Wednesday, February 3, 2010

Lautze, Masjid Ruko dengan Ornamen Klenteng


Jakarta - Jam menunjukkan pukul 10.30 pagi, suasana Pasar baru tampak lengang tak seperti biasanya. toko-toko baru beberapa ada yang menjajakan dagangannya. sebagai pusat perdagangan, Pasar Baru menyimpan pusat syiar Islam di kalangan masyarakat etnis Tionghoa. Ruko-ruko yang bergelimpangan dengan keuntungan yang menjanjikan, menjadikan Pasar Baru menjadi pusat bisnis perbelanjaan yang ada di Jakarta.

Namun di balik monumen-monumen keduniawian itu, persisnya di belakang Metro Pasar Baru ternyata masih tersisipkan sebuah domain spiritualitas. Namanya Masjid Lautze. Jangan bayangkan sebuah masjid gaya Arab atau Demak lengkap dengan menaranya. Masjid Lautze, bentuk fisiknya adalah sebuah ruko.

Sesuai dengan namanya, masjid ini terletak di Jalan Lautze 87 – 89, Jakarta. Saat awal berdirinya tahun 1991, masjid ini sekadar mengontrak ruko. Baru setelah tahun 1994, ruko itu dimiliki sendiri setelah sebelumnya dihibahkan oleh Wapres saat itu, BJ Habibie yang membelinya melalui PT Abdi Bangsa.

Pengelolaannya dilakukan oleh Yayasan Abdul Karim OEI. Nama ini mengambil nama tokoh msulim tionghoa yang juga pedagang sukses dan aktif dalam pergerakan nasional. Tahun 1995, yayasan kemudian membeli ruko di sebelahnya yang akhirnya disatukan dengan masjid lama. 

Sebagai tempat peribadatan muslim, Masjid Lautze memiliki ciri tersendiri. Ornamen-ornamen khas Cina yang menjadi kebudayaan asal pemeluknya tampak dominan dalam interiornya. Lihat saja pintu masjid, konsep pintunya serupa dengan pintu yang ada di klenteng atau vihara.
Bagian depan bangunan mesjid pun terkesan sangat oriental. Sementara di belakang mimbar, terdapat tergantung sepasang kaligrafi Arab ala Shu Fa atau kaligrafi Tionghoa asli buatan Beijing. untuk penyanggah masjid, tiang masjid berdiri dengan kokoh berwarna hijau serta 6 buah kipas angin untuk menyejukkan masjid.

Corak ornamen yang tak jauh beda dengan klenteng memang disengaja. “Masjid ini memiliki ornamen warna merah sesuai dengan etnis Tionghoa, maka masyarakat Cina tidak canggung untuk datang ke masjid ini.” tutur Hj. Anna Kirbrandiana, Sekretariat Yayasan Haji Karim OEI ditemui detikcom.

Masjid ini terdiri dari empat lantai. Lantai 1 & 2 pada mesjid dipergunakan sebagai tempat shalat khususnya shalat Jumat, untuk lantai 3 terdapat beberapa ruangan sebagai tempat sekretariat yayasan, serta tempat konsultasi agama serta bimbingan masuk Islam dan terdapat beberapa foto pendiri yayasan. sedangkan untuk lantai 4 dipergunakan sebagai ruang serba guna. ruang ini difungsikan pada saat bulan puasa seperti halnya buka puasa bersama, serta sebagai ruang tata cara pernikahan serta resepsi pernikahan.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Lautze  memang dipergunakan sebagai Pusat Informasi Islam khusus etnis Tionghoa. Saat ini, Masjid Lautze memiliki 3 cabang yakni, Tangerang, Bandung, dan Cirebon.

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA