

"Bangunan lama masjid hanya di bagian dalam ukuran 20x20 m," kata Salehudin (57), salah satu pengurus masjid Kasepuhan kepada detikcom, Selasa (9/9/2008). Sulit diterima bila bagian inti masjid merupkan tempat ibadah. Sebab, kokohnya dinding lebih menyiratkan benteng kecil tempat persembunyian.

Untuk memasukinya, hanya ada satu pintu utama yang berukuran normal. Selebihnya, pintu samping kiri dan kanan sangat mungil, hanya berukuran 1  m x 80 cm. Sehingga, perlu merunduk untuk memasuki bagian inti masjid. "Saat penjajah kolonial masih bercokol, masjid ini memang sempat menjadi salah satu persembunyian," imbuh Salehudin.

Ada berbagai versi mengenai awal dibangunnya masjid ini. Di antaranya, menurut catatan Keraton Kasepuhan, yang mengacu pada candrasengkala, masjid tersebut dibangun pada "waspada panembahe yuganing ratu". Kalimat ini bermakna  2241, alias 1422 Saka, sezaman dengan 1500 Masehi. Menurut Kretabhumi, dibangun pada 1489 Masehi. Pemimpin proyeknya Sunan Kalijaga. Ia melibatkan 500 tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit.

Sunan Kalijaga tidak sendiri, ia dibantu Raden Sepat, arsitek dari Majapahit. Sepat adalah tawanan perang Demak-Majapahit, yang diboyong Sunan Gunung Jati, salah satu senopati Demak. Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar. Luasnya 400 meter persegi. Tempat pengimaman menghadap ke barat, miring 30 derajat arah barat laut. Arah ini diyakini warga sekitar masjid tepat menuju Masjidil Haram, Mekkah.

Masjid terbagi lima ruang, yaitu ruang utama, tiga serambi, dan ruang belakang. Ruang utama adalah bangunan masjid yang asli. Lantainya dari terakota tanah atau tembikar, berukuran 30 x 30 sentimeter. Serambi bagian selatan disebut bangsal prabayaksa, dalam bahasa Jawa kuno berarti ruang pertemuan.

Kini, setelah berabad-abad ditinggalkan sang pendiri, aura kebasaran masa lalu masih tercium kental. Kombinasi antara arsitektur masa lalu, pulasan warna yang berkarakter dan tata wilayah yang khas menunjukan daerah itu sebagai pusat  kota pada masa lalu. Selebihnya, masjid di Jl Jagasatru tersebut sangat sejuk, teduh dan cocok untuk mendekatkan diri pada ilahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA