Monday, December 21, 2009

Shalat di Masjid Agung Madiun

Dari Blognya Pak Gatot Widayanto

Assalamualaikum wr wb.

Ini masih melanjutkan cerita mengenai perjalanan ke kota Madiun pada tanggal 26 sd 29 November 2009 yang lalu. Kali ini saya sengaja membahas makna shalat berjamaah di masjid Baitul Hakim, Madiun. Pada tahun 2003, saat saya sedang bertugas di klien saya Semen Gresik, saya sempatkan mampir semalam di kota Madiun. Kalau tidak salah waktu itu tanggal 14 Desember 2003 siang hari saya sudah masuk Madiun dari perjalanan darat yang dimulai dari Surabaya. Begitu sampai Madiun, saya menaruh tas di hotel Merdeka dan kemudian jalan kaki menuju Masjid Agung. Trenyuh sekali saat itu karena sudah dua puluh lima tahun saya tak pernah shalat di masjid yang dulu merupakan tempat ibadah saya saat hidup di Madiun. Saat itu masjid dalam keadaan dipugar sehingga kondisinya tak teratur, namun tetap saja nikmat bagi saya.



Pada kunjungan tahun ini, saya mengunjungi Masjid Agung pada tanggal 27 November 2009 dini hari, tepatnya jam 3:45 untuk mengikuti shalat Subuh berjamaah. Sebelum tidur malam saya sempat cari info dari pihak hotel, jam berapa Subuh di Madiun. Saya kaget bahwa Subuh di Madiun jatuh pada jam 3:45 …hmmm pagi sekali…. Saya mulai hari dengan bangun jam 3:15. Jarak hotel ke masjid cukup jauh, sekitar 15 menit jalan kaki.

Saya nikmati betul berjalan kaki dari hotel, menyusuri Jl. Merapi, Jl Pandan hingga sampai Alun-Alun, terus menuju masjid Baitul Hakim yang terletak di Jl Alun-Alun Barat. Subhanallah! Nikmat sekali jalan pagi di Madiun, apalagi udara sejuk, sepi, belum ada kegiatan orang lalu-lalang. Sangat indah dan nuansamatik! Setiap langkah selalu saya barengi dengan dzikrullah. Mungkin bagi kebanyakan orang, shalat di masjid Agung Madiun tak memiliki kesan apa-apa. Lagian, shalat di sini tak ada pelipat gandaan luar-biasa seperti kalau shalat di Nabawi (Madinah) atau Masjidil Aqsha (Palestina) atau Masjidil Haram (Mekah).

Namun makna masjid Agung Madiun ini begitu mendalam bagi saya pribadi. Subhanallah! Di masjid inilah pondasi dasar tauhid saya dibangun meski saat itu saya tidak faham tauhid itu apa. Saat itu kegiatan ibadah saya berpa shalat Jumat dan tahajjud serta i’tikaf di masjid ini hanya bersifat “motorik” tanpa landasan iman yang kokoh. Artinya, saya melakukannya karena merupakan “kewajiban” dimana banyak orang juga melakukannya. Faktor ikut-ikutan juga tentu ada. Yang penting pokoknya saya beribadah, meski torehan tauhid belum mencokol kuat di hati saya.

Mencari Makna dari Sesuatu Yang Motorik

Sambil berjalan itulah saya “menemukan” dahzyatnya Islam yang selalu menekankan ibadah yang menggerakkan segenap badan seperti shalat dan mengucapkan kalimatullah melalui ucapan bibir. Memang Allah swt Maha Mendengar sehingga apa-apa yang dibatin dalam hati, Allah pun mendengar. Namun, dzikir dengan ucapan lirih lewat bibir ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Dari kegiatan-kegiatan ibadah motorik tersebut saya kemudian berpikir: “Buat apa sih jengkang-jengking shalat dan sujud mencium tanah segala?”.

Dari pertanyaan bodoh tersebut akhirnya saya menelusuri pemaknaan yang dalam bahasa Jowo nya “The Quest for Value” (mencari makna dari hal-hal yang kita kerjakan). Kira-kira beginilah alur pikirnya: Kenapa ya saya musti melakukan gerakan shalat? Apakah sekedar olah raga? Tapi kenapa pula musti Allah swt dilibatkan dalam olah raga? Betapa meruginya saya selama bertahun-tahun melakukan kegiatan motorik mulai dari mengambil air wudhu, shalat tahiyattul masjid, shalat qobliyah, shalat berjamaah dan kemudian sunnah ba’da fardhu (kecuali Subuh dan Ashar). Ah, saya gak mau rugi …!!! Kemudian, karena gak mau rugi, saya semakin mendalami tauhid, semakin mencoba mengenal “Siapa sih Tuhan itu???”.

Dari probing seperti ini saya menemukan bahwa betapa buwesaaaarnya Tuhan dan betapa Maha Kuasa nya Tuhan itu, sehingga kalau disuruh shalat dengan menggantungkan diri dengan pergelangan kaki diikat di atas dan kepala di bawah pun saya akan rela melakukannya karena betapa MAHA besarnya Dia. Untunglah Allah tidak neko-neko (maaf) menyuruh kita shalat dengan cara menggantungkan diri dengan kepala di bawah, kaki di atas. So, it’s really worth it doing shalat the way we are doing!!!! Lamunan sambil dzikir tersebut membawa saya mendekati gerbang utama masjid ….

Dada Berdegup

Begitu mendekati gerbang utama masjid dada saya berdegup karena masjid ini begitu dalam menorehkan tinta emas menanamkan nilai takwa ke hati saya saat remaja dulu. Subhanallah!!! Masjid masih sepi karena adzan baru saja dikumandangkan. Beberapa orang telah mulai berdatangan ke masjid, ada yang dari Jl Muria, maupun dari Jl Merbabu dimana Dawet Suronatan bercokol. Saya menuju areal wudhlu sebelah kiri dan hanya saya saja yang berwudhu di situ. Setelah mengambil air wudhu ada seseorang (mungkin penjaga masjid?) berada di dekat saya, baru bangun tidur, dan sepertinya mau mengambil air wudhu. Cukup kaget juga saya ditegur beliau lantaran saya melepas sandal di anak tangga tertinggi sebelum masuk masjid. Saya berkelit bahwa tak ada tulisan “Batas Suci” sehingga saya tak tahu. Dia jawabnya agak ketus, namun saya tidak ladeni karena ini adalah “batu ujian” bagi saya sehingga saya harus sabar. Akhirnya sandal memang saya pindahkan ke anak tangga ke bawah, meski saya merasa diperlakukan tidak adil – tak ada tulisan “Batas Suci” dan area itu BUKAN tempat shalat. Ya sudah lah …

Alhamdulillah … Saya bisa masuk di ruang utama dan berada di shaf terdepan. Tentu saja! Karena jamaah yang shalat subuh memang hanya SATU SHAF! Menyedihkan … Namun ya begitulah tantangannya. Dakwah akan pentingnya shalat BMW (berjamaah di masjid tepat waktu) harus digalakkan dan merupakan tanggung-jawan kita bersama.

Seusai shalat Subuh BMW, saya amati setiap sudut masjid dan ambil gambarnya. Begitu kuatnya memori saya mengingat kejadian masa lalu di masjid indah ini. Mulai dari tempat parkir sepeda, penjaga yang galak (terhadap anak kecil yang suka main2 di masjid) hingga tempat ngaji baca Quran waktu itu. Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan saya bertaubat hingga diberi umur hingga 49 tahun ….


Masjid ini sekarang begitu indah dan rapi sekali. Memang tak seindah masjid Nabawi namun nuansanya begitu kental Nabawi nya. Pilar-pilar masjid yang menjadi kenangan tersendiri (buat sandaran sambil tiduran saat masih kecil, ketika Khatib berkutbah) masih berdiri kokoh dan bersih. Bedug di halaman depan juga bagus dan terawat.

Setelah itu saya balik lagi ke hotel buat istirahat sejenak dan selanjutnya akan ikut shalat Ied di masjid ini.Namun sayang, saya telat ikut shalat Ied karena saya pikir mulainya jam 7:00, tapi ternyata jam 6:30 sudah shalat. Meski telat, saya masih bisa mengikuti kutbah. Setelah usai acara kutbah, saya masih bisa mengikuti upacara penyerahan sapi kurban oleh Bapak Walikota Madiun kepada pengurus masjid. Saya shalat lagi di masjid ini pada hari berikutnya, 28 Novenber 2009 pada shalat Subuh BMW juga.

Sebuah perjalanan menyenangkan yang tak kan pernah saya lupakan. Di masjid inilah landasan tauhid saya dibentuk meski saya belum tahu tauhid itu apa …

Long live Masjid Baitul Hakim Madiun!!!!

Wass,

G

No comments:

Post a Comment

Dilarang berkomentar berbau SARA