Monday, December 21, 2009

Israel Sudah Menghancurlan 1000 Masjid

Sejak menjajah bumi Palestina, Israel telah menghancurkan lebih dari 1000 tempat suci umat Islam

Hidayatullah.com— Kejahatan terbaru tentara Yahudi-Israel yang melakukan usaha pembakaran Al-Quran dan Masjid di Desa Yasuf, dekat Distrik Selfit, menuai kecaman berbagai pihak.

Menteri Urusan Wakaf Otorita Palestina, Mahmoud Al-Habash mengecam aksi penyerangan dan pembakaran masjid tersebut. Ia mengatakan, ketidakpedulian masyarakat dunia akan kebejatan Zionis-Israel dan penistaan rezim ini terhadap tempat-tempat suci Islam, membuat Tel Aviv kian bersikap rasialis di kawasan ini.

Mahmoud Al-Habash menegaskan, sejak menjajah bumi Palestina, Israel telah menghancurkan lebih dari 1000 tempat suci umat Islam.

"Sejak deklarasi Zionis Israel di Palestina pendudukan, tentara dan pemukim Yahudi Zionis menghancurkan sekitar seribu masjid," ujarnya.

Namun penistaan terhadap tempat-tempat suci Islam ini bukanlah hal yang baru. Semenjak munculnya rezim ilegal Israel di wilayah Palestina, Masjid Al-Aqsa yang menjadi tempat kiblat pertama umat Islam, seringkali menjadi sasaran serangan militer dan pemukim brutal Yahudi Zionis.

Tahun 1969, sekelompok radikal Zionis yang dipimpin Michael Rauhan, melakukan tindakan teroris yang dikoordinasi dengan membakar Masjid Al-Aqsa. Akibat pembakaran itu, bagian-bagian penting masjid kiblat pertama umat Islam itu mengalami rusak parah.

Pada tanggal 11 April 1982, seorang tentara Israel yang bernama Allan Goodman menyerang Masjid Al-Aqsa, menggugurkan puluhan warga Palestina yang tengah mengerjakan shalat, dan mencederai lebih dari 60 warga.

Pemukiman

Sementara itu, bersamaan dengan dukungan Tel Aviv terhadap berlanjutnya pembangunan permukiman Israel di Palestina, tentara dan pemukim Zionis-Israel mulai kian brutal dengan menistakan tempat-tempat sakral Islam, khususnya Masjid Al-Aqsa.

Sumber-sumber pemberitaan Palestina melaporkan, dua tentara Israel, Ahad sore (13/12) berusaha masuk ke wilayah kawasan Masjid Al-Aqsa, tempat kiblat pertama umat Islam. Namun upaya itu dilakukan dengan cara paksa, yang akhirnya mendapat reaksi dari para penjaga masjid. Karena dilarang masuk, kedua tentara Israel itu memukuli seorang penjaga masjid dengan pukulan bertubi-tubi.

Masih terkait dengan arogansi tentara Israel, militer rezim ini dalam surat pemanggilannya baru-baru ini meminta imam shalat jamaah Masjid Al-Aqsa, Hatem Abdul Qader dan Syeikh Iqrimah Shobri supaya berkomitmen atas instruksi militer Israel yang melarangnya untuk masuk ke Masjid Al-Aqsa selama enam bulan.

Meski militer Zionis mengumumkan larangan untuk masuk ke Masjid Al-Aqsa, Abdul Qadir, Jumat lalu tetap melakukan shalat Jumat di masjid kiblat pertama umat Islam tersebut. Lebih dari itu, Abdul Qadir menyatakan tidak khawatir akan dampak-dampak penentangan terhadap instruksi militer Zionis Israel.

Abdul Qader juga menyebut keputusan para pejabat Israel sebagai tindakan ilegal dan arogan. "Siapapun tidak berhak menghalangi dirinya untuk beribadah di masjid ini," ujarnya. [irb/cha/www.hidayatullah.com]

Shalat di Masjid Agung Madiun

Dari Blognya Pak Gatot Widayanto

Assalamualaikum wr wb.

Ini masih melanjutkan cerita mengenai perjalanan ke kota Madiun pada tanggal 26 sd 29 November 2009 yang lalu. Kali ini saya sengaja membahas makna shalat berjamaah di masjid Baitul Hakim, Madiun. Pada tahun 2003, saat saya sedang bertugas di klien saya Semen Gresik, saya sempatkan mampir semalam di kota Madiun. Kalau tidak salah waktu itu tanggal 14 Desember 2003 siang hari saya sudah masuk Madiun dari perjalanan darat yang dimulai dari Surabaya. Begitu sampai Madiun, saya menaruh tas di hotel Merdeka dan kemudian jalan kaki menuju Masjid Agung. Trenyuh sekali saat itu karena sudah dua puluh lima tahun saya tak pernah shalat di masjid yang dulu merupakan tempat ibadah saya saat hidup di Madiun. Saat itu masjid dalam keadaan dipugar sehingga kondisinya tak teratur, namun tetap saja nikmat bagi saya.



Pada kunjungan tahun ini, saya mengunjungi Masjid Agung pada tanggal 27 November 2009 dini hari, tepatnya jam 3:45 untuk mengikuti shalat Subuh berjamaah. Sebelum tidur malam saya sempat cari info dari pihak hotel, jam berapa Subuh di Madiun. Saya kaget bahwa Subuh di Madiun jatuh pada jam 3:45 …hmmm pagi sekali…. Saya mulai hari dengan bangun jam 3:15. Jarak hotel ke masjid cukup jauh, sekitar 15 menit jalan kaki.

Saya nikmati betul berjalan kaki dari hotel, menyusuri Jl. Merapi, Jl Pandan hingga sampai Alun-Alun, terus menuju masjid Baitul Hakim yang terletak di Jl Alun-Alun Barat. Subhanallah! Nikmat sekali jalan pagi di Madiun, apalagi udara sejuk, sepi, belum ada kegiatan orang lalu-lalang. Sangat indah dan nuansamatik! Setiap langkah selalu saya barengi dengan dzikrullah. Mungkin bagi kebanyakan orang, shalat di masjid Agung Madiun tak memiliki kesan apa-apa. Lagian, shalat di sini tak ada pelipat gandaan luar-biasa seperti kalau shalat di Nabawi (Madinah) atau Masjidil Aqsha (Palestina) atau Masjidil Haram (Mekah).

Namun makna masjid Agung Madiun ini begitu mendalam bagi saya pribadi. Subhanallah! Di masjid inilah pondasi dasar tauhid saya dibangun meski saat itu saya tidak faham tauhid itu apa. Saat itu kegiatan ibadah saya berpa shalat Jumat dan tahajjud serta i’tikaf di masjid ini hanya bersifat “motorik” tanpa landasan iman yang kokoh. Artinya, saya melakukannya karena merupakan “kewajiban” dimana banyak orang juga melakukannya. Faktor ikut-ikutan juga tentu ada. Yang penting pokoknya saya beribadah, meski torehan tauhid belum mencokol kuat di hati saya.

Mencari Makna dari Sesuatu Yang Motorik

Sambil berjalan itulah saya “menemukan” dahzyatnya Islam yang selalu menekankan ibadah yang menggerakkan segenap badan seperti shalat dan mengucapkan kalimatullah melalui ucapan bibir. Memang Allah swt Maha Mendengar sehingga apa-apa yang dibatin dalam hati, Allah pun mendengar. Namun, dzikir dengan ucapan lirih lewat bibir ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Dari kegiatan-kegiatan ibadah motorik tersebut saya kemudian berpikir: “Buat apa sih jengkang-jengking shalat dan sujud mencium tanah segala?”.

Dari pertanyaan bodoh tersebut akhirnya saya menelusuri pemaknaan yang dalam bahasa Jowo nya “The Quest for Value” (mencari makna dari hal-hal yang kita kerjakan). Kira-kira beginilah alur pikirnya: Kenapa ya saya musti melakukan gerakan shalat? Apakah sekedar olah raga? Tapi kenapa pula musti Allah swt dilibatkan dalam olah raga? Betapa meruginya saya selama bertahun-tahun melakukan kegiatan motorik mulai dari mengambil air wudhu, shalat tahiyattul masjid, shalat qobliyah, shalat berjamaah dan kemudian sunnah ba’da fardhu (kecuali Subuh dan Ashar). Ah, saya gak mau rugi …!!! Kemudian, karena gak mau rugi, saya semakin mendalami tauhid, semakin mencoba mengenal “Siapa sih Tuhan itu???”.

Dari probing seperti ini saya menemukan bahwa betapa buwesaaaarnya Tuhan dan betapa Maha Kuasa nya Tuhan itu, sehingga kalau disuruh shalat dengan menggantungkan diri dengan pergelangan kaki diikat di atas dan kepala di bawah pun saya akan rela melakukannya karena betapa MAHA besarnya Dia. Untunglah Allah tidak neko-neko (maaf) menyuruh kita shalat dengan cara menggantungkan diri dengan kepala di bawah, kaki di atas. So, it’s really worth it doing shalat the way we are doing!!!! Lamunan sambil dzikir tersebut membawa saya mendekati gerbang utama masjid ….

Dada Berdegup

Begitu mendekati gerbang utama masjid dada saya berdegup karena masjid ini begitu dalam menorehkan tinta emas menanamkan nilai takwa ke hati saya saat remaja dulu. Subhanallah!!! Masjid masih sepi karena adzan baru saja dikumandangkan. Beberapa orang telah mulai berdatangan ke masjid, ada yang dari Jl Muria, maupun dari Jl Merbabu dimana Dawet Suronatan bercokol. Saya menuju areal wudhlu sebelah kiri dan hanya saya saja yang berwudhu di situ. Setelah mengambil air wudhu ada seseorang (mungkin penjaga masjid?) berada di dekat saya, baru bangun tidur, dan sepertinya mau mengambil air wudhu. Cukup kaget juga saya ditegur beliau lantaran saya melepas sandal di anak tangga tertinggi sebelum masuk masjid. Saya berkelit bahwa tak ada tulisan “Batas Suci” sehingga saya tak tahu. Dia jawabnya agak ketus, namun saya tidak ladeni karena ini adalah “batu ujian” bagi saya sehingga saya harus sabar. Akhirnya sandal memang saya pindahkan ke anak tangga ke bawah, meski saya merasa diperlakukan tidak adil – tak ada tulisan “Batas Suci” dan area itu BUKAN tempat shalat. Ya sudah lah …

Alhamdulillah … Saya bisa masuk di ruang utama dan berada di shaf terdepan. Tentu saja! Karena jamaah yang shalat subuh memang hanya SATU SHAF! Menyedihkan … Namun ya begitulah tantangannya. Dakwah akan pentingnya shalat BMW (berjamaah di masjid tepat waktu) harus digalakkan dan merupakan tanggung-jawan kita bersama.

Seusai shalat Subuh BMW, saya amati setiap sudut masjid dan ambil gambarnya. Begitu kuatnya memori saya mengingat kejadian masa lalu di masjid indah ini. Mulai dari tempat parkir sepeda, penjaga yang galak (terhadap anak kecil yang suka main2 di masjid) hingga tempat ngaji baca Quran waktu itu. Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan saya bertaubat hingga diberi umur hingga 49 tahun ….


Masjid ini sekarang begitu indah dan rapi sekali. Memang tak seindah masjid Nabawi namun nuansanya begitu kental Nabawi nya. Pilar-pilar masjid yang menjadi kenangan tersendiri (buat sandaran sambil tiduran saat masih kecil, ketika Khatib berkutbah) masih berdiri kokoh dan bersih. Bedug di halaman depan juga bagus dan terawat.

Setelah itu saya balik lagi ke hotel buat istirahat sejenak dan selanjutnya akan ikut shalat Ied di masjid ini.Namun sayang, saya telat ikut shalat Ied karena saya pikir mulainya jam 7:00, tapi ternyata jam 6:30 sudah shalat. Meski telat, saya masih bisa mengikuti kutbah. Setelah usai acara kutbah, saya masih bisa mengikuti upacara penyerahan sapi kurban oleh Bapak Walikota Madiun kepada pengurus masjid. Saya shalat lagi di masjid ini pada hari berikutnya, 28 Novenber 2009 pada shalat Subuh BMW juga.

Sebuah perjalanan menyenangkan yang tak kan pernah saya lupakan. Di masjid inilah landasan tauhid saya dibentuk meski saya belum tahu tauhid itu apa …

Long live Masjid Baitul Hakim Madiun!!!!

Wass,

G

Sunday, December 20, 2009

PBB: Pelarangan Menara Masjid Diskriminatif

NEW YORK--Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Senin mencela hasil penghitungan suara di Swiss yang melarang pembangunan menara-menara baru tempat ajakan shalat bagi kaum Muslim dikumandangkan.

Pelarangan tersebut, ditegaskan Pelapor Khusus PBB untuk masalah kebebasan beragama atau kepercayaan, Asma Jahangir, jelas-jelas merupakan diskriminasi terhadap para penganut agama Islam.

"Saya sangat menyayangkan konsekuensi negatif yang akan ditimbulkan oleh hasil pemungutan suara kebebasan beragama atau kepercayaan para anggota masyarakat muslim di Swiss," kata Asma Jahangir dalam pernyataan yang disiarkan oleh Markas Besar PBB, New York, Senin.


Di Swiss, sebuah referendum berupa pelarangan menara mesjid baru yang disponsori oleh partai terbesar di negara itu, Partai Rakyat Swiss (SVP), berhasil disahkan setelah didukung oleh sebagian besar pemberi suara.

Pelarangan melalui referendum itu terwujud setelah tercapainya 100.000 tanda tangan yang dikumpulkan dalam waktu 18 bulan dari para pemilih yang sah.

"Pelarangan pembangunan menara-menara itu sama dengan pembatasan yang tak pantas terhadap kebebasan beragama dan jelas merupakan diskriminasi terhadap para anggota masyarakat Muslim di Swiss," tegasnya.

Jahangir menuturkan bahwa Komite Hak Asasi Manusia PBB pada bulan lalu juga telah menyatakan bahwa pelarangan itu bertentangan dengan kewajiban yang harus dijalankan Swiss dalam menegakkan HAM sesuai dengan hukum internasional yang berlaku.

"Pemungutan suara ini memperingatkan kepada kita bahwa tidak ada masyarakat yang bebas dari sikap yang tidak toleran terhadap kebebasan beragama," cetusnya.

Karena itu, ujarnya, dunia harus meningkatkan pemahaman dan mendidik masyarakat tentang keragaman agama agar mereka dapat bersikap toleran terhadap kepercayaan yang dianut masyarakat lainnya.

Jahangir percaya bahwa upaya itu dapat menghapus kecenderungan yang disebutnya sebagai "ketakutan-ketakutan yang tidak masuk akal terhadap kaum Muslim, yang di Swiss sudah dieksploitasi untuk kepentingan politis".

Pelapor Khusus bagi Dewan HAM PBB itu mendesak pihak-pihak berwenang di Swiss --negara yang sudah meratifikasi Perjanjian Internasional tentang Hak Politik dan Sipil-- untuk secara penuh melindungi hak kebebasan beragama bagi masyarakat Muslim. ant/ahi

Source : republika

Masjid Kotagede, Masjid Tertua di Yogyakarta

Parit berair jernih mengelilingi masjid

Berkelana ke Kotagede tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Masjid Kotagede, bangunan tempat ibadah islam yang tertua di Yogyakarta. Bangunan itu merupakan tempat yang seringkali hanya dilewati ketika wisatawan hendak menuju kompleks pemakaman raja Mataram, padahal pesona bangunannya tak kalah menarik. Tentu, banyak pula cerita yang ada pada setiap piranti di masjid yang berdiri sekitar tahun 1640-an ini.

Sebelum memasuki kompleks masjid, akan ditemui sebuah pohon beringin yang konon usianya sudah ratusan tahun. Pohon itu tumbuh di lokasi yang kini dimanfaatkan untuk tempat parkir. Karena usianya yang tua, penduduk setempat menamainya "Wringin Sepuh" dan menganggapnya mendatangkan berkah. Keinginan seseorang, menurut cerita, akan terpenuhi bila mau bertapa di bawah pohon tersebut hingga mendapatkan dua lembar daun jatuh, satu tertelungkup dan satu lagi terentang. 

Berjalan mendekat ke arah kompleks masjid, akan ditemui sebuah gapura yang berbentuk paduraksa. Persis di bagian depan gapura, akan ditemui sebuah tembok berbentuk huruf L. Pada tembok itu terpahat beberapa gambar yang merupakan lambang kerajaan. Bentuk paduraksa dan tembok L itu adalah wujud toleransi Sultan Agung pada warga yang ikut membangun masjid yang masih memeluk agama Hindu dan Budha.

Masjid Kota Gede

Memasuki halaman masjid, akan ditemui sebuah prasasti yang berwarna hijau. Prasasti bertinggi 3 meter itu merupakan pertanda bahwa Paku Buwono pernah merenovasi masjid ini. Bagian dasar prasasti berbentuk bujur sangkar dan di bagian puncaknya terdapat mahkota lambang Kasunanan surakarta. Sebuah jam diletakkan di sisi selatan prasasti sebagai acuan waktu sholat.

Adanya prasasti itu membuktikan bahwa masjid Kotagede mengalami dua tahap pembangunan. Tahap pertama yang dibangun pada masa Sultan Agung hanya merupakan bangunan inti masjid yang berukuran kecil. Karena kecilnya, masjid itu dulunya disebut Langgar. Bangunan kedua dibangun oleh raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Perbedaan bagian masjid yang dibangun oleh Sultan Agung dan Paku Buwono X ada pada tiangnya. Bagian yang dibangun Sultan agung tiangnya berbahan kayu sedangkan yang dibangun Paku Buwono tiangnya berbahan besi.

Bangunan inti masjid merupakan bangunan Jawa berbentuk limasan. Cirinya dapat dilihat pada atap yang berbentuk limas dan ruangan yang terbagi dua, yaitu inti dan serambi. 

Sebuah parit yang mengelilingi masjid akan dijumpai sebelum memasuki bangunan inti masjid. Parit itu di masa lalu digunakan sebagai saluran drainase setelah air digunakan wudlu di sebelah utara masjid. Kini, warga setempat memperbaiki parit dengan memasang porselen di bagian dasar parit dan menggunakannya sebagai tempat memelihara ikan. Untuk memudahkan warga yang ingin beribadah, dibuat sebuah jembatan kecil yang terbuat dari kayu-kayu yang disusun berderet.

Pada bagian luar inti masjid terdapat bedug tua yang bersebelahan dengan kentongan. Bedug yang usianya tak kalah tua dengan masjidnya itu merupakan hadiah dari seseorang bernama Nyai Pringgit yang berasal dari desa Dondong, wilayah di Kabupaten Kulon Progo. Atas jasanya memberikan bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak untuk menempati wilayah sekitar masjid yang kemudian dinamai Dondongan. Sementara bedug pemberiannya, hingga kini masih dibunyikan sebagai penanda waktu sholat.

Bedug tua Masjid Kotagede
Sebuah mimbar untuk berkhotbah yang terbuat dari bahan kayu yang diukir indah dapat dijumpai di bagian dalam masjid, sebelah tempat imam memimpin sholat. Mimbar itu juga merupakan pemberian. Saat Sultan Agung menunaikan ibadah haji, ia mampir ke Palembang untuk menjenguk salah satu adipati di tempat itu. Sebagai penghargaannya, adipati Palembang memberikan mimbar tersebut. Mimbar itu kini jarang digunakan karena sengaja dijaga agar tidak rusak. Sebagai pengganti mimbar itu, warga setempat menggunakan mimbar kecil untuk kepentingan ibadah sehari-hari.

Berjalan mengelilingi halaman masjid, akan dijumpai perbedaan pada tembok yang mengelilingi bangunan masjid. Tembok bagian kiri terdiri dari batu bata yang ukurannya lebih besar, warna yang lebih merah, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara Jawa. Sementara tembok yang lain memiliki batu bata berwarna agak muda, ukuran lebih kecil, dan polos. 

Tembok tua masjid Kotagede

Tembok yang ada di kiri masjid itulah yang dibangun pada masa Sultan agung, sementara tembok yang lain merupakan hasil renovasi Paku Buwono X. Tembok yang dibangun pada masa Sultan agung berperekat air aren yang dapat membatu sehingga lebih kuat.Masjid yang usianya telah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hidup. 

Warga setempat masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang saat waktu sholat, akan dilihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat, banyak warga yang menggunakan masjid untuk tempat berkomunikasi, belajar Al Qur'an, dan lain-lain.

source : yogyes.com
-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya



Wednesday, December 16, 2009

Israel Kelilingi Al-Aqsha dengan Penggalian Terowongan


Lembaga Wakaf dan Warisan Masjid Al-Aqsha mengabarkan (14/12) bahwa pemerintah pendudukan Israel terus meningkatkan operasi pengeboran bagian bawah kota yang diduduki oleh Yahudi untuk pembentukan pemukiman.

Dalam keterangannya, Lembaga Wakaf dan Warisan Masjid Al-Aqsha menyatakan,"Sesungguhnya penggalian dan pendirian bangunan serta kebijakan pembuatan terowongan dimaksudkan untuk mengisolasi Masjid Al-Aqsha dan melingkarinya dengan penggalian terowongan-terowongan"

"Puluhan pekerja melakukan penggalian dari pagi hingga Maghrib di daerah bagian atas Wadi Hulwah, sebuah kawasan di kota Silwan” jelas Lembaga Wakaf.

Lembaga ini juga menambahkan, hampir semua lini yang ada di sekitar masjid Al-Aqsha sudah dikelilingi oleh dinding-dinding dan lembaran besi panjang, ditutupi dengan beberapa daerah pengeboran plastik, menunjukkan penggalian yang dilakukan atas perintah Yahudi yang berada di kota Silwan.

Lembaga tersebut kembali memperjelas bahwa penggalian tersebut hanya beberapa puluh meter dari Masjid Al-Aqsha, dan semakin hari akan semakin di tingkatkan penggalianya hingga mencapai kedalaman 10 meter, sampai ke area Masjid Al-Aqsha. (sn/alj/jey)
Dari : eramuslim

Koperasi Masjid Cibubur Jadi Percontohan Koperasi Syariah

(Kominfo-Newsroom) - Koperasi Jasa Keuangan (KJK) Baitul Mal Wat Tamwil Darussalam Madani (BMT-DM) Kota Wisata, Cibubur, akan menjadi proyek percontohan koperasi syariah yang sukses.

Koperasi BMT-DM itu didirikan pada 9 September 2007 yang diprakarsai Badan Pengelola Masjid Darussalam Kota Wisata Cibubur dengan modal awal sekitar Rp 185 juta.

Anggotanya adalah pengurus masjid dan pegadang di Fresh Market Cibubur. Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Negara Koperasi dan UKM, Agus Muharram di Jakarta, Rabu (16/12) mengatakan, Kemenkop akan mendorong KJK BMT DM ini menjadi percontohan dan diarahkan untuk mendapatkan bantuan permodalan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB)-KUMKM.

"KJK BMT-DM berkembang pesat sebagai salah satu koperasi berbasis syariah di Indonesia, di mana hanya dalam waktu dua tahun mampu mengembangkan asetnya hingga Rp 2,28 miliar," katanya.

Dijelaskan, dalam waktu dua tahun, koperasi itu mampu menghimpun anggota hingga 500 orang, dan mampu membeli gedung di kawasan itu sebagai kantornya.

Selain itu, BMT DM juga telah menggunakan standar operasi secara on-line terkomputerisasi sehingga seluruh anggotanya terintegrasi dengan kartu anggota yang on-line, layaknya kartu ATM perbankan.

Dengan fakta seperti itu, menurut Agus, koperasi tersebut dinilai sangat layak menjadi proyek percontohan koperasi syariah, apalagi lagi koperasi itu memiliki tingkat kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) yang hampir nol persen.

Sementara itu Ketua Dewan Pengurus BMT DM, Imam Prakoso, mengatakan, pihaknya ingin memperkenalkan niat dan upaya untuk memberdayakan kaum dhuafa, usaha kecil dan menengah (UKM), dan seluruh pemangku kepentingan melalui Koperasi Jasa Keuangan Syariah yang berbasiskan Masjid.

Imam mengungkapkan bahwa aktivitas utama usaha koperasinya didasarkan pada prinsip syariah, yaitu setiap transaksi menggunakan akad-akad syariah yang disahkan oleh DSN-MUI atau minimal oleh ulama/ustadz setempat.

BMT DM, katanya, melakukan sejumlah aktivitas, yakni penghimpunan dana melalui tabungan dan simpanan jangka panjang dengan prinsip wadiah (titipan) dan mudharabah (hasil usaha), penyaluran dana pembiayaan, jual beli, kerja sama dalam pemberian modal kerja usaha dan sewa.

Juga kegiatan menempatkan dana pada lembaga sejenis atau bank, serta pengelolaan pembayaran listrik, telepon, PAM, dan pembayaran gaji guru.

Koperasi itu memberikan kesempatan akses pembiayaan mulai dari Rp 500.000-Rp 20 juta dengan jangka waktu pembiayaan 1-24 bulan melalui sistem bayar angsuran harian, mingguan, dan bulanan. (T.Dw/ysoel)

Ikunjungi situs Baitul Mal Wat Tamwil Darussalam Madani di : http://bmtdm.com/main/

Senja di Masjid Sultan Abu Bakar Johor Bahru


Masjid Sultan Abu Bakar, Bandaraya Johor Bahru, Malaysia

Urusan kantor di Johor Bahru, Negeri Johor Darul Takzim, Malaysia, kelar menjelang ashar. Berdua dengan temanku yang pernah lama tinggal disana sepakat meminta sopir taksi mengantar kami ke masjid terdekat untuk sholat ashar. Kontan saja Supir taksi menawarkan untuk mengantar kami ke pusat Bandaraya Johor Bahru, sekalian pelesir disana katanya.

Dia mengantarkan kami ke Masjid Sultan Abu Bakar di pusat Bandar. Bangunan masjid yang begitu indah meskipun umurnya “terlihat sudah sangat tua” berlokasi di sebuah bukit berdampingan dengan bandar Johor Baru dan mempunyai pemandangan indah Selat Johor menghadap langsung ke Singapura tempat dimana ibukota kerajaan Johor pertama kali berada. Bang supir tak tahu persis kapan masjid itu di bangun dia hanya tahu, masjid nan indah itu dibangun oleh Sultan Abu Bakar raja Johor yang begitu termasyur sebagai “Bapak Johor Modern”

Masjid bergaya Eropa dengan sentuhan Melayu itu tampak sekali terawat dengan baik. Hal yang patut di acungi jempol kepada pemerintah setempat atas perhatian yang luar biasa terhadap peninggalan kejayaan masa lalu. Masuk ke sana serasa terlempar ke masa lalu dimasa ke emasan kerajaan Johor masa lalu.

Bagian dalam masjid mengingatkanku pada photo photo interior masjidil Aqso di Palestina. Lengkap dengan ornamen yang terpasang di pilar pilar masjid. Bentuknya yang memanjang, pilar yang berderet dari arah pintu masuk hingga ke mimbar. Di pintu masuk ke ruang sholat utama terdapat cawan antik kuningan yang aku sendiri tak pasti kegunaannya untuk apa. Tak ada apapun yang diletakkan di tempat itu. Beberapa sumber mengatakan cawan itu dimasa lalu dipakai untuk meletakkan kemenyan wangi untuk pengharum ruangan. Kini masih di tempatkan ditempatnya meskipun tak lagi di fungsikan.

Hasil pencarian di google memberi informasi bahwa masjid Sultan Abu Bakar dibangun dibangun Oleh Sultan Abu Bakar di tahun 1892 hingga 1900. peletakan batu pertama dilaksanakan pada 1 Muharam 1310 H (26 Juli 1892) dan baru mulai dilaksankan pembangunan setahun kemudian (1311H/1893M) proses pembangunan memakan waktu 8 tahun. Diresmikan pemakaiannya oleh Sultan Ibrahim (putera dari Sultan Abu Bakar) pada 1 Syawal 1319H / 2 Februari 1900) dimulai dengan Sholat Jum’at. Peresmian itu turut dihadiri Menteri Besar Johor Dato Ja’far Bin Haji Muhammad. Keseluruhan pembangunan masjid menelan biaya 400 ribu ringgit kala itu.

Ba’da sholat asyar kami masih punya sedikit waktu untuk menikmati keindahan “masjid tua terindah di Malaysia” itu dibawah cahaya langit senja yang perlahan lahan turun sebelum kami harus bergegas kembali ke hotel lalu ngebut ke bandara senai mengejar penerbangan terahir kembali ke Jakarta.

Tersisa harapan suatu hari nanti berkesempatan untuk kembali kesana.

-----------------------

Baca Juga Artikel Masjid Malaysia Lain-nya




Tuesday, December 15, 2009

Swiss, Negeri Netral yang tidak Netral

Swiss yang sekian lama terkenal sebagai negeri netral, saking netralnya bahkan tak bergabung dengan blok manapun dimasa perang dingin, baik blok barat, blok timur bahkan tak bergabung dengan blok ke 3 “negara non blok”.

Tapi gelar swiss sebagai negara netral mendadak hilang manakala berhadapan dengan Islam. Bahkan belum berhadapan dengan Islam secara keseluruhan, tapi baru bersentuhan dengan Menara Masjid yang menjadi simbol tempat ibadah Ummat Islam.

Dalam referandum yang dilaksanakan bulan November 2009 lalu menghasilkan keputusan yang mengejutkan dunia. Dari 2.67 juta pemilih Swiss 57.5% menyatakan setuju atas prakarsa pelarangan pembangunan menara bagi masjid baru di negeri itu. Hanya 4 canton (negara bagian) yang menolak prakarsa dimaksud dari total 26 canton.

Sepertinya propaganda yang dibuat oleh pemrakarsa pelarangan menara masjid itu benar benar ampuh membius para pemilih swiss untuk menggolkan amandemen konstitusi untuk melarang pembangungan menara bagi masjid masjid baru di Swiss setelah selama ini masjid masjid disana dilarang mengumandangkan azan keluar masjid. Padahal hasil poling sebelum penyelenggaraan referandum tersebut menunjukkan hanya 37% responden saja yang menyetujui prakarsa dimaksud.

Partai Nasional Rakyat Swiss, partai terbesar di parlemen swiss yang berada di belakang prakarsa pelarangan menara masjid itu mendorong penyelenggaraan referandum nasional setelah memberikan label negatif kepada menara masjid sebagai simbol dari Islam militan. Dalam kampanye yang lain mereka menyebutkan bahwa menara masjid merupakan symbol kekuatan politik.

Dengan tegas Walter Wobmann, presiden dari panitia penyelenggara mengatakan bahwa prakarsa tersebut tidak berupaya menghentikan siapapun menjalankan agamanya tapi untuk menghentikan politik Islam dan Islamisasi Swiss lebih lanjut. Para pendukung prakarsa pelarangan menara masjid di swiss menyatakan bahwa dengan mengizinkan pembangunan menara masjid akan merepresentasikan perkembangan ideologi dan sistem hukum syariah islam, yang mereka sebut tidak cocok dengan demokrasi swiss.

Dengan referandum ini mendudukkan Swiss sebagai negara Eropa pertama yang menyelenggarakan referandum terkait dengan Islam. Berbagai pihak termasuk amnesty Internasioanl mengecam keputusan itu dengan menyebutnya sebagai pelanggaran atas hak asasi manusia. Tapi semua kecaman itu sama sekali tak mengubah keadaaan.

Saat ini di swiss terdapat setidaknya 400 ribu muslim atau setara dengan 5% dari total populasi Swiss, sebagian besar merupakan warga migran dari semenanjung Balkan termasuk Kosovo, Albania dan Bosnia. Dari total 150 bangunan masjid dan mushola yang ada di swis saat ini hanya 4 saja yang memiliki menara.

Dengan fakta itu, kini gelar swiss sebagai negeri netral sepertinya sudah tak berlaku lagi.